fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


11 Ramadhan 1442  |  Jumat 23 April 2021

Refloat Pasca-Tender Offer

Refloat Pasca-Tender OfferFiqhislam.com - Likuiditas saham selalu menjadi perhatian investor. Selain pertimbangan fundamental perusahaan, likuiditas juga menjadi salah satu faktor yang menentukan dalam penyusunan portofolio investasi para investor.

Investor-terutama investor lembaga, apalagi perusahaan pengelola dana atau fund manager-selalu mempertimbangkan faktor likuiditas dalam menyusun portofolio investasinya. Saham yang likuiditasnya rendah, meskipun fundamentalnya berkilau, jangan harap bisa berada di dalam keranjang investasi fund manager.

Nah, dalam rangka mempertahankan likuiditas itulah konsep refloat hadir. Banyak investor yang tidak banyak tahu tentang apa yang dimaksud dengan refloat. Refloat adalah kegiatan mengalihkan atau menjual kembali saham ke publik. Istilah refloat sering dikaitkan dengan kasus-kasus pengambilalihan perusahaan terbuka yang menyebabkan terjadinya perubahan kendali perusahaan, terutama dengan kegiatan penawaran tender (tender offer). Hal ini dikarenakan umumnya refloat terjadi setelah proses tender offer dilaksanakan.

Penjabarannya begini, ketika terjadi perubahan pengendalian, Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) mewajibkan agar setiap pihak yang melakukan akuisisi terhadap perusahaan terbuka dan menyebabkan perubahan pengendalian wajib melakukan tender offer ke masyarakat. Penawaran tender atau tender offer adalah pembelian saham yang dilakukan oleh satu pihak dengan cara menawarkan kepada pemegang saham publik untuk menjual sahamnya pada harga di mana pihak tersebut bersedia membeli saham tersebut.

Artinya, setiap pihak yang mengakuisisi perusahaan terbuka dengan tujuan mengendalikan maka ia diwajibkan membeli saham perusahaan terbuka tersebut yang dimiliki masyarakat atau investor publik. Tujuan dari ketentuan soal tender offer ini adalah untuk memberikan perlindungan kepada investor.

Harga tender offer ditentukan dari rata-rata harga tertinggi di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama 90 hari terakhir sebelum pengumuman pengambilalihan atau sebelum pengumuman negosiasi, tergantung dari mana yang lebih tinggi. Biasanya harga tender offer lebih tinggi dari harga akuisisi. Misalnya, jika harga akuisisi adalah Rp2.500 per saham, maka harga tender offer bisa di atas Rp2.500.

Namun, harga tender offer yang menggiurkan seringkali membuat investor publik melepas sahamnya. Akibatnya, saham yang ada di publik tersedot ke pihak yang melakukan tender offer, sehingga likuiditas saham tersebut menurun drastis. Akibat mayoritas saham emiten  tersedot ke satu pihak, maka likuiditas saham emiten tersebut menjadi rendah, jarang ada transaksi karena jumlah saham di publik sangat minim.

Untuk menghindari hal ini, Bapepam-LK mewajibkan agar dalam waktu dua tahun sejak tender offer dilakukan, pihak yang melakukan tender offer dan mengakibatkan kepemilikannya lebih besar dari 80 persen dari modal disetor emiten wajib melakukan refloat, yaitu mengalihkan atau menjual kembali saham tersebut ke publik sehingga kepemilikan masyarakat menjadi paling sedikit 20 persen dari modal disetor dan dimiliki paling tidak oleh 300 pihak. Minimal jumlah saham yang harus dijual kembali ke publik sama dengan jumlah saham yang dibeli saat tender offer.

Selanjutnya yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana jika saat refloat harus dilakukan harga saham emiten tersebut anjlok atau mengalami penurunan dibandingkan harga tender offer? Dalam kaitan ini, Bapepam-LK memberikan kelonggaran kepada pengendali baru untuk menunda refloat selama enam bulan. Jangka waktu penundaan ini bisa diperpanjang lagi enam bulan berikutnya. Tentu saja ada syarat yang harus dipenuhi untuk memperpanjang masa refloat.

Tim BEI
economy.okezone.com