fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


7 Ramadhan 1442  |  Senin 19 April 2021

Investor Asing

Investor AsingFiqhislam.com - Berdasarkan kewarganegaraannya, investor di pasar modal dibedakan dalam dua kelompok besar, yakni investor dalam negeri atau lokal dan investor asing. Dahulu, komposisi transaksi investor asing jauh lebih dominan dibandingkan investor domestik. Tapi, kini porsi investor asing dan domestik mulai seimbang, bahkan investor lokal cenderung lebih mendominasi.

Data Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) sepanjang Agustus 2012 menunjukkan bahwa nilai transaksi investor lokal masih lebih besar dibandingkan investor asing, yaitu 55 persen investor lokal dan 45 persen investor asing.

Meski begitu, toh aksi investor asing selalu menjadi perhatian. Maklum, irama pergerakannya di pasar selalu memberikan kontribusi yang signifikan dalam menentukan arah pasar. Ketika investor asing masuk, indikator perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) melompat naik.

Bahkan, masuknya mereka tidak jarang ikut membangunkan saham-saham lapis dua yang dikenal sebagai saham tidur (sleeping stock). Sebaliknya, ketika investor asing berbondong-bondong keluar, IHSG ikut terseret jatuh.

Begitulah kejadiannya selama bertahun-tahun di BEI, investor asing seolah-olah menjadi faktor penentu dalam perubahan indeks dan arah pasar. Akibatnya, investor asing seringkali tampil sebagai komandan lapangan. Ia tidak pernah ketinggalan untuk ‘berpesta’ ketika indeks naik dan tidak pernah terlambat ‘pulang’ ketika indeks menukik tajam. Investor asing selalu kembali membawa gain dan meninggalkan pasar dengan senyum tersungging.

Pertanyaannya, mengapa seringnya demikian fenomenanya selama bertahun-tahun? Mengapa investor lokal cenderung menempatkan diri sebagai pengekor yang bergerak di belakang investor asing?

Ketika industri reksadana belum tumbuh di pelataran pasar modal Indonesia, semua pelaku pasar dan juga masyarakat luas maklum terhadap fenomena tadi. Investor lokal yang aktif di pasar lebih banyak diisi oleh investor individu dan investor lembaga yang terdiri dari dana pensiun dan asuransi. Belum ada investor institusi lokal profesional yang keputusan investasinya berdasarkan pada logika akal sehat dan nalar fundamental yang kuat.

Kini, industri reksadana sudah tumbuh pesat dengan Nilai Aset Bersih (NAB) di atas Rp175 triliun. Dengan nilai NAB sebesar itu, semestinya industri reksadana memiliki kekuatan dan pamor yang besar untuk memberikan warna dalam menentukan arah pasar. Tapi, nyatanya investor asing masih terlalu kuat untuk diremehkan. Ia masih menjadi kekuatan penentu dalam pergerakan pasar.

Namun, perlu dipahami pula bahwa dana-dana yang diboyong investor asing ke Indonesia itu adalah dana jangka pendek (hot money). Ia bisa masuk sewaktu-waktu tanpa diundang dan bisa pergi sewaktu-waktu tanpa pamit. Ketika IHSG melesat memecahkan rekor di posisi 4.193,44 pada 1 Agustus 2011 lalu, disebut-sebut bahwa fenomena ini dikarenakan masuknya investor asing yang percaya bahwa perekonomian Indonesia masih akan tumbuh di atas 6 persen, bahkan di tengah perekonomian global yang diwarnai oleh krisis Eropa.

Indonesia dinilai sebagai negara yang layak investasi. Tapi, ketika IHSG kemudian turun ke titik 3.269,45 pada 4 Oktober 2011, disebut-sebut bahwa investor asing tengah lesu karena krisis di Eropa yang semakin mengkhawatirkan. Fakta ini membuktikan bahwa investor asing bisa keluar masuk pasar dengan alasan apapun.

Di sinilah perlunya peran investor lokal sebagai penyeimbang kekuatan investor asing. Pasar modal Indonesia perlu didukung oleh basis investor lokal yang kuat sehingga, ketika investor asing keluar, investor lokal tetap bisa mengimbanginya. Kalaupun investor lokal masih mengikuti pola transaksi yang dilakukan oleh investor asing, hendaknya tidak terlalu berlebihan, apalagi sampai mendewakannya.

Perlu dipahami bahwa investasi di pasar modal bagaimanapun merupakan bentuk investasi portofolio yang memiliki karakter khusus. Salah satu karakter investasi ini adalah sifatnya yang begitu cepat, berjangka pendek, dan mudah untuk sewaktu-waktu keluar masuk pasar.

Ketika investor asing masuk dengan volume besar, mungkin saja investor ritel (lokal) akan menikmati keuntungan. Tapi, sebaliknya, jika giliran investor asing yang melepas saham, juga dengan volume yang besar, mereka akan melakukannya dengan cepat dan tanpa diduga sehingga menimbulkan risiko pada investor ritel yang terlanjur mengikuti pola transaksi para investor asing tersebut.

Namun, investor lokal, termasuk investor ritel sekalipun, bagaimanapun juga memiliki kemampuan analisis. Bukan mustahil jika hasil analisis investor ritel bisa berbeda dengan investor asing dan bukan mustahil pula jika hasil analisis investor ritel lebih teruji saat memasuki pasar. Oleh karena itu, investor sebaiknya tetap mengandalkan keputusan investasi pada perhitungan dan analisisnya sendiri. Jangan terlalu mengekor pada investor asing karena investor asing bukanlah dewa yang bisa memastikan keuntungan yang diperoleh. (Tim BEI/yy/okezone)