fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


2 Ramadhan 1442  |  Rabu 14 April 2021

Barter yang Menyelamatkan Negeri Dari Depresi

Barter yang Menyelamatkan Negeri Dari Depresi

Fiqhislam.com - Ketika Albert Einstein menyaksikan bagaimana kehebatan suku Indian Navajo dalam perdagangan barternya, dia berkomentar “Bila saya berkesempatan hidup sekali lagi, saya akan memilih menjadi pedagang ketimbang jadi ilmuwan. Saya pikir barter adalah hal yang mulia, saya pingin tahu lebih banyak tentangnya…”. Kekaguman Einstein ini bukan tanpa alasan, karena perdagangan barter pernah menyelamatkan suatu negeri dari Great Depression 1930-an pada jamannya.

Awalnya adalah Herr Hebecker pemilik tambang batu bara yang nyaris bangkrut di puncak Great Depression dunia tahun 1930-an, ketika dia tidak bisa membayar buruhnya dengan Reich Marks – uang Jerman waktu itu – dia memutuskan membayar buruhnya dengan produk perusahaan sendiri yaitu batu bara.

Tentu batu bara ini sangat merepotkan bila dibawa-bawa, maka dia mengganti batu bara tersebut dengan kertas tempel yang disebut Wara. Di belakang kertas ini diberi tempat untuk menempelkan semacam perangko – yang merepresentasikan jumlah upah batu bara yang diterima oleh setiap buruhnya.

Awalnya para buruh tentu keberatan diupah dengan Wara, namun karena bila mereka tidak menerima pembayaran dengan Wara  perusahaan akan bangkrut – mereka terpaksa menerimanya. Untuk apa Wara ini? untuk para buruh membayar kebutuhannya sehari-hari. Apakah toko-toko setempat  menerima Wara ini?

Di kota kecil kota tambang Schwanenkirchen – Jerman Selatan saat itu ekonominya ya dari para buruh ini, bila toko-toko tidak menerima Wara – buruh tidak bisa hidup dan tambang harus ditutup. Maka toko-toko-pun akhirnya menerima Wara ini.

Lantas bagaimana toko-toko menggunakan Wara untuk kulakan?, sekali lagi bila para grosir di kota besar tidak menerima Wara – dia akan kehilangan jaringan retail langganannya di Schwanenkirchen. Maka para juragan grosir ini-pun akhirnya menerima Wara. Hal yang sama kemudian dilakukan para Grosir terhadap para produsennya, mereka harus menerima Wara – karena kalau tidak mereka akan kehilangan sebagian pasarnya.

Lantas kemana lagi  Wara setelah diterima para produsen?, Mereka membutuhkan bahan bakar untuk pabrik-pabriknya. Mereka tahu yang mengeluarkan Wara itu adalah sebuah tambang batu bara, dan Wara sendiri mewakili sejumlah stok batu bara – maka mereka tinggal klaim fisik batu baranya ke pengeluar Wara dan produsen asal batu bara tersebut.

Tidak sampai satu tahun, ekonomi berbasis uang fisik batu bara yang diwakili oleh Wara ini berhasil menghidupkan tambang yang hampir bangkrut, menghidupkan kembali ekonomi kota Schwanenkirchen dan bahkan menjadi salah satu inspirasi kebangkitan ekonomi Jerman pasca the Great Depression.

Barter dengan uang batu bara yang terwakili oleh Wara ini menjadi awal barter modern. Bila barter kuno sebelum adanya uang mengandalkan dua orang yang saling memiliki barang yang kebetulan saling dibutuhkan oleh orang yang lain –coincidence of want, maka barter modern melibatkan sejumlah pihak yang secara bersama-sama saling memenuhi kebutuhannya.
Menurut International Reciprocal Trade Association (IRTA) – yang mewadahi para pelaku barter dunia, saat ini tidak kurang dari 400,000-an perusahaan terlibat dalam transaksi barter dengan melibatkan turn-over yang lebih dari US$ 12 milyar per tahunnya.

Jadi meskipun orang modern lebih suka menggunakan uang, transaksi barter tetap eksis dan bahkan cenderung meningkat kembali oleh berbagai sebab. Selain oleh sebab krisis seperti yang terjadi di Jerman dalam contoh kasus tersebut, barter bisa menjadi peluang baru untuk menghidupkan ekonomi lokal, memanfaatkan idle capacity, membuka pasar baru, meningkatkan cash flow, menurunkan ongkos produksi, meningkatkan profit margin, membuka lapangan kerja baru dlsb.

Dengan ekonomi berbasis uang, ketika pemerintah membagikan dana BLT (Bantuan Langsung Tunai) Rp 300.000 per keluarga misalnya. Berapa lama uang tersebut memutar ekonomi desa, kecamatan, kabupaten dan propinsi ?, dugaan saya tidak sampai sebulan.

Segera setelah masyarakat menerima uangnya, uang tersebut dibelanjakan ke toko desa untuk membeli mie instan, minyak goreng, beras dan bahkan pulsa dlsb. Hari berikutnya uang tersebut telah pindah ke grosir kecamatan, minggu berikutnya sudah pindah ke grosir tingkat kabupaten, minggu berikutnya lagi uang sudah pindah ke tingkat propinsi dan tidak sampai sebulan uang sudah ketarik kembali ke para produsen yang rata-rata berada di ibu kota.

Bayangkan bila jumlah uang yang sama menjadi mesin produksi untuk barang-barang yang dibarter di desa-desa. Sayuran, telur ayam kampung, singkong, ubi, jagung, beras dlsb. produk dari masyarakat setempat saling dipertukarkan dan saling mensupport satu sama lain – ekonomi desa akan berputar dan barangkali bahkan bisa menghidupkan skala ekonomi yang lebih luas seperti pada kasus Schwanenkirchen tersebut di atas!

Barter modern intinya adalah ekonomi tertutup yang berbasis komunitas yang saling memenuhi kebutuhan masing-masing. Manfaatnya akan dirasakan oleh seluruh pelaku karena ada ikatan imaginer untuk saling membeli produk barang atau jasa masing-masing.

Mereka tetap bisa menjual ekses produksi keluar komunitas, tetapi produk yang dikonsumsi oleh sesama anggota komunitas akan secara otomatis membentuk harga discount. Dari mana harga discount ini? Dari harga beli barang yang satu dibeli dengan barang yang lain – harga barang masing-masing adalah harga jual. Padahal harga jual tersebut sudah memasukkan unsur margin keuntungan bagi masing-masing produsennya.

Jadi para pelaku barter sebenarnya secara otomatis membeli barang dari pelaku lain pada harga yang lebi rendah – yaitu lebih rendah sebesar gross margin-nya masing-masing.

Ambil contoh ilustrasi di samping untuk lebih detilnya. Ketika perusahaan hunian E membayar perusahaan konstruksi A pada harga jual E, perusahaan E menikmati discount sebesar gross margin-nya sendiri sebesar 22.5 % karena sesungguhnya ongkos untuk menyediakan hunian E hanya sebesar harga jual dikurangi gross margin-nya. Jadi A menerima bayaran berupa hunian E pada harga yang sama dengan harga pasar (termasuk gross margin E), tetapi E sendiri hanya membayar sebesar Cost of Good Sold-nya (COGS) .

Hal yang sama dengan A ketika membeli jasa transportasi B, dia membayar lebih rendah 15% dari yang dibayar orang lain di luar sistem barter. Karena harga A membayar dengan penjualan jasa konstruksinya yang sudah memasukkan unsur Gross Margin-nya yang 15%. Begitu seterusnya.

Karena manfaat dan peluangnya yang luar biasa dari sistem Barter ini baik bagi para pelaku maupun berputarnya ekonomi setempat, saat ini kami bekerja keras untuk menyiapkan sistem, melakukan riset, pengembangan dlsb. agar sistem ini segera available kembali di masyarakat – sebelum keburu great depression, krisis moneter, krisis financial dlsb. kembali berulang seperti yang terjadi dalam beberapa dekade terakhir.

Bila orang seperti Albert Eintein-pun kagum dengan kecanggihan barter seperti yang saya kutip di atas, itu karena barter ini ibarat batu permata yang lama terkubur dan perlu diasah. Bila kita tekun dan bener-bener bisa  mengasahnya, maka peluang besar itu akan hadir kembali untuk kita – maupun masyarakat di sekitar kita di jaman ini.

Bila Anda termasuk yang ingin menjadi orang-orang awal yang ikut menggosok batu permata bernama barter ini, insyaAllah hasil riset dan litbang kami di bidang ini akan kami share ke masyarakat yang membutuhkannya akhir Januari atau Februari 2013 dalam acara “Barter Modern: Berbagi Visi dalam Membangun Kekuatan dan Ketahanan Ekonomi”. Vision Sharing ini juga akan ditindak lanjuti dengan workshop intensif untuk yang berminat membuka barter shop atau barter broker. Anda sudah bisa mendaftarkan diri untuk acara tersebut bila berminat. InsyaAllah.
[yy/hidayatullah]

Oleh Muhaimin Iqbal
Penulis Direktur Gerai Dinar, kolumnis hidayatullah.com