11 Safar 1443  |  Minggu 19 September 2021

basmalah.png

Menghindari Potensi Kebangkrutan Perusahaan dengan Altman Z-Score

Menghindari Potensi Kebangkrutan Perusahaan dengan Altman Z-ScoreFiqhislam.com - Tidak ada satu pun perusahaan yang terhindar dari risiko kebangkrutan.

Tidak ada bisnis yang bisa berjaya selamanya. Kombinasi dari melemahnya prospek industri ke depan digabungkan dengan mismanagement dapat berakibat fatal bagi suatu perusahaan. Potensi kebangkrutan akan semakin menguat manakala ekonomi berada di ambang resesi. Melemahnya daya beli masyarakat akan menguji kokohnya suatu perusahaaan.

Sebenarnya dengan melakukan analisis secara mendalam terhadap keuangan, tanda-tanda melemahnya kondisi fundamental perusahaan dapat terlihat. Walaupun begitu, apabila tidak tersandardisasi, jika 10 orang membuat analisis potensi kebangkrutan suatu bisnis, maka akan muncul juga 10 hasil analisis yang berbeda. Belum lagi apabila penggunaan rasio-rasio yang jika dipergunakan secara bersamaan terkadang memberikan hasil yang saling bertentangan.

Pada tahun 1968, Edward. I Altman memberikan formula yang berfungsi untuk memprediksi potensi kebangkrutan suatu perusahaan. Altman mempergunakan angka-angka di dalam laporan keuangan dan merepresentasikannya dalam suatu angka, yaitu Z-Score yang dapat menjadi acuan untuk menentukan apakah suatu perusahaan berpotensi untuk bangkrut atau tidak. Output tunggal ini juga dapat membantu memecahkan kebuntuan apabila kita mencoba untuk menganalisis berbagai rasio yang terkadang penafsirannya saling bertentangan.

Formula untuk mendapatkan Altman Z-Score adalah sebagai berikut:

Z-Score = 1.2T1 + 1.4T2 + 3.3T3 + 0.6T4 + 0.999T5

Di mana:

T1 = Working Capital / Total Assets

T1 bertujuan untuk mengukur besarnya aset likuid apabila dibandingkan dengan keseluruhan aset yang dimiliki. Pemikiran ini didasarkan dari pengamatan Altman terhadap current ratio dan acid ratio yang kurang baik untuk memprediksi kebangkrutan.

T2 = Retained Earnings / Total Assets

Parameter ini berguna untuk mengukur apakah laba secara kumulatif mampu untuk mengimbangi jumlah aset.

T3 = Earnings Before Interest and Taxes / Total Assets

Parameter ini berguna untuk mengukur profitabilitas suatu bisnis tanpa memandang seberapa besar utang dari perusahaan.

T4 = Market Value of Equity / Total Liabilities

Parameter ini berguna untuk mengukur tingkat leverage dari suatu perusahaan. Utang yang terlampau besar akan berbahaya bagi kelangsungan perusahaan, terutama apabila di belakangnya terdapat bunga yang harus dibayar.

T5 = Sales/ Total Assets

Disebut juga dengan assets turnover dan biasanya dipergunakan untuk mengukur tingkat efisiensi suatu bisnis dalam memanfaatkan aset yang dimiliki. Karena nilai assets turnover berbeda-beda untuk tiap-tiap industri, kita harus lebih bijak dalam menafsirkan angka ini.

Penafsiran dari nilai Z yang didapatkan adalah sebagai berikut:

Z-Score > 3,00 – Berdasarkan laporan keuangan, perusahaan dianggap aman

2,70 ≤ Z-Score <  2,99 – Terdapat kondisi keuangan di suatu bagian yang membutuhkan perhatian khusus

1,80 ≤ Z-Score < 2,70 – Ada kemungkinan perusahaan akan mengalami kebangkrutan dalam 2 tahun ke depan

Z < 1,80 – Perusahaan berpotensi kuat akan mengalami kebangkrutan

Contoh penggunaan Altman Z-Score adalah sebagai berikut:

Menghindari Potensi Kebangkrutan Perusahaan dengan Altman Z-Score

Terlihat bahwa Z-Score untuk ASII adalah 3,99. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ASII berada pada posisi yang cukup aman dari potensi kebangkrutan.

 

Mari kita coba dengan contoh lain. Kali ini kita akan mencari Z-Score dari APOL.

Menghindari Potensi Kebangkrutan Perusahaan dengan Altman Z-Score

Kontras dengan ASII, Z-Score dari APOL adalah 0,12. Hal ini menandakan bahwa APOL berada dalam permasalahan yang amat serius. Secara kasat mata, terlihat bahwa modal kerja (working capital) APOL negatif yang menunjukkan bahwa terdapat permasalahan likuiditas. Selain itu, retained earnings yang negatif menandakan bahwa APOL dari tahun ke tahun tidak dapat menghasilkan laba. Apabila kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin ekuitas APOL akan bernilai negatif. Satu hal lagi yang penting untuk diperhatikan adalah besarnya utang APOL apabila dibandingkan dengan nilai ekuitasnya. Dengan kondisi seperti itu, tidaklah heran APOL dikatakan berisiko untuk bangkrut walaupun tetap diperlukan analisis yang lebih mendalam terhadap kondisi keuangannya.

Altman Z-Score ini dapat menjadi wahana kontrol bagi kita sebelum mulai berinvestasi pada suatu saham. Tentu saja Altman Z-Score ini memiliki beberapa keterbatasan. Formula Z-Score tersebut tidak dapat diterapkan pada semua industri. Sebagai contoh, industri di mana jumlah utang yang besar merupakan hal yang normal seperti industri utilitas dan infrastruktur akan mendapatkan Z-Score yang sangat rendah. Selain itu, Altman Z-Score ini juga tidak cukup kuat untuk memprediksikan kondisi perusahaan-perusahaan non-manufaktur di mana nilai Sales/Total Assets pada industri ini secara normal jauh lebih besar daripada perusahaan manufaktur. Oleh karena itu terdapat kemungkinan terdapat bias pada hasil pengukuran Z-Score.

Modifikasi Altman Z-Score

Untuk mengantisipasi kelemahan dari formula asli Altman Z-Score, ada beberapa solusi yang ditawarkan. Untuk perusahaan pribadi, kita tidak bisa menghitung market value of equity. Oleh karena itu dilakukan perbaikan formula sebagai berikut:

Z-Score = 0.717T1 + 0.847T2 + 3.107T3 + 0.420T4 + 0.998T5

Terdapat sedikit perubahan pada nilai T4 di mana T4 = book value of equity/liabilities. Sedangkan penafsiran hasil Z-Score yang didapatkan adalah sebagai berikut:

Z-Score > 2,90 – Berdasarkan laporan keuangan, perusahaan dianggap aman

1,23 ≤ Z-Score <  2,90 – Terdapat kondisi keuangan di suatu bagian yang membutuhkan perhatian khusus

Z < 1,23 – Perusahaan berpotensi kuat akan mengalami kebangkrutan

Untuk perusahaan non-manufaktur, formulanya dimodifikasi menjadi sebagai berikut:

Z-Score = 6.56T1 + 3.26T2 + 6.72T3 + 1.05T4

Terlihat bahwa T5 dihilangkan untuk menghilangkan bias assets turnover seperti yang dijelaskan sebelumnya. Penafsiran hasil Z-Score adalah sebagai berikut:

Z-Score > 2,60 – Berdasarkan laporan keuangan, perusahaan dianggap aman

1,1 ≤ Z-Score <  2,60 – Terdapat kondisi keuangan di suatu bagian yang membutuhkan perhatian khusus

Z < 1,1 – Perusahaan berpotensi kuat akan mengalami kebangkrutan

Walaupun Z-Score ini secara umum cukup bagus dalam melindungi kita dari berinvestasi pada perusahaan-perusahaan yang berpotensi untuk mengalami kebangkrutan, kita harus pandai-pandai menafsirkan nilainya apakah relevan dengan nature dengan kondisi industri di mana perusahaan berada.

Oleh Parahita Irawan, Penulis Buku 'Investing Ideas'