fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


5 Ramadhan 1442  |  Sabtu 17 April 2021

Investasi Saham Langsung

Investasi Saham LangsungFiqhislam.com - Menyaksikan tingginya return saham dalam limasepuluh tahun terakhir sangat wajar jika banyak pemilik uang tergoda untuk mengalihkan dananya dalam saham. Siapa yang tidak tergiur dengan return saham yang sering mencapai puluhan persen dalam satu tahun.

Itu baru capital gain dan belum termasuk dividen. Sebagian dari mereka lalu mencari tahu apakah sebaiknya berinvestasi saham langsung atau melalui reksa dana saham? Isu di atas sejatinya cukup sering dibahas. Namun, beda penulis tentunya beda argumen dan rekomendasi. Sebenarnya ada persoalan yang lebih penting daripada pertanyaan di atas.Bahwa di balik besarnya return, investor tidak boleh mengabaikan tingginya risiko saham.

Jika sedang tidak beruntung,investasi saham bisa membangkrutkan kita dengan kerugian sampai 51% dalam setahun seperti di tahun 2008 atau merosot 65% dalam 15 bulan seperti pada Juni 1997 – September 1998. Mau yang lebih dahsyat lagi? Investor saham di bursa Tokyo harus rela portofolionya turun sampai 75% selama 23 tahun terakhir karena indeksnya pernah mencapai 38.000 di tahun 1989 dan sekarang nongkrong di 8.700.

Di depan mahasiswa, secara bercanda, saya suka mengatakan,karena kejatuhan tajam indeks saham inilah orang Jepang bertekad untuk berumur panjang. Investasi saham mereka dua puluh tiga tahun yang lalu belum balik modal dan mereka tidak rela portofolio mereka terus rugi.Mereka ingin menyaksikan keuntungan dari investasi saham mereka.

 Ini terjadi karena indeks Nikkei pada 1989 mengalami bubbling terutama untuk harga saham properti.Karena itulah, orang Jepang lebih suka menyebut bursanya sebagai Pasar Modar dan bukan pasar modal. Anda tahu kan artinya “modar”?

 Keputusan di Tangan Anda

Setelah memahami soal return dan risiko saham ini, saran saya kepada para calon investor saham sebaiknya melakukannya secara langsung. Sedikitnya ada lima kelemahan berinvestasi melalui reksa dana saham di mata saya.

Pertama, Anda tidak akan memperoleh dividen sebab dividen yang diperoleh reksa dana saham akan direinvestasikan dalam saham dan tidak dibagikan karena satu atau dua alasan. Untuk Anda ketahui, dalam lima tahun terakhir, investor saham langsung mendapatkan dividend yield sekitar 2-3% per tahun untuk saham-saham LQ-45 dan lebih besar lagi yaitu 5-7% untuk saham lapis kedua dan ketiga.

Kedua, reksa dana saham sering mengenakan subscription fee dan redemption fee. Biaya ini tidak dialami investor saham langsung. Jika biaya masuk keluar ini sampai 3% atau lebih, siap-siap keuntungan bersih investasi Anda akan tergerus sebesar ini. Biaya sebesar ini ketinggian karena yang dilakukan manajer investasi sesungguhnya dapat ditebak yaitu membeli saham-saham berkapitalisasi besar yang juga masuk dalam LQ-45.

Ketiga, para manajer investasi pengelola reksa dana saham umumnya menerapkan strategi aktif dengan mengandalkan analisis teknikal.Akibat strategi dan pendekatan ini,mereka bertransaksi dengan sering sehingga biaya transaksi pun menjadi besar. Padahal Barber dan Odean (2000) menuliskan bahwa,“Trading is hazarduous to your wealth.”Tidak mengherankan jika sebagian besar reksa dana saham hanya mampu memberikan return (kenaikan NAB) di bawah return pasar (IHSG).Investor tentu akan lebih sedih jika sudah tidak dapat dividend yield, capital gain investor dalam reksa dana saham juga lebih rendah daripada kenaikan IHSG atau kenaikan NAB rata-rata reksa dana saham.

Keempat, manajer investasi reksa dana saham umumnya menerapkan strategi diversifikasi agar risikonya minimum.Padahal diversifikasi mengandung empat kelemahan yang sangat jarang dituliskan atau diungkapkan para pakar keuangan.

Diversifikasi adalah Pilihan

Pertama, diversifikasi itu berangkat dari paradigma minimisasi risiko dan premis bahwa investor itu adalah risk-averse.Diversifikasi menjadi kurang tepat untuk investor individu yang risk-taker dengan paradigma investasi maksimisasi return.

Kedua, melakukan diversifikasi membuat seorang investor tidak fokus. “The more you diversify, the less you know about any one area,” tulis William J Oneil. Ketiga, strategi diversifikasi akan membuat beta portofolio sekitar satu sehingga kinerja investasi akan bergerak mengikuti IHSG. Keempat,diversifikasi akan membuat Anda tidak gesit dalam menyikapi dan mengantisipasi pasar terutama ketika pasar mulai bearish.

Menyadari kelemahan di atas, sebagai investor individu, sejak beberapa tahun terakhir saya lebih menyukai dan menerapkan portofolio yang terdiri atas sekitar lima saham. Investor saham langsung juga dapat melakukan diversifikasi sendiri jika dia ingin meminimumkan risiko dan mempunyai dana minimal seratus juta rupiah.Alternatif lain diversifikasi saham jika dana yang ada hanya belasan hingga puluhan juta rupiah adalah dengan membeli ETF saham LQ-45.Tetapi,dia mempunyai pilihan lain yaitu fokus jika dia ingin memaksimalkan return.

Kelima, sebagai investor saham langsung, Anda dapat menerapkan prinsip dasar investasi buy what you know and know what you buy seperti yang dianjurkan Peter Lynch. Manajer investasi, karena harus diversifikasi dan masih mempercayai analisis teknikal dan momentum, kadang mengabaikan prinsip utama ini.

Ketahuilah, manajer investasi itu sangat khawatir kinerja reksa dana kelolaannya di bawah return IHSG karena akan memengaruhi penilaian publik dan prospeknya. Intinya,untuk saham,Anda dapat menjadi manajer investasi untuk dana sendiri.

Anda dapat memperoleh dividen, bebas memilih strategi fokus atau diversifikasi, aktif atau pasif, tidak kena fee masuk dan fee keluar, dan dapat menerapkan prinsip dasar investasi ala Peter Lynch yaitu hanya mengoleksi sahamsaham yang dikenal dan dipahami dengan sangat baik. [yy/okezone]


Budi Frensidy 
Penasihat Investasi dan Penulis Buku Matematika Keuangan