21 Rabiul-Awal 1443  |  Rabu 27 Oktober 2021

basmalah.png

Pinjam Meminjam Saham

Pinjam Meminjam SahamFiqhislam.com - Dalam industri keuangan, transaksi pinjam-meminjam dana atau surat berharga adalah hal yang biasa. Di perbankan ada istilah kredit, di multifinance ada istilah leasing, dan di pasar modal ada istilah margin.

Pada intinya, semua itu adalah bentuk pinjam-meminjam antara dua pihak. Kalau di perbankan pinjam-meminjam terjadi antara nasabah, bisa individu atau korporasi, dengan bank, di multifinance pinjam-meminjam terjadi antara nasabah dengan perusahaan pembiayaan, sedangkan di pasar modal pinjam-meminjam terjadi antara nasabah atau investor dengan perusahaan efek atau sekuritas.

Di manapun, setiap transaksi pinjam-meminjam selalu disertai dengan adanya jaminan. Jika seseorang meminjam uang atau kredit ke perbankan, maka ia harus menyediakan jaminan yang cukup. Begitupun di multifinance maupun pasar modal.

Nilai jaminan selalu lebih besar dibandingkan nilai uang yang dipinjam. Misalnya, jika nilai jaminannya 100, maka nilai kredit atau pinjaman maksimal adalah sebesar 80. Atau, jika berisiko, bisa saja nilai pinjaman yang diberikan hanya 50 persen dari nilai jaminan.

Perlu dipahami bahwa yang namanya jaminan, nilainya tidak stagnan. Nilai jaminan bisa berubah-ubah, tergantung pada jenis jaminannya. Jika jaminannya berupa properti seperti tanah atau rumah, mungkin tidak terlalu bermasalah karena nilainya relatif stabil bahkan meningkat.

Tapi, jika jaminannya berupa surat berharga seperti saham dan atau obligasi, maka nilainya dapat selalu berubah setiap waktu tergantung perkembangan harga surat berharga tersebut di pasar.

Di pasar modal, transaksi pinjam-meminjam dengan jaminan saham dan obligasi adalah bagian dari kegiatan transaksi yang terjadi sehari-hari. Transaksi margin dan repo (repurchase agreement) adalah contohnya. Transaksi margin adalah transaksi di mana sebagian dana yang diinvestasikan merupakan fasilitas pinjaman (margin) dari perusahaan efek.

Tidak semua nasabah atau investor bisa mendapatkan fasilitas margin dan tidak semua perusahaan efek bisa memberikan fasilitas margin kepada nasabahnya. Ada sejumlah syarat bagi investor untuk mendapatkan fasilitas margin dari perusahaan efek. Begitupun dengan perusahaan efek, ada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi agar bisa memberikan fasilitas margin kepada nasabahnya.

Lalu, bagaimana mekanisme margin diberikan? Setiap perusahaan efek yang berhak memberikan fasilitas margin selalu membuat kebijakan atau formula besaran margin yang diberikan. Misalnya, fasilitas margin maksimal 60 persen dari nilai jaminan. Artinya, jika investor X memiliki nilai portofolio sebagai jaminan sebesar Rp100 juta, maka ia bisa memperoleh fasilitas margin sebesar Rp60 juta sehingga ia bisa melakukan investasi saham hingga Rp160 juta.

Ketika perjanjian pinjam-meminjam ini telah disepakati, investor X tentunya harus berhati-hati dan berhitung matang dalam menggunakan fasilitas margin yang diberikan. Jika semua fasilitas sudah dipergunakan, misalnya nilai investasinya telah mencapai Rp160 juta, sementara kondisi pasar sedang bearish, maka fasilitas margin yang diterimanya akan sangat berisiko.

Misalnya, karena harga saham di pasar turun, maka nilai jaminan juga turun menjadi Rp80 juta. Akibat penurunan itu, investor X harus melakukan top up atau menambah nilai jaminan sebesar Rp20 juta (bunga pinjaman diabaikan). Dengan top up  itu, komposisi pinjaman tetap berada di angka 60 persen dari nilai jaminan. Jika investor X tidak segera melakukan top up, maka perusahaan efek bisa menjual saham yang dijaminkan (force sell) ke pasar.

Formula margin ini perlu dipahami oleh investor. Sebab, dalam banyak kasus, ketika nilai jaminan merosot dan komposisi margin sudah melewati ambang batas, investor margin masih enggan melakukan top up. Untuk itu, perusahaan efek dan investor perlu saling memahami bagaimana fasilitas margin diberikan dan kapan top up harus dilakukan. (Tim BEI/yy/okezone)