20 Rabiul-Awal 1443  |  Selasa 26 Oktober 2021

basmalah.png

HMETD (Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu)

HMETD (Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu)Fiqhislam.com - Singkatan HMETD sudah sering didengar di kalangan pelaku pasar. Tapi bagi orang kebanyakan, singkatan ini cukup menimbulkan tanda tanya.

Apa yang dimaksud dengan HMETD? Apa kepanjangan dari HMETD? Begitu pentingkah istilah ini dalam kegiatan investasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) sehingga seringkali disebut-sebut? Apakah ia memiliki nilai? Apa arti HMETD bagi investor? Apakah keberadaannya perlu diperhatikan atau tidak? Dan sebagainya.

Bagi sebagian investor saham atau pelaku pasar yang tidak berkepentingan, HMETD tidak begitu diperhatikan. Tapi, bagi investor yang berkepentingan, HMETD tidak bisa dianggap remeh karena menyangkut hak investor sebagai pemegang saham, menyangkut aset, dan menyangkut nilai portofolionya di pasar. Oleh karena itu, HMETD ini penting untuk diperhatikan bagi investor.

HMETD adalah singkatan dari Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu. Inti dari HMETD adalah bahwa investor atau pemegang saham memiliki hak, yakni hak untuk memesan terlebih dahulu efek atau saham baru yang diterbitkan oleh perusahaan publik atau emiten.

Dari sini tampak ada dua sisi kepentingan yang saling berkaitan, yakni emiten selaku yang memberikan hak kepada investor dan investor sebagai pemegang saham yang menerima hak.

Hak di sini berkaitan dengan aksi korporasi emiten untuk menambah modal perusahaan. Karena menambah modal, maka perusahaan harus menerbitkan dan menjual saham baru. Prioritas pertama untuk membeli saham baru ini diberikan kepada pemegang saham.

Emiten tidak boleh menjual atau menawarkan saham baru tadi ke pihak luar sebelum menawarkan terlebih dulu ke pemegang saham. Inilah yang disebut dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu.

Dari sisi investor sebagai pemegang saham, ia memiliki hak untuk membeli saham baru secara proporsional, sesuai dengan volume kepemilikannya. Misalnya satu saham lama berhak memesan terlebih dahulu dua saham baru di harga RpXXX.

Artinya, jika investor itu mempunyai 20 lot saham atau 10 ribu lembar saham, maka ia berhak memesan terlebih dahulu 40 lot atau 20 ribu lembar saham baru di harga yang sudah ditentukan.

Sekali lagi, perlu dipahami bahwa HMETD adalah hak yang memiliki jangka waktu tertentu. Karena sifatnya adalah hak (right), maka investor bisa menggunakan haknya maupun tidak. Berkaitan dengan itu, maka ada tiga kemungkinan yang bisa terjadi.

Pertama, apakah investor berminat untuk membeli atau tidak. Jika investor tertarik dengan saham baru yang ditawarkan dan memiliki dana yang cukup untuk membeli, maka investor akan membeli saham baru tersebut.

Kedua, jika pun investor berminat untuk membeli tapi jika ia tidak memiliki dana yang cukup untuk membeli, maka bisa dipastikan bahwa investor tidak akan memesan saham baru tersebut. Ketiga, investor memang tidak berminat menggunakan haknya untuk membeli saham baru yang ditawarkan.

Perlu dipahami bahwa dalam hal penerbitan dan penawaran saham baru dengan disertai HMETD, jika investor atau pemegang saham tidak menggunakan haknya untuk membeli, maka porsi kepemilikannya di emiten tersebut akan mengalami dilusi.

Artinya, persentase kepemilikan sahamnya akan turun secara signifikan. Jika semula kepemilikannya adalah sebesar tiga persen, maka dengan diterbitkannya saham baru dengan perbandingan HMETD 1:2 dan investor tidak menggunakan haknya untuk membeli, maka porsi kepemilikannya akan turun secara proporsional menjadi hanya 1,5 persen.

Pertanyaannya, jika investor tidak menggunakan haknya untuk mengeksekusi HMETD, bagaimana dengan nasib HMETD itu sendiri? Seperti disebutkan di atas, HMETD pada dasarnya adalah hak. Oleh karena itu, jika hak ini tidak digunakan, maka investor atau pemegang saham tetap bisa menjualnya kepada pihak ketiga di pasar.

Inilah yang disebut dengan istilah perdagangan bukti right. Jadi, HMETD ini sebenarnya juga tergolong sebagai aset karena ia memiliki nilai. Lalu, berapa harga bukti right tersebut? Harga bukti right sangat tergantung pada harga saham emiten di pasar dan harga saham baru yang ditawarkan.

Mungkinkah HMETD tidak bernilai? Dalam kondisi tertentu bukan tidak mungkin HMETD (yang semestinya punya nilai itu) tidak bernilai sama sekali dan investor harus pasrah membiarkannya hingga kedaluwarsa.

Hal ini terjadi jika harga saham di pasar lebih rendah dibandingkan harga saham baru yang ditawarkan. Misalnya saja harga saham baru tersebut ditawarkan dengan harga Rp3.000 per lembar, tapi harga saham di pasar ditransaksikan di harga Rp2.900.

Dengan logika sederhana, investor jelas tidak akan membeli saham baru yang ditawarkan melalui HMETD karena harganya lebih mahal dari harga pasar. Dalam kasus seperti inilah, investor mengalami dilusi tanpa kompensasi sama sekali. (Tim BEI)

economy.okezone.com