fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


26 Ramadhan 1442  |  Sabtu 08 Mei 2021

Mengetahui Batas Toleransi Kita Terhadap Risiko

Mengetahui Batas Toleransi Kita Terhadap RisikoFiqhislam.com - Dua minggu terakhir terasa sangat berat bagi saya. Setelah demam tinggi selama 2 hari, diketahui bahwa istri saya yang tengah hamil 5 bulan terserang dengue alias demam berdarah. Saya merasa sangat khawatir karena tidak mengetahui apa dampak penyakit tersebut terhadap kandungan istri saya.

Saat istri sedang opname, saya pun terkena gejala typhus yang membuat saya terbaring tidak berdaya di rumah. Untung saja ada bala bantuan dari Mama, Ibu Mertua , dan saudara-saudara kami yang dengan sigap membantu. Dari hari ke hari trombosit istri saya semakin menurun. Pada hari pertama opname, trombositnya 154 ribu. Keesokan harinya, nilai tersebut anjlok menjadi hanya 40 ribu. Perasaan saya pun menjadi semakin ketar-ketir ketika hari-hari berikutnya kondisinya semakin memburuk dan sempat hanya 11 ribu. Alhamdulillah pada hari ke-7, trombositnya mulai naik ke 17 ribu dan terus meningkat setelahnya.

Apa yang saya alami merupakan pengalaman emosional yang belum pernah saya hadapi sebelumnya. Adanya janin yang ada di kandungan istri saya semakin menambah kekhawatiran saya. Pikiran saya menjadi tidak fokus karena dalam kondisi tersebut saya juga harus memantau kedua anak saya. Alhasil, pada hari-hari pertama, bed rest saya gagal total.

Ketakutan akan sesuatu yang tidak diketahui merupakan hal yang alamiah bagi manusia. Jika ditambahkan dengan faktor risiko yang tinggi (apalagi dalam kasus saya adalah nyawa), maka ada kemungkinan keputusan yang kita ambil akan bias. Sebenarnya tanpa kita sadari perilaku tersebut juga terjadi ketika kita berinvestasi. Ketika Mr. Big Bear menerkam dengan buas, tidak ada yang dapat melarikan diri. Semuanya berdarah dan para investor merasa sangat terancam. Pada kondisi tersebut, mereka berusaha untuk menarik semua investasinya karena takut terbunuh oleh pak beruang. Secara psikologis hal tersebut terasa benar, namun secara logis patut untuk dikaji ulang. Peluang-peluang terbesar untuk berinvestasi  datang pada kondisi tersebut. Krisis moneter 1997 dan krisis global 2008 merupakan contoh yang baik.

Saya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan para investor yang panik dan melakukan penarikan investasinya. Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan kita cenderung melakukan hal yang sama. Yang pertama, ada kemungkinan jumlah porsi investasi kita sangat besar apabila dibandingkan dengan jumlah total aset kita. Misalnya kita menanam dana sebesar 300 juta rupiah di saham sementara total aset kita lainnya (termasuk mobil dan rumah) adalah 500 juta rupiah, maka kemungkinan besar kita akan mengalami kesulitan untuk tidur manakala badai topan menerjang bursa. Proporsinya terlalu besar. Tentu jika Anda sudah mempersiapkan kondisi tersebut, maka hal tersebut adalah pengecualian.

Hal lain yang mungkin terjadi adalah kebutuhan pemakaian terhadap dana tersebut. Apabila Anda menggunakan dana pendidikan anak yang dibutuhkan tahun ke depan untuk berinvestasi saham, kemungkinan besar Anda akan deg-degan saat dana tersebut Anda butuhkan kelak. Satu tahun merupakan jangka waktu yang pendek untuk berinvestasi dan fluktuasi pasar selama kurun waktu tersebut sangat tinggi.

Salah satu penyebab lain yang cukup ekstrim adalah berinvestasi saham dengan menggunakan utang. Walaupun secara statistik imbal hasil saham lebih tinggi daripada suku bunga deposito, jangan hanya terpaku pada hal tersebut. Pikirkan juga bunga ditambah pokok yang harus Anda bayarkan tiap bulannya. Apabila Anda memiliki pendapatan tetap yang dapat diandalkan untuk itu, hal tersebut bisa saja dilakukan. Namun jika tidak, ketika pasar anjlok Anda sudah jatuh tertimpa tangga pula. Investasi merugi sementara debt collector mengejar-ngejar Anda. Sungguh bukan pemandangan yang menarik.

Toleransi  kita terhadap risiko investasi mekanismenya hampir sama dengan toleransi kita terhadap rasa sakit. Ada orang yang sudah terluka cukup parah masih bisa tersenyum sementara ada orang yang tergores sedikit saja sudah menjerit-jerit. Pastikan dahulu Anda berada di golongan yang mana.

Oleh Parahita Irawan, Penulis Buku 'Investing Ideas'