fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


29 Ramadhan 1442  |  Selasa 11 Mei 2021

Mengalokasikan Aset Investasi

Mengalokasikan Aset InvestasiFiqhislam.com - Pada dasarnya, kegiatan investasi merupakan sebuah pola perilaku atau sikap menunda konsumsi dan mengembangbiakkan dana untuk kebutuhan di masa depan. Jika seseorang memiliki dana, maka tidak semua dana itu dihabiskan untuk kegiatan konsumsi saat ini, tetapi dialokasikan untuk dikembangbiakkan demi kebutuhan di masa depan.

Gambaran sederhananya begini. Jika X mempunyai gaji sebesar Rp20 juta dan kebutuhan rutin rumah tangganya hanya menghabiskan dana sebesar Rp15 juta, maka X bisa mengalokasikan dana sebesar Rp5 juta untuk kepentingan investasi. Gaji sebesar Rp20 juta tersebut tidak dikonsumsi habis selama satu bulan. Dengan mengalokasikan investasi sebesar Rp5 juta per bulan, maka X bisa memperoleh dana cukup besar untuk kebutuhannya di masa mendatang.

Tujuan investasi jelas untuk mendapatkan imbal hasil sebesar-besarnya dengan menekan tingkat risiko sekecil-kecilnya. Pertanyaannya, bagaimana caranya agar investasi tersebut bisa memberikan imbal hasil yang maksimal dan bagaimana caranya agar tingkat risiko yang dihadapi bisa ditekan seminimal mungkin?

Pertanyaan ini tidak sederhana. Jawabannya juga sangat bersifat situasional. Artinya, tingkat imbal hasil dan kadar risiko yang dihadapi sangat tergantung pada kondisi atau iklim investasi saat itu. Misalnya, di saat kondisi krisis, alokasi investor untuk berinvestasi di instrumen saham dikurangi karena tingkat risikonya yang cukup besar. Akan lebih bijak jika saat krisis ia mengalihkan dana tersebut ke deposito misalnya.

Yang jelas, setiap instrumen investasi memiliki kadar risiko yang berbeda dan potensi imbal hasil yang berbeda pula. Instrumen saham jelas memiliki kadar risiko dan potensi imbal hasil yang berbeda dengan instrumen pendapatan tetap seperti deposito dan obligasi. Selain itu, setiap jenis saham atau obligasi juga memiliki kadar risiko dan potensi imbal hasil yang berbeda. Risiko yang terkandung di saham A jelas berbeda dengan risiko yang terkandung di saham B. Begitu juga di instrumen obligasi, aturan yang berlaku juga sama.

Seperti telah jamak diketahui, risiko muncul karena adanya ketidakpastian terhadap masa depan. Bagaimana kondisi ekonomi di masa depan? Apakah krisis keuangan global di Eropa yang terjadi saat ini masih akan terus berlanjut hingga tahun depan, ataukah akan segera surut?

Apakah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang saat ini bergerak di level 4.000-an masih akan stagnan di kisaran itu, ataukah akan bergerak naik lagi, atau kembali tengkurap di bawah 4.000-an? Apakah harga saham dan obligasi akan segera naik kembali ataukah stagnan? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini menggambarkan adanya ketidakpastian atau risiko di setiap instrumen investasi.

Tentunya, ketidakpastian atau risiko seperti itu harus dihadapi. Bagi investor yang tetap konsisten untuk menanamkan uangnya di pasar modal, mau tidak mau ia harus membuat kalkulasi ulang, mengkaji kembali portofolio asetnya dari waktu ke waktu sesuai perkembangan ekonomi makro yang terjadi. Bahkan, kalau perlu, investor menata kembali model alokasi investasi atau alokasi asetnya.

Sebuah penelitian akademis yang diterbitkan dalam Financial Analyst Journal mengungkapkan bahwa salah satu faktor penting dalam menentukan kinerja portofolio investasi yaitu bagaimana investor membagikan investasinya ke berbagai instrumen investasi sehingga bisa menghasilkan imbal hasil yang maksimal. Penelitian itu menyimpulkan bahwa alokasi aset memberikan sumbangan sebesar 91 persen terhadap kinerja investasi.

Namun, menyusun alokasi aset seperti itu juga ditentukan oleh karakter investor dalam menghadapi risiko. Investor yang sifatnya risk averse biasanya mempunyai toleransi risiko yang kecil sehingga alokasi aset akan lebih banyak pada instrumen berpendapatan tetap dibandingkan dengan instrumen berisiko seperti saham.

Selanjutnya, investor yang sifatnya risk neutral, maka alokasi asetnya akan seimbang antara saham dengan instrumen pendapatan tetap. Tapi, bagi investor yang berani menantang risiko dan suka memacu adrenalin (risk taker), maka ia akan lebih banyak melakukan investasi di saham daripada instrumen pendapatan tetap.

Meski begitu, bukan berarti kelompok risk taker yang lebih gemar menanamkan uang di saham kemudian asal membeli saham yang tercatat di bursa. Seorang risk taker, kendati mayoritas investasinya berada di saham, tetapi tetap saja ia akan melakukan alokasi aset untuk saham-saham tertentu yang dinilai sebagai saham blue chips, tidak spekulatif dan aman. Jadi, kata kuncinya di sini adalah bagaimana mengalokasikan aset pada instrumen investasi secara optimal. (Tim BEI/yy/okezone)