fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


29 Ramadhan 1442  |  Selasa 11 Mei 2021

Pump and Dump

Pump and DumpFiqhislam.com - Istilah pump and dump bisa dibilang baru di ranah pasar modal. Namun, secara substansi sebenarnya bukanlah hal yang baru, karena sebenarnya istilah ini merupakan bentuk “keren” dari istilah yang sudah banyak dikenal oleh para pelaku pasar, yaitu saham gorengan. Sederhananya, pola pump and dump terjadi pada saham gorengan.

Istilah saham gorengan sendiri sudah begitu akrab di kalangan pelaku pasar. Entah kapan istilah ini muncul di pasar, yang pasti popularitasnya tidak pernah surut hingga kini. Selalu saja ada yang menyebutkan bahwa saham A atau saham B adalah saham gorengan sehingga disarankan untuk menghindar karena risikonya sulit untuk diukur.

Terminologi “gorengan” memang berasal dari kata “goreng”. Anda bisa membayangkan bagaimana seorang tukang masak menggoreng sesuatu. Ia pasti membolak-balik sesuatu yang digoreng tadi. Pendek kata, objek atau sesuatu yang digoreng itu selalu digerakkan hingga matang sehingga saat diangkat dari penggorengan rasanya menjadi nikmat.

Nah, ilustrasi seperti itulah yang ingin dianalogikan terhadap saham-saham tertentu yang pergerakannya sangat aktif di pasar. Ada yang menggoreng dan ada yang digoreng. Karena ini berkaitan dengan perdagangan saham, maka yang digoreng adalah saham. Siapa yang menggoreng? Pasti ada, hanya saja untuk mengetahuinya tidaklah mudah. Perlu ada penelusuran yang cermat hingga benar-benar bisa mengetahui sang penggoreng.

Dalam konteks pasar modal, saham yang bergerak karena digoreng berarti tidak bergerak berdasarkan mekanisme pasar yang wajar. Perubahan harga saham yang terjadi tidak mencerminkan penawaran dan permintaan (supply and demand) yang semestinya. Order beli dan order jual dilakukan oleh pihak-pihak yang saling berhubungan dengan harapan ada pihak lain yang masuk dan ikut aktif bertransaksi di dalamnya. Biasanya ada sekelompok pelaku pasar yang tergabung dalam konsorsium tertentu – melalui tangan-tangan tertentu dengan berbagai nama samaran – yang berperan sebagai penggoreng dengan tujuan bisa menikmati keuntungan dari saham yang digoreng.

Dibutuhkan kejelian dan kepekaan yang tinggi untuk melihat mana saham yang memang bergerak berdasarkan mekanisme pasar dan mana saham yang bergerak di luar mekanisme pasar. Kejelian dan kepekaan tadi dibutuhkan untuk mendeteksi ada tidaknya aktivitas kekuatan tertentu yang bertindak sebagai penggoreng saham. Kekuatan ini bisa saja terdiri dari satu pihak, tapi bisa juga terdiri dari beberapa pihak yang sepakat bekerja sama memainkan pergerakan harga saham tertentu untuk mendapatkan keuntungan.

Bagi investor ritel – apalagi pendatang baru – para penggoreng saham ini harus diwaspadai agar bisa terhindar dari arus permainan mereka. Oleh karena itu, jangan mudah terlena dengan saham-saham tertentu yang tiba-tiba aktif ditransaksikan. Jangan mudah terkesima dengan kenaikan harga yang meledak-ledak.

Fakta di pasar memang seringkali menunjukkan ada beberapa saham yang mencatatkan kenaikan harga yang fantastis tanpa didukung oleh informasi yang memadai. Kenaikan harga itu bisa di atas 50 persen, bahkan sampai melebihi 100 persen hingga 200 persen hanya dalam hitungan minggu. Rentang kenaikan yang menakjubkan dalam tempo kurang dari satu bulan ini tentu merupakan keuntungan yang menawan dan menggiurkan. Investasi apa yang bisa menghasilkan return di atas 100 persen dalam kurun waktu sebulan? Nyaris tidak ada.

Saham seperti inilah yang harus diwaspadai investor. Untuk jenis saham gorengan seperti ini, pergerakan harganya tidak ditentukan oleh mekanisme pasar, tapi dikendalikan oleh satu kekuatan tersembunyi. Karena itu investor harus ekstra hati-hati melihat kenaikan harga saham yang tidak didukung oleh fakta material. Terhadap saham-saham yang perubahan harganya sangat mencolok, Bursa Efek Indonesia (BEI)  sebagai pengawas pasar mengingatkan investor melalui mekanisme yang disebut Unusual Market Activity (UMA).

Jangan gampang tergiur, apalagi ikut menceburkan diri dalam permainan tersebut. Sebab, kekuatan ini memang sengaja mengangkat harga dan menciptakan kesan seolah-olah saham itu likuid dengan tujuan diikuti oleh investor lain. Ketika banyak investor lain yang masuk, mereka dengan satu hentakan langsung membanjiri pasar dengan order jual sehingga harga saham tersebut kembali turun dan kekuatan tadi sudah meraih untung berlimpah. Inilah yang disebut dengan pola gerakan pump and dump. (Tim BEI)

economy.okezone.com