18 Safar 1443  |  Minggu 26 September 2021

basmalah.png

Controlling Shareholders

Controlling ShareholdersFiqhislam.com - Dalam sebuah perusahaan, struktur pemegang saham seringkali dibedakan dalam istilah pemegang saham mayoritas dan pemegang saham minoritas.

Pemegang saham mayoritas ditujukan kepada mereka yang menguasai atau memiliki 50 persen plus 1 atau lebih sehingga menjadi pemegang saham pengendali (controlling shareholders).

Sedangkan pemegang saham minoritas adalah kelompok lain yang kepemilikan sahamnya di bawah 50 persen. Membelah pengertian pemegang saham dalam polarisasi ekstrem seperti itu tidaklah keliru, tapi terlalu sederhana sehingga kurang jelas pemahamannya.

Dalam praktiknya, banyak perusahaan yang pemegang sahamnya tidak hanya terdiri dari dua pihak. Banyak sekali perusahaan yang pemegang sahamnya lebih dari dua pihak dengan komposisi kepemilikan yang beraneka ragam.

Oleh karena itu, untuk bisa menempatkan diri sebagai pemegang saham mayoritas, seseorang atau suatu institusi tidak selalu harus memiliki porsi di atas 50 persen. Dalam banyak kasus, pemegang saham yang hanya memiliki 25 persen atau 30 persen sudah bisa tampil sebagai pemegang saham mayoritas sekaligus pemegang saham pengendali (controlling shareholders).

Namun demikian, kenyataannya kadang pemegang saham mayoritas belum tentu secara otomatis menjadi pemegang saham pengendali. Misalnya sebuah perusahaan XYZ, pemegang sahamnya terdiri dari empat pihak A, B, C dan D. Komposisi sahamnya terdiri dari pemegang saham A sebesar 20 persen, B sebesar 30 persen, C sebesar 35 persen, dan D sebesar 15 persen.

Secara kasat mata, tidak bisa dibantah bahwa C adalah pemegang saham mayoritas. Tapi, dalam realitasnya, terutama dalam mekanisme pengambilan keputusan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), bisa saja pemegang saham A, B, dan D berkoalisi dan tampil sebagai pemegang saham pengendali.

Kepemilikan saham C yang sebesar 35  persen tidak cukup untuk mengalahkan komposisi gabungan A, B, dan D. Dalam contoh ini, A, B, dan D secara bersama-sama tampil sebagai pemegang saham mayoritas dan sekaligus sebagai controlling shareholders dengan total kepemilikan saham 65 persen. Sedangkan C hanya sebagai pemegang saham minoritas.

Pada banyak perusahaan publik di Indonesia umumnya pemegang saham pengendali (controlling shareholders) masih dikuasai oleh keluarga atau pendiri. Oleh karena itulah, controlling shareholders di Indonesia biasanya hanya terdiri dari satu pihak.

Kalaupun controlling shareholders itu terdiri dari beberapa pihak, biasanya di antara mereka masih ada hubungan afiliasi atau hubungan darah, baik secara horisontal maupun vertikal. Jarang sekali ada controlling shareholders yang terdiri dari beberapa pihak.

Dalam konteks perusahaan publik, struktur pemegang saham dan posisi controlling shareholders perlu mendapatkan perhatian. Sejauh ini, struktur pemegang saham perusahaan publik atau emiten seringkali luput dari pengamatan dan analisis investor. Seolah-olah struktur pemegang saham tidak memiliki arti apa-apa dalam menentukan kinerja perusahaan. Padahal nyatanya tidaklah demikian. Banyak hal penting dalam perusahaan ditentukan oleh struktur pemegang sahamnya.

Dalam contoh di atas, anggap saja perusahaan XYZ adalah emiten yang sahamnya tercatat dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia. Andaikan saja controlling shareholders yang terdiri dari A, B, dan D tetap solid dan satu visi, maka jalannya perusahaan kemungkinan besar juga solid. Manajemen yang mengendalikan perusahaan, yang terdiri dari kalangan profesional, tidak akan menghadapi konflik dengan pemegang saham perusahaan. Tapi akan beda ceritanya jika salah satu saja dari A, B, atau D tidak kompak, maka konflik itu akan dengan mudah menjalar ke manajemen perusahaan.

Manajemen kemungkinan besar akan menghadapi apa yang disebut dengan istilah agency problem, yaitu konflik antara pemegang saham dengan manajemen. Manajemen akan bingung, pemegang saham mana yang akan diikuti kemauannya. Belum lagi jika pemegang saham C memiliki sikap yang berbeda lagi, potensi konflik yang terjadi sudah pasti akan lebih rumit. (Tim BEI/yy/okezone)