fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


7 Ramadhan 1442  |  Senin 19 April 2021

Rasio per Saham

Rasio per SahamFiqhislam.com - Membandingkan kinerja atau fundamental emiten senantiasa dilakukan investor untuk menentukan pilihan investasi. Untuk perbandingan seperti itu, dibutuhkan ketelitian yang mendalam.

Perbandingan yang digunakan tidak hanya sekadar berpijak pada prinsip apple to apple agar menghasilkan perbandingan yang fair. Tapi lebih dari itu, perbandingan harus dilakukan dengan perhitungan yang cermat.

Kadang-kadang investor masih sering mengalami kesalahan dalam membuat perbandingan kinerja emiten. Angka absolut dibandingkan begitu saja antara emiten satu dengan emiten lainnya. Misalnya emiten A berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp100 miliar, sedangkan emiten B mencatatkan laba bersih sebesar Rp150 miliar.

Kondisi ini langsung disimpulkan seolah-olah kinerja emiten B pasti lebih baik dibandingkan dengan kinerja emiten A. Padahal, sejatinya belum tentu begitu. Bisa jadi justru sebaliknya, prestasi emiten A lebih baik daripada emiten B.

Untuk melakukan perbandingan yang benar, semua komponen harus dibandingkan. Misalnya nilai aset, modal, jumlah saham, dan sebagainya. Misalnya emiten B memiliki modal sebesar Rp2 triliun, sementara emiten A hanya memiliki modal sebesar Rp1 triliun. Dengan modal sebesar Rp2 triliun, emiten B hanya bisa menghasilkan laba bersih sebesar Rp150 miliar atau hanya 7,5 persen dari modal.

Sementara emiten A yang memiliki modal Rp1 triliun malah mampu menghasilkan laba bersih sebesar Rp100 miliar atau 10 persen dari modal. Selain itu, jika investor ingin membandingkan semua komponen, banyak metode perbandingan lain yang bisa ditempuh.

Untuk membuat analisis yang lebih cepat, salah satu teknik yang kerap digunakan adalah melakukan perbandingan per saham atau rasio per saham. Misalnya soal laba bersih, jangan terpana pada nilai absolut, tetapi fokuslah pada berapa nilainya per saham.

Kembali ke ilustrasi di atas. Jika emiten A yang modalnya Rp1 triliun memiliki jumlah saham sebanyak 1 miliar lembar, maka berarti laba bersih per sahamnya (Earning Per Share-EPS) adalah Rp100. Sedangkan emiten B, dengan modal Rp2 triliun memiliki jumlah saham sebanyak dua miliar lembar, berarti laba bersih per sahamnya adalah Rp75. Dengan melihat rasio per saham ini bisa langsung disimpulkan siapa di antara emiten A dan B yang kinerjanya lebih baik.

Rasio per saham itu menjadi acuan penting. Untuk menghitung Price Earning Ratio (PER) misalnya, yang selalu menjadi rujukan dalam pemilihan portofolio, nilai laba (earning) yang digunakan bukanlah nilai absolut, melainkan nilai per saham.

Pada contoh di atas, dengan asumsi harga saham di pasar sama, yaitu misalnya Rp1.000, maka PER untuk emiten A adalah 10 kali, dan PER untuk emiten B adalah 13,3 kali. Dari sini bisa dibuktikan bahwa emiten A memang lebih baik dibandingkan emiten B.

Persoalannya, bagaimana jika harga saham kedua emiten itu di pasar berbeda. Misalnya saham emiten A ditransaksikan di harga Rp1.000, sedangkan saham emiten B diperdagangkan di harga Rp800. Pilihan mana yang lebih baik.

Secara absolut, tampak bahwa harga saham emiten A lebih mahal dari emiten B. Tapi, jika disimak dari nilai PER, saham A memiliki PER 10 kali dan emiten B memiliki PER 10,66 kali. Dari rasio tersebut tampak bahwa saham A, meskipun secara absolut lebih tinggi, sebenarnya masih lebih murah dibandingkan emiten B. (Tim BEI/yy/okezone)