fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


5 Ramadhan 1442  |  Sabtu 17 April 2021

Suku Bunga Bank & BI Rate Sulit Disinkronkan

Suku Bunga Bank & BI Rate Sulit DisinkronkanFiqhislam.com - Suku bunga perbankan memang sulit disinkronkan dengan BI Rate. Hal tersebut diakui oleh Direktur Direktorat Penelitian dan Perbankan BI Wimboh Santoso yang menyatakan bahwa penurunan BI Rate direspons lambat oleh bank dengan penurunan Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK). Namun, jika BI Rate dinaikkan responsnya justru cepat yaitu dengan segera menaikkan SBDK-nya.

"Hasil analisis kita, setiap penurunan BI Rate, itu memang kalau turun diikutin, ikutinnya pelan dan lambat. Kalau naik (BI Rate) itu cepat. Itu sudah tidak rahasia lagi. Makanya ini yang mau kita coba, karena tugas kita," katanya.

Melihat adanya spread (jarak) yang besar antara suku bunga kredit dengan suku bunga acuan inilah, Bank Sentral kemudian mengumpulkan bank-bank untuk melakukan kajian tentang ini. Menurut Wimboh, pihaknya telah meyakinkan bank-bank di Tanah Air bahwa menurunkan tingkat SBDK, bukan berarti harus menurunkan pendapatan bank.

"Kita ingin perbankan bisa memberikan kredit dengan suku bunga yang lebih murah. (Dengan begini) otomatis nasabah datang. Dengan nasabah datang, volume yang kita handle lebih banyak sehingga bisa meningkatkan pendapatan bank. Menurunkan suku bunga kredit, bukan berarti mengurangi pendapatan, tetapi justru meningkatkan pendapatan bank, karena volumenya tambah banyak," papar Wimboh.

Oleh karenanya, perbankan harus bisa menentukan besaran biaya yang harus dikeluarkannya sebelum menentukan besaran bunga kredit. "Harus ada standar bagaimana menentukan biaya yang dikeluarkan oleh bank, baik itu biaya dana, biaya overhead, maupun mungkin profit margin yang diminta oleh manajemen bank atau pemilik bank. Sehingga nanti kita mempunyai pemahaman yang standar yang seragam tentang komponen biaya tersebut. Jadi bagi bank itu sendiri bagus untuk introspeksi dan mengoreksi diri dan lebih kompetitif ke depan," pungkas Wimboh.

Untuk itu, BI meminta perbankan menentukan besaran suku bunga dasar kredit (SBDK) terlebih dahulu sebelum menentukan termasuk biaya-biayanya, dan bukan sebaliknya.

"(Menentukan SBDK) harus menentukan tiga komponen biaya yang dikeluarkan oleh bank, harga pokok dana, overhead, dan juga profit margin. Untuk sampai ke suku bunga kredit, mesti ditambah satu lagi, yang namanya risk premium. Ketika menentukan suku bunga, sudah harus ditentukan itu risk premium," ujar Wimboh.

Menurut Wimboh, dalam menentukan risk premium ini, tidak semua bank harus sama persis. Pasalnya, menentukan risk premium di setiap bank harus disesuaikan dengan jenis kredit dan IT yang men-support bank tersebut. Bank, lanjut Wimboh juga bisa menerapkan risk premium ini berdasarkan pengalamannnya.

"(Menentukan risk premium) itu sebenarnya di pasar itu sudah ada. Bank tinggal terapkan saja bagaimana menentukan risk premium. Yang paling gampang, bagi bank dengan menggunakan pengalaman kerugian masa lalu, atau bahasa kerennya default experience itu bisa," lanjutnya.

Default experiences itu, dijelaskan Wimboh, adalah pengalaman tingkat suku bunga pinjaman bank yang diberikan kepada nasabah ke segmen tertentu.

"Pengalaman dia (bank) itu dalam setahun itu lost-nya, yang betul-betul rugi, yang tidak bisa dibayar itu (misalnya) satu persen, dan itu dibuktikan mundur berapa tahun, pengalamannya sekira satu persen, ya gampangnya saja kalau kredit seperti itu, ya default experience-nya ya risk-nya satu persen. Ini bukan ngarang, bukan apa, ilmunya ada teorinya juga ada," tambah Wimboh.

Pengambilan biaya risk premium ini, menurutnya, tidak didapat dari biaya pencadangan bank. Karena risk premium ini, digunakan sebagai biaya pencadangan bank jika ternyata kredit tersebut mengalami gagal bayar.

"Jadi biaya pencadangan ini, sebenarnya sudah diantisipasi dengan pendapatan itu (suku bunga kredit). Jadi, keuntungan bank itu digunakan untuk pengembangan ke depan bagi bank untuk ekspansi, deviden, dan total general. Tapi tadikan ada kemungkinan nasabah itu default, risk premium ini gunanya yang bisa backup kalau rugi. Sehingga sebenarnya default experience, itu adalah kerugian masa lalu, yang tentunya sudah dibentuk cadangan. Masalahnya, kelebihan cadangan atau kekurangan cadangan itu masalah bagaimana bank itu memprediksi," tuturnya.

Berdasarkan data, SBDK kredit korporasi turun dari 10,72 persen (Juni) menjadi 10,51 persen (September). Sementara, kredit KPR turun dari 11,38 persen menjadi 11,04 persen. "Suku bunga ini masih harus turun lagi supaya negara kita lebih kompetitif karena di negara-negara Asean, Indonesia suku bunganya paling tinggi," ungkap Wimboh.

Sejak Desember tahun lalu hingga September-2011, menurut Wimboh, suku bunga Kredit Modal Kerja (KMK) turun 12 basis poin (bps) menjadi 12,22 persen, sedangkan kredit investasi (KI) turun 12 bps menjadi 11,74 persen. Kredit konsumsi sendiri,  turun 29 bps menjadi 13,5 persen.

"Rentang suku bunga acuan (BI Rate) dengan suku bunga kredit saat ini cukup tinggi. Suku bunga KMK misalnya, saat ini 12,2 persen, selisihnya sekira 5,8 persen dengan BI rate di level 6,5 persen. Padahal, saya inget dulu sekitar tahun 2000-an rentangnya bisa tiga persen dengan inflasi lebih tinggi dari sekarang dan setelah krisis ekonomi," lanjut Wimboh.

Oleh karenanya, ke depan, pihaknya akan mendorong perbankan untuk lebih meningkatkan efisiensi biaya sehingga masyarakat dapat menikmati suku bunga kredit yang lebih rendah. Salah satu caranya adalah dengan menerapkan aturan publikasi SBDK perbankan.

"Sejumlah bank sudah menurun SBDK-nya, karena faktor efisiensi. Sebagian lagi masih ada yang belum. Ini yang terus kami pantau dan mereka berjanji untuk meningkatkan efisiensi," pungkasnya.

Sebagai informasi, rata-rata SBDK perbankan di Singapura di bulan  November-2011 ini berada di level 5,5 sampai enam persen. Di Malaysia sendiri SBDK perbankan pada bulan Mei-2011 lalu sebesar 6,6 persen.

Andina Meryani
sindonews.com