23 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 28 Nopember 2021

basmalah.png

Wash Sale

Wash SaleFiqhislam.com - Istilah wash sale belum terlalu populer di kalangan pelaku pasar. Satu dari sepuluh investor di pasar belum tentu paham terhadap istilah ini.

Padahal,  dalam kegiatan transaksi sehari-hari di Bursa Efek Indonesia (BEI), wash sale sudah sering terjadi. Tekniknya bermacam-macam, tapi tujuan akhirnya sama, yaitu untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya.

Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan wash sale? Wash sale adalah transaksi (saham) yang sifatnya semu. Secara kasat mata transaksinya ada, yaitu ada perpindahan saham dari satu rekening efek ke rekening efek lainnya dan juga ada proses kliring atau pembayaran dari investor beli ke investor jual. Hanya saja, semua proses transaksi itu dilakukan oleh satu investor yang sama atau satu konsorsium investor yang sama.

Jadi, meski terjadi transaksi jual beli saham di BEI, tapi sebenarnya tidak ada perubahan kepemilikan saham karena pihak yang membeli dan pihak yang menjual merupakan investor yang sama.

Ilustrasinya begini. Investor X yang memiliki dana cukup besar -misalnya saja Rp5 miliar-membuka rekening efek di beberapa Perusahaan Efek Anggota Bursa (PEAB) sekaligus, misalnya di PT Makmur Sekuritas, PT Sejahtera Sekuritas, PT Aduhai Sekuritas, PT Sentosa Sekuritas, dan PT Bahagia Sekuritas. Di masing-masing sekuritas tadi, investor X menyetor deposit sebesar Rp1 miliar.

Melalui setiap perusahaan broker tadi, investor X membeli saham ABCD. Lalu, melalui lima perusahaan broker tadi pula, investor X mulai melancarkan aksinya dengan melakukan wash sale. Melalui PT Makmur Sekuritas dan PT Sejahtera Sekuritas, investor X masing-masing menjual saham di harga Rp500. Selanjutnya, melalui PT Aduhai Sekuritas ia membeli saham ABCD di harga Rp510 dan melalui PT Sentosa Sekuritas ia menjual di harga Rp510.

Lalu, melalui PT Bahagia Sekuritas ia membeli lagi saham ABCD di harga Rp520. Begitu seterusnya, sehingga seolah-olah saham ABCD tadi aktif ditransaksikan melalui mekanisme transaksi yang wajar dan sehat serta harga sahamnya naik terus sesuai dengan target yang ingin dicapai oleh investor X.  Padahal, transaksi di atas jelas-jelas pihak pembeli maupun penjual saham adalah orang yang sama, yakni investor X.

Untuk mengaburkan dan menghindari kecurigaan BEI, bukan tidak mungkin investor X tadi membuka rekening efek di banyak PEAB -bisa di 10 PEAB atau lebih-  sehingga transaksi saham yang terjadi seolah-olah dari pihak yang tidak saling mengenal satu sama lain. Begitulah modusnya. Aktivitas transaksi yang terjadi pada saham ABCD tampak sangat likuid sehingga menarik perhatian investor lainnya untuk ikut membeli saham ABCD. Nah, ketika harga saham ABCD tadi harganya telah mencapai titik tertentu, maka investor X melalui PEAB-nya masing-masing melepas saham ABCD yang dimilikinya. Dengan pola seperti ini, investor X mampu meraih capital gain hingga ratusan juta, bahkan miliaran rupiah.

Gambaran seperti di atas mungkin terjadi saat belum diberlakukan ketentuan penggunaan Single Investor Identity (SID). Ketika ketentuan penggunaan SID ini diwajibkan mulai 1 Februari 2012 lalu, maka transaksi wash sale bisa dihindari. Melalui penggunaan SID, BEI bisa mendeteksi setiap transaksi semu yang terjadi di bursa.

Kini tidak ada transaksi semu yang tidak terdeteksi. Dengan penggunaan SID dalam bertransaksi, di manapun investor membuka rekening efek, SID-nya sama. Investor X, jika misalnya ia membuka rekening efek di 50 PE AB sekalipun, SID-nya tetap sama di PEAB manapun. Meski begitu, perlu dipahami bahwa pasar saham -di manapun di dunia- selalu bersifat dinamis.

Selalu ada saja investor yang mencari keuntungan melalui jalan pintas. Dalam penerapan SID pun demikian. Jika investor menggunakan tangan-tangan lain sebagai vehicle untuk berbuat curang, maka terjadinya wash sale masih mungkin untuk terjadi. Ini merupakan tantangan berikutnya yang akan terus dicari pemecahannya oleh BEI. (Tim BEI)

economy.okezone.com