16 Rabiul-Awal 1443  |  Sabtu 23 Oktober 2021

basmalah.png

Resesi dan Hubungannya dengan Harga Saham

Resesi adalah penurunan aktifitas ekonomi ketingkat yang yang lebih rendah dari sebelumnya. Ciri-cirinya ditandai oleh perlambatan ekonomi, yaitu laju pertumbuhan ekonomi (GDP) pada triwulan ini lebih kecil atau sama (dengan trend menurun dibanding) dengan triwulan lalu.

Perekonomian ini akan mengikuti suatu perputaran bisnis (business cycle) dari laju pertumbuhan yang negatif sampai akhirnya terjadii pembalikan dimana laju pertumbuhan kembali positif. Masa selama pertumbuhan GDP negatif tersebut kita sebut masa resesi. Apabila laju perlambatan negatif tersebut terlalu besar maka sering disebut perekonomian masuk dalam depressi.

Apabila suatu perekonomian masuk dalam resesi, maka daya beli perekonomian tersebut akan menurun. Permintaan akan barang dan jasa untuk dikonsumsi juga akan menurun, sehingga investasi juga menurun karena pengusaha akan merugi. Semakin investasi melambat semakin sedikit lapangan kerja yang akhirnya berujung semakin kecil lagi daya beli, demikian berputar seterusnya semakin kecil lagi investasi dan seterusnya.

Kondisi ini harus dijawab dengan Kebijakan Fiskal ataupun Kebijakan Moneter atau kombinasi kedua kebijakan tersebut. Dalam hal ini Gubernur Bank Sentral dan Menteri Keuangan harus mengambil peran untuk memutus rantai/lingkaran tadi supaya laju pertumbuhan ekonomi menjadi positif, melalui pengelolaan dan alokasi APBN dari sisi fiskal serta kebijakan penurunan suku bunga dari sisi moneter, atau kebijakan moneter lainnya.

Apabila resesi terjadi di Amerika maka daya beli konsumen berkurang, sehingga importnya berkurang, atau dengan kata lain ekspor Indonesia berkurang ke Amerika. Nah apakah Anda memiliki saham dari perusahaan yang hasil produksinya diekspor ke Amerika, atau ke negara yang melakukan banyak aktivitas ekspor ke Amerika Serikat, maksudnya langsung atau tidak langsung. Kalau tidak, maka harga saham Anda tidak akan terpengaruh oleh resesi yang terjadi di Amerika. Pengaruh yang ada adalah sentimen pasar, bukan fundamental, artinya dalam jangka menengah saham Anda akan tenang-tenang saja. Mungkin ikut turun sedikit tapi akan kembali ke harga semula karena secara fundamental tidak ada pengaruhnya.

Untuk mencermati efek resesi Amerika di Bursa Efek Indonesia, adalah dengan memilih saham-saham yang tidak ada hubungannya dengan ekspor ke Amerika langsung maupun tidak langsung.

Yang kedua, apabila ekonomi menuju perlambatan atau masuk dalam periode resesi, maka Gubernur bank sentral akan melakukan kebijakan moneter dalam bentuk penurunan suku bunga. Penurunan suku bunga ini akan mengurangi pendapatan Manajer Investasi yang memegang dana pendapatan tetap. Dengan demikian prestasinya akan menurun, oleh karenanya mereka akan mengeluarkan dananya dari pendapatan tetap seperti deposito dan obligasi ke equity.

Kemudian yang akan terjadi adalah para Manajer Investasi di Amerika tersebut memindahkan dananya ke negara lain yang suku bunga nya tidak diturunkan, sehingga ada relative income atas bunga yang diperoleh. Atau dana tersebut pergi ke pasar saham di negara lain yang mempunyai return bersih (return setelah dikurangi faktor resiko) yang lebih tinggi.

Disamping itu sentimen pasar yang positif di Amerika karena penurunan suku bunga menyebabkan timbulnya sentimen pasar positif regional sehingga bursa efek Indonesia ikut positif.

Dalam jangka menegah biasanya paling lama 4 sampai 6 bulanan semua efek resesi yang mungkin terjadi dan yang dapat diramalkan sudah di refleksikan oleh harga pasar saham. Dengan demikian, setelah itu harga saham akan pulih dan akan mencoba kenaikan harga baru.

Untuk investor jangka menegah yang bisa bertahan sampai 6 bulan, pengaruh resesi tidak akan berarti, apalagi resesi tersebut di Amerika, atau Anda memiliki saham perusahaan yang tidak terkait dengan ekpor ke Amerika.

Jadi kalau Anda punya saham yang sedang menurun karena efek resesi dari Amerika, tunggu saja 4 sampai 6 bulan, maka harganya kemungkinan besar sudah kembali. Kalau Anda tunggu setengah tahun kemudian setelah itu, kenaikan harganya kemungkinan besar masih akan tetap  diatas suku bunga depasito bank.

Apalagi kalau saham Anda tidak terkait dengan efek resesi dari Amerika, maka saham Anda akan tetap mengalami kenaikan harga sesuai dengan kenaikan laba perusahaan plus prospek industrynya.  So, don’t worry, keep investing…..

wealthindonesia.com