fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


5 Ramadhan 1442  |  Sabtu 17 April 2021

Gagal Serah & Gagal Bayar

Gagal Serah & Gagal BayarFiqhislam.com - Transaksi atau jual beli saham di Bursa Efek tidak selamanya berjalan mulus, sesuai dengan alur mekanisme transaksi saham yang ada. Kadangkala, meski probabilitasnya sangat kecil sekali ada risiko bahwa proses transaksi tidak berlangsung sebagaimana mestinya sehingga ada pihak atau investor yang merasa dirugikan.

Sebuah transaksi dikatakan berjalan sesuai dengan mekanisme dan prosedur jika investor jual mendapatkan uang pada saat penyelesaian transaksi (setlement) jatuh tempo yakni H+3. Di sisi lain pada saat yang sama investor beli akan mendapatkan saham yang dibelinya. Singkat kata, sebuah proses transaksi saham disebut lancar jika investor jual mendapatkan uang dan investor beli mendapatkan saham pada waktu yang sudah ditentukan.

Gambarannya begini. Investor X melalui broker-nya PT Sekuritas Indonesia mengajukan order beli saham ABCD sebanyak 20 lot di harga Rp2.000 per saham. Ketika order itu dieksekusi ternyata bertemu (matching) dengan order jual yang dilakukan investor Y yang mengajukan order jual saham ABCD di harga Rp2.000. Nah, proses transaksi belum selesai disini. Proses selanjutnya berlangsung di lembaga kliring dan penjaminan (LKP) dalam hal ini PT Kliring dan Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan di lembaga penyimpanan dan penyelesaian (LPP) yang dalam hal ini diperankan oleh PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

Dalam mekanisme transaksi yang berlaku di Bursa Efek Indonesia (BEI), proses penyelesaian setiap transaksi membutuhkan waktu H+3. Artinya, tiga hari setelah transaksi dilakukan investor X akan mendapatkan saham ABCD yang dibelinya dan investor Y akan mendapatkan uang sebesar Rp20 juta (dipotong biaya transaksi) hasil penjualan saham ABCD. Begitulah gambaran sederhananya sebuah transaksi yang berlangsung secara normal sesuai mekanisme di bursa.

Pertanyaannya bagaimana dengan transaksi yang tidak normal, tidak sesuai dengan mekanisme transaksi? Sebelum menjawab pertanyaan ini, perlu dipahami bahwa ada syarat bagi investor yang melakukan transaksi saham di bursa. Bagi investor jual, harus memiliki barang atau saham yang akan dijual dan bagi investor beli harus memiliki uang sebesar nilai pembelian yang akan dilakukan. Dengan kata lain, investor jual punya barang sedangkan investor beli punya uang. Nah, prasyarat ini harus dipastikan oleh perusahaan broker yang menjadi perantara transaksi.

Jika prasyarat itu tidak dipenuhi, maka risiko bahwa transaksi akan berlangsung tidak normal, tidak sesuai prosedur bisa terjadi. Harus dipahami, jumlah investor yang melakukan transaksi jual beli saham di bursa mencapai puluhan ribu orang, bahkan ratusan ribu. Mereka tidak saling kenal antara satu dengan yang lain. Dalam ilustrasi di atas, investor X tidak saling mengenal dengan investor Y.  Karena itu, prasyarat agar transaksi berjalan lancar harus dipatuhi oleh setiap investor maupun perusahaan broker.

Salah satu risiko jika prasyarat itu tidak dipatuhi adalah kemungkinan terjadinya apa yang disebut dengan istilah gagal serah dan atau gagal bayar. Risiko gagal serah sangat mungkin terjadi jika investor yang tidak punya saham atau barang tapi berani menjual saham. Saat proses setlement, si investor tidak bisa menyerahkan saham yang mestinya diserahkan. Demikian juga dengan risiko gagal bayar, bisa terjadi pada investor yang tidak punya kecukupan dana tetapi nekad untuk membeli saham. Saat kliring jatuh tempo, si investor tidak mampu membayar saham yang sudah dibelinya.

Siapa yang bertanggung jawab jika terjadi risiko gagal serah dan gagal bayar seperti itu? Seharusnya investor yang bertanggung jawab. Namun, dalam praktek bentuk tanggung jawab itu tidak hanya dibebankan ke investor. PT KPEI dan atau KSEI akan membebankan tanggung jawab itu ke perusahaan broker sebagai anggota kliring dan kustodian. walaupun, perusahaan broker juga akan membebankan tanggung jawab ke investor.

Per definisi, sesuai dengan peraturan di KPEI disebutkan gagal serah adalah tidak dipenuhinya sebagian atau seluruh kewajiban Anggota Bursa (AB) untuk melakukan penyerahan efek tertentu dalam rangka penyelesaian transaksi bursa. Sedangkan gagal bayar diartikan sebagai tidak dipenuhinya sebagian atau seluruh kewajiban AB untuk melakukan pembayaran sejumlah uang dalam rangka penyelesaian transaksi bursa.

Jika disimak definisi di atas sesuai dengan peraturan di KPEI maka jelas bahwa pelaku gagal serah dan gagal bayar itu adalah AB, bukan investor. Karena itu, AB-lah yang bakal dikenai sanksi oleh KPEI maupun KSEI. Karena itu, AB perlu mencermati dan memastikan bahwa investornya bertransaksi sesuai dengan syarat yang ada: Investor beli punya uang dan investor jual punya saham. Jika prinsip ini dipegang teguh, tidak akan terjadi apa yang disebut dengan gagal serah dan atau gagal bayar. (Tim BEI)

economy.okezone.com