15 Safar 1443  |  Kamis 23 September 2021

basmalah.png

Memilih Indeks Saham Unggulan

Memilih Indeks Saham UnggulanFiqhislam.com - Dua bulan berjalan di semester II tahun ini, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terlihat begitu bergejolak. Sempat mencetak kinerja cemerlang per Juli 2012 sebesar 4,72 persen, namun ramainya sentimen ketidakpastian global yang disertai lesunya data-data ekonomi negara-negara besar, seperti Uni Eropa dan China, membuat kinerja IHSG merosot -1,98 persen sepanjang Agustus 2012.

Meskipun demikian, kinerja year to date (YTD) per Agustus 2012 masih sukses mencetak angka positif, yakni 6,24 persen. Berlanjutnya antisipasi investor terhadap realisasi stimulus moneter dari sejumlah bank sentral negara-negara besar, seperti Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa disinyalir menjadi pemicu anjloknya IHSG.

Tak hanya itu, usainya euforia investor terhadap musim publikasi laporan keuangan per kuartal II-2012 dari emiten-emiten saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mayoritas mencetak kinerja positif dibanding periode sama tahun lalu turut menambah tekanan pada IHSG.

Saat ini, pergerakan IHSG pun terlihat masih tergantung pada harapan stimulus moneter dari Bank Sentral Eropa atau China untuk menopang kondisi perekonomian mereka yang lesu.Namun, apakah kabar tersebut berpeluang menopang laju IHSG atau justru menjadi penghambat? Menurut penulis, hal itu tampaknya sulit diperkirakan mengingat potensi perubahan kondisi cukup besar.

Dengan ketidakpastian tersebut, hal ini tentu tidak menyenangkan bagi investor, terutama yang menerapkan strategi investasi pasif, seperti buy and hold karena target investasi yang diharapkan pun menjadi sulit terukur. Apalagi, jika strategi investasi pasif tersebut hanya bertujuan mengalahkan kinerja IHSG.

Menanggapi hal tersebut, penulis mencoba melakukan pengamatan pada lima indeks saham di BEI yang berisi kurang dari 50 saham di dalamnya, di antaranya LQ-45, Bisnis-27, Sri-Kehati, JII (Jakarta Islamic Index), dan Pefindo-25 dengan periode sepanjang tiga tahun terakhir (Juli 2009-Juli 2012) yang mewakili periode jangka panjang dan year to date (YTD) sejak Juli 2012 yang mewakili periode jangka menengah.

Pengukuran untuk mendapatkan indeks saham yang berkinerja paling baik mencakup sisi return dan risiko serta disesuaikan dalam kondisi tertentu. Misalnya, saat terjadi tren koreksi besar (bearish) dalam jangka pendek. Berdasarkan tabel terlihat kinerja indeks Pefindo-25 menjadi yang teratas berdasarkan return YTD per Juli 2012 maupun tiga tahun terakhir, masing-masing 19,07 persen dan 153,21 persen jauh di atas kinerja IHSG dan LQ-45.

Bahkan, bila dibandingkan dengan kinerja indeks reksa dana saham (IRDSH) yang mencerminkan rata-rata pergerakan reksa dana saham secara keseluruhan, kinerja Pefindo- 25 juga lebih unggul lebih dari dua kali lipat. Sementara bila kinerja return di atas disesuaikan dengan risiko fluktuasi dari masing-masing indeks yang tercermin pada angka deviasi disetahunkan (annualized risk), perbandingan antara return terhadap annualized risk dari Pefindo-25 pun ternyata paling tinggi dibanding indeks saham lainnya, termasuk IHSG, masing-masing 0,93 dan 6,91.

Menurut penulis, solidnya kinerja indeks Pefindo-25 ditopang oleh solidnya fundamental emiten-emiten saham di dalamnya. Dengan kapitalisasi akhir Juli 2012, tercatat rata-rata kenaikan Pendapatan dan Laba Bersih dari saham-saham Pefindo-25 periode Februari-Juli 2012 sepanjang Q4-2011 masing- masing 40,9 persen dan 56,9 persen dan sepanjang Q1-2012, masing-masing 36,5 persen dan 49,5 persen.

Meskipun kinerja Pefindo-25 terlihat cemerlang dalam jangka menengah maupun panjang secara historis, bukan berarti tanpa kendala, terutama jika investor mencoba menerapkan sebagai bentuk portofolio investasi. Beberapa kelemahan tersebut, seperti pergantian saham-saham dalam indeks tiap enam bulan sekali dapat mempengaruhi besarnya kontribusi setiap sektor saham, perubahan prospek sektor saham yang mungkin terjadi, serta penyesuaian bobot saham dalam portofolio investor agar sesuai dengan bobot per saham dalam indeks Pefindo-25 yang dapat memicu tingginya biaya transaksi.

Dengan fakta-fakta statistik historis yang menarik di atas, tak diragukan lagi bahwa indeks Pefindo-25 layak sebagai alternatif pembentukan portofolio investasi saham dengan anjuran strategi investasi yang dilakukan lebih berorientasi ke jangka panjang. [yy/okezone]

MARLIN IGIR
Marketing www.infovesta.com