fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


5 Ramadhan 1442  |  Sabtu 17 April 2021

Lot

LotFiqhislam.com - Istilah lot bagi pelaku pasar modal sudah sangat familier. Tidak ada satu pun investor yang tidak mengetahuinya. Lot berarti satuan volume perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mewakili 500 lembar saham. Minimal volume saham yang bisa ditransaksikan di pasar reguler di BEI adalah satu lot.

Sepintas, lot tidak memiliki arti atau makna apa-apa bagi investor atau bagi pengembangan pasar modal secara keseluruhan. Ia seolah-olah hanya sebuah istilah yang digunakan oleh para investor saham. Tapi jangan salah, jika keberadaan lot ini disimak dari sudut pandang produk kebijakan otoritas pasar modal, maka ia akan ikut memberikan pengaruh terhadap likuiditas pasar.

Saat ini ketentuan yang berlaku masih menyebutkan bahwa satu lot mewakili atau sama dengan 500 lembar saham. Artinya, jika investor A ingin memembeli saham blue chips yang harga pasarnya adalah Rp10 ribu, maka ia minimal harus membeli 500 lembar (satu lot) dan untuk itu investor A harus membayar Rp5 juta, belum termasuk fee transaksi.

Sementara, investor B yang juga mempunyai keinginan yang sama tapi hanya memiliki dana sebesar Rp4 juta sehingga ia tidak mampu membeli saham blue chips tadi. Begitupun dengan investor C yang juga tidak bisa membeli saham blue chips tersebut karena hanya memiliki dana sebesar Rp2 juta.

Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa jumlah saham dalam satuan lot ikut menentukan daya beli investor dan juga likuiditas pasar. Nah, sekarang bandingkan jika satu lot mewakili atau sama dengan 100 lembar saham. Jika diterapkan pada ilustrasi di atas, maka semua investor, baik investor A, B, dan C, mampu membeli saham blue chips yang harganya Rp10 ribu tadi. Di sini tampak bahwa satu satuan lot yang lebih kecil mampu meningkatkan likuiditas pasar.

Namun, jika ada investor atau pelaku pasar yang akan bertransaksi di bawah satu lot, maka mereka harus melakukannya di pasar odd lots. Odd lots berarti satuan jumlah saham yang jumlahnya lebih kecil dari satuan perdagangan saham di bursa efek, sehingga jumlah tersebut tidak dapat diperdagangkan di pasar reguler.

Saat ini jarang sekali ada transaksi odd lots, namun adanya aksi korporasi ikut menentukan terbentuknya odd lot. Ketika emiten melakukan aksi korporasi (corporate action) menerbitkan saham baru seperti penawaran umum terbatas (right issue) dan pembagian saham bonus.

Gambarannya begini. Jika investor memiliki satu lot saham, sementara emiten melakukan corporate action berupa rights issue dengan perbandingan 2:1 atau dua saham lama berhak memesan efek terlebih dahulu sebanyak satu saham baru, maka investor tadi jika menggunakan haknya akan mendapatkan saham baru sebanyak 250 lembar.

Dengan satu lot sama dengan 500 lembar, berarti 250 lembar saham baru yang dibeli investor tadi masuk kategori odd lot karena banyaknya di bawah 500 lembar saham. Lain halnya jika satu lot sama dengan 100 lembar. Jumlah saham hasil Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) investor tadi hanya 50 lembar saja sehingga tidak masuk dalam kategori odd lot.

Semua ilustrasi di atas menjelaskan kepada kita bahwa semakin kecil jumlah saham dalam satu satuan lot maka semakin kecil kemungkinan terbentuknya odd lot. Likuiditas saham juga akan lebih meningkat dibandingkan sebelumnya.

Setiap Bursa Efek di belahan negara manapun memiliki kebijakan sendiri tentang satuan volume perdagangan saham yang diberlakukan. Jika BEI menerapkan lot sebagai satuan perdagangan, di bursa efek luar negeri ada variasi lain. Di beberapa bursa malah sudah ada yang menerapkan satuan perdagangan sama dengan satuan lembar saham. Untuk emiten yang berasal dari luar negeri ada perlakuan khusus.

Di New York Stock Exchange atau Nasdaq misalnya, menerapkan satuan berupa ADR (American Depository Receipt) terhadap perusahaan asing yang listing dan diperdagangkan di sana. Begitu juga di Bursa Australia. Satu ADR mewakili 20 lembar saham. Di BEI pun jika ada perusahaan asing yang berminat listing dan diperdagangan di bursa sahamnya bisa disatukan dalam bentuk Indonesian Depository Receipt (IDR). Saat ini BEI masih menggunakan satuan lot 500 lembar saham, namun mungkin suatu hari aturan ini akan berubah tergantung kebijakan para otoritas pasar modal demi meningkatkan likuiditas saham. (Tim BEI/yy/okezone)