17 Safar 1443  |  Sabtu 25 September 2021

basmalah.png

Haramkah Pinjaman Koperasi?

Tanya: Assalamu’alaikum wr wb, Di lingkungan saya ada koperasi yang akan mengerjakan suatu proyek. Pendanaannya ditawarkan kepada anggota, dengan pola bagi hasil di mana pemodal akan mendapatkan keuntungan sebesar 1,5 persen per bulan dari modal yang ditanamkan. Apakah sistem ini termasuk riba? Kalau termasuk riba, bagaimana seharusnya pendanaan proyek yang syar’i? bagaimana dengan sistem peminjaman di bank syariah. Yang saya ketahui, misalnya kita mengajukan pinjaman untuk rumah seharga Rp 40 juta, maka nasabah dibelikan dulu rumahnya oleh bank syariah seharga Rp 45 juta. Nanti yang dicicil nasabah adalah dari yang Rp 45 juta itu. Bagaimana penjelasan bahwa model seperti ini adalah bagi hasil dan bukan riba? (Meutia Miranti meu@indosat.com)

Haramkah Pinjaman Koperasi?Fiqhislam.com - Wa’alaikumsalam Wr Wb, Sebelum menjawab pertanyaan saudara, marilah kembali kita tengok pengertian riba. Prinsipnya riba adalah pengambilan tambahan, baik dalam transaksi jual beli maupun pinjam meminjam secara batil atau bertentangan dengan prinsip muamalah dalam Islam. Dala Alquran surah an-Nisaa ayat 29, Allah mengingatkan, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta sesamamu secara batil…”

Secara bahasa, pengertian riba adalah tambahan. Namun yang dimaksud riba dalam ayat Alquran adalah setiap penambahan yang diambil tanpa adanya satu transaksi pengganti atau penyeimbang yang dibenarkan syariah. Nah, yang dimaksud dengan transaksi pengganti atau penyeimbang yaitu transaksi bisnis atau komersial yang melegitimasi adanya penambahan tersebut secara adil, seperti transaksi jual beli, gadai, sewa, atau bagi hasil proyek.

Koperasi yang Anda tanyakan menetapkan imbalan 1,5 persen per bulan dari modal yang disetor dalam pendanaan proyek. Artinya untung rugi proyek tadi, investor tetap mendapat tambahan atas modal yang dipinjamkannya. Dengan demikian ia tidak ikut menanggung seandainya proyek itu merugi. Besar kecilnya angka imbalan, tidak mengubah esensi bahwa yang diterapkan adalah pemberian pinjaman dengan imbalan tetap. Transaksi seperti ini tidak bisa dinamakan bagi hasil atau mudharabah dalam syariah. Karena salah satu pilar utama dalam bagi hasil adalah wujudnya pembagian potensi bisnis baik saat untung atau rugi.

Nah, bagaimana pendanaan proyek yang syar’i? Di atas sudah disebutkan, yakni adanya penyeimbang yang dibenarkan syariah, seperti transaksi jual beli (murabahah), gadai (rahn), sewa (ijarah) atau bagi hasil (mudharabah dan musyarakah).

Rasanya untuk proyek yang dikerjakan oleh koperasi tadi, paling tepat menggunakan akad musyarakah. Pengertian musyarakah adalah akad kerjasama antara dua pihak atau lebih, masing-masing pihak memberikan kontribusi dana dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan resiko akan dtanggung bersama sesuai dengan prosi modal masing-masing.

Adapun pertanyaan anda yang kedua, soal pembelian rumah tadi, itu memang bukan transaksi bagi hasil melainkan jual beli (murabahah). Jual beli “dengan mengambil keuntungan” memang dibolehkan secara syariah. Bedanya dalam murabahah diinformasikan berapa keuntungannya. Landasannya, antara lain, QS Albaqarah ayat 275: “…Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”

Ada tiga perbedaan yang mendasar antara jual beli dan riba. Pertama, nilai Rp 45 juta adalah harga jual yang harus dinegoisasikan dan disepakati oleh kedua belah pihak. Kedua, jika karena alasan yang dapat dipertanggungjawabkan si pembeli mengalami kesulitan pemenuhan pembayaran pada saat yang disepakati tidak boleh ada pengenaan bunga tambahan atas waktu tambahan. Ketiga, jual beli adalah transaksi sektor riil yang harus jelas barang dan jasanya. Untuk sahnya suatu barang diperjualbelikan, ia harus halal dan tidak membawa mudharat. Sementara riba lebih banyak terjadi dalam proses pinjam meminjam moneter tanpa harus didukung penyerahan barang dan jasa. Demikian juga tidak menghiraukan halal dan haram (riba al duyun). Wallahu a’lam bis-Shawab.

Dr. Muhammad Syafii Antonio & Team Tazkia
yy/detik.com