fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


10 Ramadhan 1442  |  Kamis 22 April 2021

Capital Budgeting

Capital BudgetingFiqhislam.com - Setiap perusahaan selalu berusaha untuk tumbuh dan berkembang, meningkatkan pendapatan dan memaksimalkan laba.

Untuk itu, manajemen senantiasa merancang langkah ekspansi sesuai dengan kemampuan keuangan yang ada atau sesuai dengan nilai aset yang dimiliki perusahaan. Untuk itu, perusahaan menyusun alokasi anggaran atau budget ekspansi, belanja modal (capital expenditure), dan strategi lainnya.

Menyusun budget dibutuhkan ketelitian, kecermatan, termasuk kemampuan analisis yang mumpuni. Menyusun anggaran tidak bisa hanya sekadar membuat alokasi dana. Berkaitan dengan rencana ekspansi tadi, berarti ada unsur prioritas dalam penyusunan budget.

Ada pertimbangan tersendiri apakah budget yang dibuat itu mampu mendukung produktivitas dan meningkatkan pendapatan perusahaan atau tidak, apakah budget itu sudah sesuai dengan business plan dan target yang hendak dicapai perusahaan, dan pertimbangan lainnya. Di sinilah pentingnya capital budgeting bagi perusahaan, apalagi perusahaan publik yang dituntut untuk transparan dan selalu mempublikasikan setiap aksi korporasi yang bersifat material.

Seperti disebutkan di atas bahwa penyusunan anggaran dibutuhkan ketelitian, kecermatan, dan kemampuan analisis. Dalam menyusun capital budgeting dibutuhkan perangkat yang lebih lengkap, misalnya survei, tingkat kelayakan, dan profitabilitas proyek tersebut. Tanpa adanya dukungan itu, penyusunan capital budgeting akan terkesan asal-asalan.

Capital budgeting pada dasarnya adalah proses perencanaan anggaran untuk pembelian aset atau proyek yang sifatnya jangka panjang. Jangka panjang di sini artinya paling tidak aset itu memiliki masa pakai (life time) selama lima tahun.

Ilustrasinya begini. Perusahaan A misalnya, akan membeli mesin X seharga Rp250 miliar. Dalam capital budgeting, harus ada kepastian bahwa mesin X yang akan dibeli dengan harga Rp250 miliar itu memang layak beli dan bisa meningkatkan kinerja perusahaan A. Akankah pembelian mesin itu menguntungkan? Seberapa besar keuntungan perusahaan dengan investasi sebesar itu? Sebelum diputuskan untuk membeli harus ada kalkulasi dan kepastian terhadap return dari investasi tersebut.

Salah satu faktor yang sering dijadikan pertimbangan utama adalah arus kas perusahaan (cash flow). Apakah langkah ekspansi itu tidak mengganggu cash flow perusahaan? Bagaimana sumber pembiayaannya (financing) dan seberapa besar potensi revenue yang bisa dihasilkan dari pembelian mesin X tersebut? Berapa lama perusahaan bisa mencapai Break Event Point (BEP)?

Salah satu pendekatan yang banyak dipergunakan adalah menghitung masa BEP dari mesin tersebut. Misalnya, setelah dilakukan kalkulasi dan survei pasar, dengan pembelian mesin X tadi, perusahaan bisa menambah pendapatan perusahaan sebesar Rp75 miliar per tahun. Artinya, masa BEP investasi mesin X adalah selama 3,33 tahun. Pertanyaannya, apakah dengan masa BEP selama 3,33 tahun itu keuntungan yang dihasilkan sudah cukup baik sehingga layak dilakukan? Bagaimana jika dibandingkan dengan standar umum yang berlaku?

Di atas kertas, proyek pengadaan mesin X tadi layak dilakukan jika masa BEP investasi dari mesin X itu di bawah standar umum. Jika standar umum menyebutkan misalnya masa BEP 3,5 tahun maka pembelian mesin X tadi layak untuk dieksekusi. Tapi jika BEP mesin X itu di atas 3,5 tahun – yang berarti di atas standar umum – maka di atas kertas seharusnya mesin X tidak layak investasi.

Ilustrasi di atas hanyalah sebuah gambaran singkat, bagaimana proses dalam penyusunan capital budgeting. Praktiknya tidaklah sesederhana contoh di atas. Banyak metode dan perhitungan yang menjadi pertimbangan termasuk apakah pembiayaan pengadaan mesin itu akan menggunakan uang sendiri (kas internal) ataukah berasal dari kredit bank. Hal ini akan menentukan seberapa besar biaya yang harus dipikul dari pembiayaan tersebut. Selain itu, terkait pasar dari output yang dihasilkan mesin itu, apakah kondisi pasar akan menjamin kelanjutan penjualan atau tidak, bagaimana tingkat risikonya, dan sebagainya.

Bagi perusahaan terbuka, proses penyusunan capital budgeting harus dilakukan dengan sangat hati-hati, apalagi jika bersifat material. Sebab, jika salah mengambil keputusan maka efeknya akan berdampak pada penurunan harga saham di pasar. (Tim BEI)

economy.okezone.com