fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


5 Ramadhan 1442  |  Sabtu 17 April 2021

Earning Growth

Earning GrowthFiqhislam.com - Dalam beberapa hari terakhir, indeks harga saham gabungan (IHSG) sudah melampaui garis psikologis 4.000.Perkembangan ini terjadi di tengah maraknya laporan berbagai emiten yang menyatakan penjualan dan laba mereka meningkat, yang umumnya melampaui 20 persen.

Akankah perkembangan tersebut masih berlanjut di waktu- waktu mendatang? Perkembangan nilai penjualan berbagai emiten itu pada hakikatnya sudah terefleksi dalam angka produk domestik bruto (PDB) berdasarkan harga berlaku, yang pada 2011 lalu tumbuh 15,6 persen, yaitu dari Rp6.423 triliun pada 2010 menjadi Rp7.427 triliun. Selain besaran makronya, perubahan signifikan juga terjadi pada kelas-kelas penerimanya, di mana kelas menengah Indonesia mengalami peningkatan pendapatan yang semakin besar.

Kedua fenomena tersebutlah yang pada akhirnya menjelma menjadi permintaan berbagai produk dan jasa yang jumlahnya semakin lama semakin besar. Suatu contoh yang menarik adalah penjualan dari dua perusahaan ritel raksasa, Indomaret dan Alfamart.Kedua perusahaan tersebut mengalami pertumbuhan penjualan hampir 30 persen. Jaringan toko kedua perusahaan, yang kita lihat sangat sering bersaing secara head to head di berbagai sudut jalan di Ibu Kota ini,pada 2011 membukukan penjualan sebesar Rp18 triliun untuk Indomaret, sedangkan Alfamart Rp18,22 triliun.

Dengan jumlah gerai yang sedikit kurang dibandingkan dengan Indomaret, kita melihat rata-rata harian di masing-masing toko Alfamart tampaknya membukukan penjualan yang sedikit lebih besar dibandingkan dengan rata-rata penjualan harian Indomaret.Apa pun hasil akhirnya, yang jelas kedua perusahaan tersebut telah membukukan pertumbuhan penjualan yang sangat tinggi pada 2011. Cerita yang sama bisa kita lihat dari raksasa automotif Indonesia yang telah terdaftar di pasar modal, yaitu Astra International dan Indomobil.

Kedua perusahaan tersebut juga membukukan peningkatan penjualan serta laba yang sangat tinggi, sehingga akhirnya kita melihat dampak kinerja tersebut pada harga saham mereka sepanjang 2011. Setali tiga uang perbankan Indonesia yang pada 2011 lalu juga mengalami pertumbuhan kredit yang sangat tinggi, sehingga menghasilkan peningkatan pendapatan yang tinggi pula. Perkembangan inilah yang akhirnya mewarnai perkembangan harga saham mereka.

Bank BCA, misalnya, yang pada akhir 2010 memiliki harga saham sebesar Rp6.400, maka pada akhir 2011 yang lalu harga sahamnya mencapai Rp8.000, suatu peningkatan sebesar 25 persen. Bahkan, Bank BRI mengalami peningkatan harga saham yang lebih tinggi pada tahun 2011 yang lalu, meskipun di awal tahun 2012 ini harga saham bank-bank mengalami fluktuasi cukup tajam.

Pertumbuhan laba, atau istilah kerennya adalah earning growth, merupakan faktor yang penting dalam pembentukan harga saham bagi perusahaan yang sahamnya sudah terdaftar di bursa efek.

Suatu indikator penting dari mahal atau murahnya harga saham adalah rasio antara harga saham dan laba per sahamnya, atau yang dikenal sebagai PE Ratio atau sering disingkat PER. Sebagaimana namanya, PER adalah suatu indikator yang diperoleh dari dua angka, yaitu harga saham dan laba per saham. Ini berarti, jika harga saham naik sementara laba per saham tetap maka rasio PE-nya akan mengalami peningkatan. Sebaliknya, jika laba per saham mengalami peningkatan, sementara harga sahamnya tetap, maka rasio PE-nya akan mengalami penurunan.

Formula inilah yang pada akhirnya bisa membimbing kita untuk melihat prospek harga saham di tahun-tahun mendatang. Jika laba per saham mengalami peningkatan sebesar 20 persen,untuk berada pada PE Ratio yang sama,maka ada ruang gerak bagi harga saham untuk juga mengalami peningkatan sebesar 20 persen. Hal ini terjadi dengan catatan nilai PER tersebut sebelumnya sudah dianggap berada pada titik ekuilibrium dan cukup bersaing dengan perusahaan emiten pada industri yang sama, baik di dalam maupun juga di luar negeri.

Jika PE Ratio perusahaan tersebut sudah terlalu tinggi, peningkatan laba per saham tersebut merupakan suatu kesempatan bagi perusahaan untuk mengembalikan tingkat PE pada harga yang lebih wajar.

Dengan melihat perkembangan tersebut maka untuk tahun 2012 ini, bagaimanakah kira-kira prospek IHSG kita? Secara makro, prospek perekonomian Indonesia di tahun 2012 masih akan berlangsung baik. Meskipun terdapat beberapa tantangan, seperti tingginya harga minyak dunia yang mungkin akan berdampak pada harga BBM bersubsidi, saya masih memiliki keyakinan, pertumbuhan PDB Riil kita akan mencapai sekitar 6,5%, bisa lebih tetapi juga bisa kurang, tergantung dari berbagai perkembangan yang terjadi.

Dengan pertumbuhan riil seperti itu, saya menduga PDB berdasarkan harga yang berlaku di tahun 2012 ini akan mengalami peningkatan sekitar 15 persen, sehingga total PDB Nominal akan berada pada range antara Rp8.500 triliun sampai dengan Rp8.700 triliun. Gambaran makro semacam ini akan memberikan potensi yang sangat besar bagi pertumbuhan penjualan seluruh perusahaan di Indonesia,terutama para perusahaan emiten,untuk tumbuh di sekitar angka pertumbuhan nominal tersebut. Bagi perusahaan yang memiliki segmen konsumen kelas menengah,pertumbuhan penjualan mereka bisa jauh melampaui angka tersebut, yaitu bisa berada di atas 20 persen sampai 30 persen.

Dengan struktur biaya yang tidak jauh berbeda, perkembangan tersebut memungkinkan pertumbuhan laba juga melampaui angka 20 persen. Dengan latar belakang tersebut, perkembangan harga saham di Indonesia sangat mungkin bergerak ke atas dengan range antara 10–20 persen, yaitu antara 4.300 sampai dengan 4.600. Indeks yang berada di luar range tersebut pada akhirnya merupakan anomali, yaitu seberapa besar deviasi persepsi para investor global ataupun domestik dari perkembangan fundamentalnya.

Jika perkembangan ekonomi global tidak melahirkan kejutan-kejutan baru, saya tidak akan terkejut jika IHSG bisa melampaui range di atas. Jangka waktu satu tahun tidaklah lama. Kita akan melihat apakah investor global dan domestik kita optimistis ataukah tidak terhadap perkembangan yang terjadi di Indonesia.

CYRILLUS HARINOWO HADIWERDOYO
Pengamat Ekonomi

economy.okezone.com