fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


9 Ramadhan 1442  |  Rabu 21 April 2021

Pinjam Meminjam Efek

Pinjam Meminjam EfekFiqhislam.com - Dalam kegiatan transaksi efek di Bursa, terkadang terjadi transaksi di mana investor mengalami kelebihan dalam jumlah saham yang dijualnya. Misalnya, investor hanya memiliki saham ABCD 100 lot, tetapi ia menjual sebanyak 200 lot.

Kejadian ini mungkin saja tidak disengaja, misalnya karena faktor lupa, salah input, atau faktor lainnya. Namun, ada juga yang memang disengaja untuk mendapatkan keuntungan dari situasi pasar yang terjadi saat itu. Transaksi yang terakhir ini lebih populer dengan istilah transaksi short selling.

Bagaimana proses penyelesaian transaksi seperti itu? Pada contoh di atas, andai si investor yang melakukan kelebihan jual itu langsung melakukan pembelian kembali (buy back) saham ABCD sebanyak 100 lot, maka masalahnya tentu langsung selesai karena investor tadi tidak akan mengalami gagal serah. Tapi, jika si investor tidak segera melakukan buy back, maka di sinilah potensi masalah akan timbul. Jika dibiarkan, si investor bisa mengalami gagal serah karena tidak bisa menyerahkan saham ABCD sebanyak 100 lot. Pertanyaan berikutnya, siapa yang bertanggung jawab jika terjadi kondisi seperti itu?

Dalam kondisi seperti itu, jelas yang bertanggung jawab adalah si investor dan tentu saja perusahaan broker di mana investor memiliki rekening efek dan melakukan transaksi. Perusahaan broker bertanggung jawab karena dialah pihak yang seharusnya mengetahui data kepemilikan efek investornya. Perusahaan broker semestinya melakukan verifikasi kepemilikan efek si investor, apakah investor menjual efek sesuai kepemilikannya atau melebihi kepemilikannya.

Jika perusahaan broker mengetahui bahwa order jual investor melebihi kepemilikannya dan ia membiarkannya saja, maka perusahaan broker itu jelas harus bertanggung jawab. Perusahaan broker harus meminjamkan efek ABCD sebanyak 100 lot kepada investornya. Persoalannya akan menjadi runyam jika perusahaan broker juga tidak memiliki efek ABCD sejumlah 100 lot. Hal ini berpotensi menimbulkan gagal serah yang berujung sanksi suspend bagi perusahaan broker.

Namun, sejak diperkenalkannya mekanisme Pinjam Meminjam Efek (PME) atau lending & borrowing oleh PT Kliring dan Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), maka kekhawatiran terjadinya gagal serah akibat kelebihan order jual seperti di atas tidak perlu terjadi. Melalui mekanisme PME ini, KPEI menjaga dan menjamin terselenggaranya mekanisme transaksi efek yang lancar dan efisien. Pendek kata, apapun penyebabnya, KPEI harus menjadi penjaga gawang agar jangan sampai terjadi gagal serah, termasuk gagal bayar.

Untuk itu, KPEI memiliki apa yang disebut dengan PME tadi dan juga fasilitas intraday.
Bahkan, di masa depan, KPEI tidak hanya akan memanfaatkan fasilitas PME hanya untuk sekadar mencegah terjadinya gagal serah akibat short selling atau penyebab lainnya. Tapi, lebih dari itu, KPEI akan memanfaatkan PME untuk menggenjot likuiditas transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI). Artinya, dengan mekanisme PME, investor yang tidak memiliki efek bisa menjual efek dengan cara memanfaatkan fasilitas PME.

Pertanyaan yang mungkin muncul kemudian adalah bagaimana mungkin itu bisa dilakukan? Perlu diketahui bahwa jumlah investor atau pemegang efek itu sangat banyak dan memiliki beragam karakter. Ada investor yang membeli efek benar-benar untuk tujuan jangka panjang, tidak pernah ditransaksikan dan didiamkan begitu saja. Sementara, di sisi lain banyak juga investor yang aktif dan memiliki adrenalin tinggi yang selalu ‘’gatal’’ ingin melakukan transaksi.

Nah, di sinilah peluang itu timbul. Di satu sisi ada efek yang ‘’menganggur’’ dalam jumlah besar karena didiamkan oleh si pemilik efek, di sisi lain ada pihak  yang membutuhkan efek untuk ditransaksikan. Investor atau pemegang efek yang bersedia meminjamkan efeknya disebut lender, sedangkan investor yang meminjam efek disebut borrower. Dibutuhkan lebih banyak lender dan borrower untuk meningkatkan mekanisme PME di Bursa. Tentu saja, untuk jasa PME itu, lender akan menerima fee dan borrower akan membayar fee.

Untuk meningkatkan aktivitas transaksi PME, KPEI akan melakukan sosialisasi ke AB dan investor. Di samping itu, KPEI juga melakukan upaya perluasan transaksi PME melalui pengembangan jasa layanan yang berupa PME Bid Offer dan PME Bilateral seperti yang telah berlaku secara internasional. KPEI juga tengah mengembangkan konsep transaksi Repurchase Agreements (REPO) dengan menggunakan Global Master Repurchase Agreement (GMRA) yang berlaku internasional. Dengan demikian, aktivitas perdagangan di pasar saham akan terus meningkat. (Tim BEI/yy/okezone)