pustaka.png
basmalah.png.orig


8 Dzulqa'dah 1442  |  Jumat 18 Juni 2021

Strategi Trading: Tetap Untung Meski Bursa Naik-Turun

Strategi Trading: Tetap Untung Meski Bursa Naik-TurunFiqhislam.com - Banyak pelaku pasar meyakini, kemelut krisis utang Eropa masih bakal memberi aura negatif terhadap perjalanan bursa sepanjang tahun ini. Krisis di Benua Biru ini diyakini tak bakal selesai dalam waktu dekat, malah berpotensi mencapai puncaknya tahun ini.

Bagi pasar saham Indonesia, faktor Eropa ini dapat membuat gerakan indeks lebih fluktuatif ketimbang tahun lalu, meski ekonomi domestik dalam keadaan baik-baik saja.

Namun, kondisi itu tentu bukan halangan bagi pemain saham ritel, baik tipe investor maupun trader, untuk mencari peruntungan di bursa. Terutama bagi trader, fluktuasi itu justru membuka peluang meraih untung lebih besar. Sebab, ia bisa bermain hit and run.

Meski begitu, perhitungan yang matang tetap perlu menjadi patokan dalam memilih saham. Trader, kata analis Samuel Sekuritas Muhamad Alfatih, harus tetap selektif dan memilih saham yang mempunyai kondisi fundamental kuat. Yang ia maksud kondisi fundamental di sini adalah emiten yang didukung oleh faktor konsumsi domestik dan sedikit terpengaruh kondisi Eropa.

Selain itu, yang diuntungkan oleh suku bunga yang cenderung turun dan oleh aktivitas pembangunan infrastruktur. "Setelah itu, harus memperhatikan momentum pasarnya menggunakan tools teknikal dan menerapkan batasan risiko secara disiplin," kata Alfatih.

Alfatih menilai, secara umum, dalam tren yang kuat, trending indicator, seperti Moving Average (MA) atau Moving Average Convergence Divergence (MACD) bisa dipakai. Namun, dalam keadaan sideways, bisa digunakan indikator momentum, seperti Stochastic atau Relative Strength Index (RSI). Lebih baik jika kedua jenis indikator ini mendukung.

Tapi, jika bicara saham per saham, sejatinya tidak ada satu indikator pun yang cocok digunakan untuk semua saham. Irwan Ariston Napitupulu, seorang trader saham, menilai, tiap saham punya ciri-ciri bakal naik atau turun yang berbeda-beda, sehingga tidak bisa diidentifikasi dengan indikator yang sama.

MACD yang berada dalam posisi deathcross mungkin menyalakan sinyal yang tepat untuk emiten A, tapi belum tentu pas untuk emiten B. Yang bisa menjadi patokan adalah bagaimana historikal grafik saham tersebut. "Fokus ke grafik dan kenali grafiknya," kata Irwan.

Hati-hati di saham berjumlah mini

Untuk menekan risiko di tengah pasar yang naik-turun, menghitung dan membandingkan valuasi dan rasio saham yang kita incar dengan saham sejenis atau sektoralnya, ada baiknya investor lakukan. Misal, menghitung dan membandingkan price to earning ratio (PER), price to book value (PBV), dan return on equity (ROE) saham yang kita incar dengan emiten sejenisnya. Perhitungan semacam ini sedikit banyak bisa menunjukkan apakah saham tersebut berharga murah karena murahan, atau memang saham bagus dan masih memiliki potensi kenaikan.

Khusus saham-saham yang jumlah saham beredarnya kecil, risiko lain yang perlu diperhatikan adalah masalah likuiditas. Jika nilai transaksi hariannya sangat kecil, trader bisa kesulitan menjual saham yang telah dibelinya. Apalagi, analis Phintraco Securities Setiawan Efendi mengingatkan, biasanya saham-saham small cap seperti ini lebih mudah dimainkan oleh bandar atau big fund untuk kepentingan mereka. Maklum, modal untuk "mengatur" harga saham itu lebih sedikit ketimbang saham-saham berkapitalisasi pasar besar.

Meski begitu, analis yang akrab disapa Iwan ini lebih menyarankan Anda bermain jangka pendek ketimbang berinvestasi jangka panjang. "Lebih disarankan untuk trading cepat, daripada investasi di saham-saham third liner. Bila ingin investasi, alokasikan hanya sekitar 10% dari portofolio," ujarnya.

Sementara, saran Irwan, agar tidak terjebak di saham-saham berisiko, trader sebaiknya memutar dananya tidak lebih dari 5% volume bid dan offer saham tersebut. Misal, volume bid saham A 2.000 lot dengan harga Rp 1.000 per lot, sehingga nilai transaksinya Rp 1 miliar. Maka, level yang aman bagi trader adalah masuk tak lebih dari Rp 50 juta. "Kalau mau buang lebih gampang," kata Irwan.

Adapun Alfatih menyarankan, porsi untuk saham yang berisiko cukup 5% dari portofolio saham. Jadi, jika risiko ini menjadi nyata, hanya sedikit mempengaruhi total portofolio. Namun, ia mengingatkan, besar-kecil porsi ini juga tergantung dengan preferensi risiko dari masing-masing trader. Bagi risk taker yang berani mengambil risiko, porsi saham berisikonya bisa lebih besar.

Satu hal yang mesti diperhatikan jika masuk ke saham-saham berisiko ini, trader sebaiknya tidak mudah terpengaruh oleh isu dan rumor yang berkembang di pasar. Sebab, bisa saja market maker atau bandar sengaja meniupkan kabar itu untuk memancing pemain lain masuk ke saham tersebut. Agar lebih menarik, harga saham itu sengaja dikerek naik.

Dalam kondisi ini, sebaiknya trader menyimak apakah informasi itu disampaikan secara resmi oleh manajemen perusahaan, lalu seberapa besar pengaruh rencana emiten terhadap kinerja keuangannya. Lihat juga, berapa besar volume transaksinya. Jika harga sahamnya naik tinggi tapi volumenya kecil, sebaiknya berhati-hati.

Bukan apa-apa, jika terjebak di saham-saham gorengan seperti itu, kecil kemungkinan bisa keluar dalam kondisi untung. Jika tidak segera keluar sebelum si bandar menyelesaikan permainannya, besar kemungkinan investasi Anda akan menyangkut di saham tadi untuk jangka waktu yang entah berapa lama dengan harga saham yang lebih rendah. "Jangan terpengaruh news atau rumor karena pergerakan suatu saham sudah tercermin di grafiknya," tandas Irwan.

Satu lagi, hati-hati jika ingin mengekor aksi pemain asing. Bukan cerita baru, aksi jual-beli asing kerap jadi penentu hijau-merah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pemain ritel biasanya kerap mengikuti aksi asing ini. Maklum, alih-alih hit and run, investor asing biasanya berorientasi cukup panjang. Tapi, sebaiknya sebagai trader, Anda memahami risikonya. Sebab, aksi asing ini kerap "menipu mata".

Begini contohnya, bisa saja broker asing A kemarin membeli saham WXYZ di harga Rp 7.000 per saham dan sehari kemudian menjualnya di harga Rp 6.800. Bukan berarti mereka cut loss (jual di harga lebih rendah). "Itu karena mereka punya modal bawah (beli di harga kurang dari Rp 7.000) dan sudah mengakumulasinya beberapa bulan sebelumnya," kata Iwan.

Tipuan mata lainnya adalah: mereka bisa melakukan transaksi jual dan beli melalui broker yang berbeda. Nah, kalau trader mengekor asing ini mentah-mentah, bisa-bisa bukannya untung yang didapat tapi malah menderita buntung. "Tetap perhatikan pola chart dan indikatornya, untuk mengurangi resiko," saran Alfatih.

Intinya, Anda harus disiplin dan tidak greedy. Bisa?

kontan.co.id