fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


30 Sya'ban 1442  |  Senin 12 April 2021

Junk Stock

Junk StockFiqhislam.com - saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak selalu sama antara satu dengan yang lainnya. Ada saham yang sejak melakukan penawaran umum (Initial Public Offering/IPO) harganya selalu berkembang naik, ada yang biasa-biasa saja, dan ada juga yang harganya terkoreksi saat masuk pasar sekunder dan sulit untuk bangkit kembali.

Saham yang berfundamental baik biasanya selalu likuid, disukai banyak orang, dan dijadikan portofolio investasi saham. Saham seperti ini biasanya mencatatkan prestasi yang gemilang dan selalu membukukan pertumbuhan  dari waktu ke waktu. Namun,  saham-saham yang tidak likuid, size-nya kecil, jarang membagikan dividen, dan kinerjanya mengalami stagnasi atau bahkan penurunan dari waktu ke waktu biasanya tidak dilirik oleh investor. Dalam istilah investasi, saham-saham seperti ini disebut dengan saham ‘sampah’ (junk stock).

Mana saham yang lebih disukai oleh investor? Tentunya investor lebih menyukai saham yang berfundamental kuat dan likuid. Saham seperti ini memiliki track record yang tidak perlu diragukan lagi. Ia tidak hanya memberikan capital gain kepada investor, tapi juga membagikan dividen setiap tahun.

Oleh karena itulah, jika ada saham baru yang memiliki karakteristik seperti ini, biasanya saham tersebut akan diserbu oleh investor. Nah, bagaimana dengan nasib junk stock tadi? Jumlahnya pun ternyata tidak semakin berkurang dari waktu ke waktu. Jika ada saham gurem yang berhasil naik kelas misalnya, pasti ada saham baru yang mengisi ruang di deretan saham gurem tadi. Begitu seterusnya. Keberadaan junk stock ini tidak bisa dipungkiri dan harus diterima.

Persoalannya, apakah ada investor yang membeli junk stock di pasar? Di sinilah uniknya pasar modal. Karakter saham yang seperti apapun memiliki peminatnya sendiri di pasar. Benar seperti disebut di atas bahwa mayoritas investor menyukai saham blue chips atau saham unggulan. Tapi jangan salah, investor yang fokus dalam bertransaksi pada saham junk stock jumlahnya juga tidak sedikit. Bagi investor yang gemar membeli saham junk stock, ia akan beranggapan bahwa saham yang memberikan keuntungan besar tidak selalu berupa saham-saham berkapitalisasi besar dan menjadi saham unggulan di pasar. Seringkali saham-saham junk stock tadi justru memberikan gain yang signifikan.

Jenis saham lain yang juga kerap memberikan gain cukup tinggi adalah saham yang mengalami koreksi harga cukup besar karena suatu faktor tertentu. Saham jenis ini kerap masuk dalam kategori junk stock karena penurunan harganya luar biasa dan sulit bangkit akibat fundamentalnya jatuh.

Seorang investor kaliber dunia menilai bahwa fundamental dan prospek adalah dua hal yang berbeda. Jika sebuah usaha memang memiliki prospek dan potensi yang baik -dalam arti ada pasar (demand) yang baik- maka ia bisa tumbuh menjadi perusahaan dengan fundamental yang baik pula. Masalah fundamental ini lebih mengarah pada persoalan manajemen, yaitu bagaimana mengelola perusahaan.

Oleh karena itu, tidak jarang ada investor yang bersedia memborong saham junk stock hingga ia menjadi pemegang saham mayoritas untuk dikelola menjadi perusahaan yang berfundamental baik.

Salah satu investor legendaris yang memainkan strategi seperti itu adalah Bill Miller. Strategi investasinya tidak diarahkan pada saham-saham blue chips atau favorit, tetapi justru diarahkan pada saham-saham yang mengalami koreksi harga tinggi tapi dinilai memiliki prospek yang baik. Miller adalah pemimpin Legg Mason Value Trust, perusahaan manajer investasi di Amerika Serikat yang mencatatkan persentase keuntungan di atas indeks Standard & Poor’s 500 selama 14 tahun berturut-turut sejak 1990-an hingga awal 2000-an. Reputasinya cukup gemilang.

Miller merupakan salah satu penganut value investing. Hanya saja perilaku investasinya agak berbeda dengan penganut value investing pada umumnya. Jika fundamental emiten baik, maka ia sama sekali tidak ragu untuk membeli sekalipun harga saham tersebut mengalami tekanan yang berat. Tapi jika secara fundamental masih bisa dipoles, maka saham tersebut akan menjadi sasaran Miller dan ia tidak akan buru-buru menjualnya.

Contoh seperti itu sudah pernah terjadi ketika ia membeli saham American Online (AOL) dan Dell Computer pada tahun 1999. Meskipun kedua saham tersebut sebenarnya sudah bisa memberikan gain yang substansial dari saat ia membelinya, tapi Miller teguh untuk tidak segera melepasnya. Dengan strategi seperti itu ternyata Miller meraih sukses besar.
Ia tidak takut mengoleksi saham-saham yang dihindari orang.

Perhitungannya jelas dan selalu berdasarkan analisis fundamental. Bagi kebanyakan investor, jika saham mulai turun -katakanlah jatuh sebanyak 15 persen- mereka mungkin akan menjualnya. Tidak demikian bagi Miller, sepanjang ia yakin bahwa fundamental bisnis perusahaan tersebut bisa diperbaiki, ia akan berpikir seperti ini: Semakin jatuh harga saham tersebut, semakin tinggi tingkat return-nya di masa depan dan lebih banyak uang yang seharusnya Anda investasikan di saham ini. Begitu Miller berbagi pengalamannya.

economy.okezone.com