fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


5 Ramadhan 1442  |  Sabtu 17 April 2021

Memanfaatkan Kebijakan Autorejection

Memanfaatkan Kebijakan AutorejectionFiqhislam.com - Beli saham saat harga turun, dan jual saat harga naik. Strategi yang cukup ampuh ini ternyata tidak selalu diikuti oleh pelaku pasar.

Hal ini bisa dilihat dari saham-saham yang mengalami kenaikan signifikan dan menyentuh batas penolakan order secara otomatis (autorejection).

Begitu ada saham yang harganya melambung dan menembus batas autorejection, ada sebagian pelaku pasar yang melihatnya sebagai peluang. Investor jenis ini bukannya takut ketika melihat harga naik terlalu tajam, mereka malah semakin berani memburu saham yang terkena autorejection tadi melalui pasar negosiasi.

Seperti diketahui, Bursa Efek Indonesia (BEI) menetapkan kebijakan autorejection secara simetris, yaitu batas atas dan batas bawah sama, yang terbagi dalam tiga kategori. Untuk saham yang harganya di bawah Rp500, batas autorejection ditetapkan sebesar 35 persen. Untuk saham yang harganya antara Rp500 hingga Rp2.500, batas autorejection ditentukan sebesar 25 persen. Sedangkan untuk saham yang harganya di atas Rp5.000, batas autorejection ditetapkan sebesar 20 persen. Khusus saham yang listing perdana (berasal dari penawaran umum) maka persentase batas autorejection ditetapkan sebanyak dua kali lipat. Batas autorejection ini didasari oleh harga pembukaan (opening price) yang terbentuk pada prapembukaan pasar atau harga penutupan (closing price) perdagangan hari sebelumnya atau previous price.

Gambarannya begini. Misalnya, saham XYZ hari ini memiliki harga awal Rp1.000. Karena harga saham XYZ berada di kisaran Rp500 hingga Rp2.500, maka batas autorejection yang berlaku adalah 25 persen ke atas dan ke bawah. Artinya, jika saham XYZ mengalami tekanan jual dan harganya turun, maka penurunan yang terjadi adalah maksimal sebesar 25 persen dari harga awal. Dengan demikian, batas harga yang bisa ditransaksikan adalah antara Rp750 dan Rp1.250. Artinya, jika ada order jual yang diajukan di bawah Rp750, maka order tersebut pasti secara otomatis ditolak oleh sistem. Begitu juga sebaliknya, jika ada order beli yang berani menawar di atas Rp1.250 maka order beli itu tidak bisa masuk dalam sistem, sehingga dengan sendirinya transaksi tidak berhasil terjadi.

Nah, dari banyak kejadian autorejection, investor dapat membaca bahwa harga saham masih akan bergerak pada transaksi hari berikutnya. Jika saham menembus batas atas autorejection, maka kecenderungan esok harinya harga saham itu akan naik. Sebaliknya, jika saham menembus batas bawah autorejection, maka esok harinya harga saham tersebut cenderung turun. Oleh karena itulah seringkali terjadi transaksi di pasar negosiasi ketika saham menyentuh batas autorejection.

Namun, gejala ini hanyalah sebuah fenomena. Belum ada studi komprehensif yang menyatakan bahwa saham yang menembus autorejection, trend-nya sesuai dengan arah pergerakan autorejection. Meski demikian, bagi sebagian investor, kebijakan autorejection telah membuka peluang untuk meraih capital gain di pasar. (Tim BEI)

economy.okezone.com