14 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 21 Oktober 2021

basmalah.png

Rumor di Bursa Saham

Rumor di Bursa SahamFiqhislam.com - Pasar atau bursa saham adalah sebuah entitas yang menyediakan sarana dan prasarana untuk mempertemukan investor yang ingin menjual saham dan investor yang ingin membeli saham, prinsip dasarnya tidak lebih dari itu.

Hanya saja, implementasinya menjadi kelihatan rumit dan kompleks karena melibatkan pemain yang jumlahnya ratusan ribu -baik individu maupun lembaga, asing maupun domestik, serta yang memiliki dana melimpah maupun yang memiliki dana pas-pasan.

Bisa dibayangkan jika ada sekian investor dari berbagai negara di dunia yang melakukan jual beli saham setiap hari dengan nilai uang sebesar ratusan miliar. Ada banyak investor di dalam negeri yang juga melakukan hal yang sama. Mereka secara pribadi tidak mengenal satu sama lain. Namun mereka bisa melakukan transaksi jual beli barang di pasar tanpa keraguan sedikitpun.

Mereka bertemu dalam satu area melalui teknologi informasi. Di sisi lain, aktivitas jual beli yang terjadi harus wajar, teratur, dan efisien sehingga pasar yang terbentuk adalah pasar yang sehat. Untuk itulah, Bursa Efek Indonesia (BEI) selaku penyelenggara pasar saham membuat sejumlah peraturan yang harus dipatuhi oleh setiap orang yang melakukan kegiatan transaksi di BEI.

Perlu dipahami bahwa transaksi jual beli saham bukanlah jenis transaksi biasa seperti di pasar tradisional. Transaksi saham adalah transaksi portofolio, dilakukan melalui teknologi informasi yang bergerak cepat. Selain itu, setiap orang atau pihak yang bertransaksi ingin mendapatkan keuntungan setinggi mungkin, apapun caranya. Karena itulah kemudian muncul berbagai upaya dari pihak-pihak yang bertransaksi tadi untuk menghasilkan keuntungan dalam tempo yang singkat dengan nilai sebesar mungkin.

Di sisi lain, minat beli dan minat jual investor di BEI sangat dipengaruhi oleh persepsi investor terhadap saham yang akan dibeli atau dijualnya. Jika persepsi yang terbentuk positif, maka investor akan membeli. Sebaliknya, jika persepsi yang muncul di kepala negatif, maka investor akan menjualnya. Persepsi ini dipengaruhi oleh perkembangan informasi yang beredar di pasar.

Sebagai gambaran, tiba-tiba beredar informasi bahwa PT ABCD yang sahamnya diperdagangkan di BEI akan diakuisisi oleh konglomerat X. Kredibilitas konglomerat X yang akan mengakuisisi itu juga sangat mempengaruhi persepsi investor. Misalnya disebutkan bahwa konglomerat X adalah pengusaha papan atas dari Hongkong, maka persepsi yang terbentuk di kepala investor adalah bahwa PT ABCD nantinya akan lebih bagus setelah beralih tangan ke konglomerat X dari Hongkong.

Dalam kondisi seperti itu, biasanya hampir pasti harga saham ABCD akan melonjak tinggi dibandingkan harga pada hari sebelumnya. Investor yang membeli saham ABCD pada hari sebelumnya hanya dalam satu hari saja bisa mendapatkan keuntungan besar karena harga saham ABCD pada hari ini -ketika beredar informasi tadi- melonjak tinggi.

Pertanyaannya, apakah informasi yang menyebutkan bahwa konglomerat X dari Hongkong akan mengakuisisi PT ABCD itu benar? Di sinilah pangkal permasalahannya. Informasi itu seringkali muncul begitu saja dari sumber-sumber yang tidak terdeteksi. Informasi itu muncul seperti angin sepoi-sepoi di saat terik matahari sehingga investor mudah percaya dan langsung membeli saham di pasar.

Harus dipahami bahwa jenis informasi seperti di atas-yang berpotensi menaikkan harga saham- hampir setiap hari terjadi di pasar. Investor harus jeli dan hati-hati karena informasi seperti itu belum tentu benar.

Kadang ia sengaja ditiupkan oleh pihak-pihak tertentu yang ingin mencari keuntungan sesaat, kadang ia muncul lewat media massa, akun jejaring sosial, sms, gadget Blackberry, dan berbagai sarana informasi lainnya. Itulah yang disebut rumor pasar. Kebenarannya tidak dapat dipertanggungjawabkan, tapi anehnya investor suka menelannya dengan lahap.

Karena hal seperti itu terjadi berulang-ulang, maka pengaruh rumor terhadap harga saham di BEI tampil sebagai karakter bursa saham yang harus dipahami. Yang namanya informasi di pasar dibedakan dalam dua golongan besar, yakni informasi resmi dari perusahaan (emiten) dan informasi tidak resmi yang sumber beritanya tidak berasal dari perusahaan. Informasi tidak resmi ini bisa berupa hasil riset, analisis yang dilakukan kalangan analis, dan informasi yang tidak jelas asal-usulnya alias rumor tadi.

Dari sini tampak bahwa rumor atau informasi yang tidak jelas nara sumbernya bisa mempengaruhi persepsi investor dan keputusan investasi investor. Saham-saham yang diterpa rumor biasanya langsung bereaksi di pasar.

Jika rumor yang beredar positif biasanya langsung diikuti oleh naiknya permintaan sehingga harga saham akan naik. Sebaliknya, jika rumor yang beredar sifatnya negatif, maka biasanya akan diikuti oleh tingginya penawaran sehingga harga saham akan turun. Karena pengaruh rumor terhadap perubahan harga saham ini sering terjadi, kemudian lahir istilah buy on the rumors, sell on the news. (Tim BEI)

economy.okezone.com