pustaka.png.orig
basmalah.png.orig


10 Dzulqa'dah 1442  |  Minggu 20 Juni 2021

Liberalisme, Tantangan Terbesar Bagi Perekonomian Umat Islam

Fiqhislam.com - Para ulama yang tergabung dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VI mengidentifikasi bahwa tantangan terbesar umat Islam dalam perekonomian berupa paham liberalisme.

“Dalam KUII kemarin dijelaskan bahwa ekonomi kita itu sebenarnya liberal. Maka dari itu, ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi umat islam untuk mengembangkan perekonomian,” ungkap juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)  Ismail Yusanto, Kamis (12/2).

Menurut Ismail, terdapat empat hal yang menggambarkan kondisi perekonomian sebenarnya bagi umat Islam. Yakni, ekonomi yang tumbuh, stabil, adil dan berkah. Ismail menegaskan, perekonomian Indonesia belum mampu memenuhi keempat hal itu secara utuh.

Ismail menyarankan dua hal yang perlu dilakukan agar ekonomi Indonesia terbebas dari liberalisme. Sehingga, umat Islam nantinya bisa mengembangkan diri dalam dunia perekonomian.

Pertama, umat islam harus berusaha agar pemerintah menghentikan peraturannya yang liberalisme. Sebab, menurut Ismail, peraturan pemerintah selama ini ditopang dengan liberalisme. Misalnya, dia menambahkan, UU Migas, UU Sumber Daya Air, dan sebagainya.

Kedua, permasalah kebijakan pemerintah yang bernilai liberal juga harus dihentikan. Oleh sebab itu, pemerintah, dalam hal ini presiden dan menteri perlu memberikan peranannya untuk menghentikan kebijakan yang seperti itu.

“Apakah pemerintah akan terus membuat kebijakan seperti itu atau tidak nantinya setelah mendapat seruan dari KUII?” tegasnya.

Sebelumnya, umat Islam Indonesia telah menggelar Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) di Yogyakarta. KUII ke-VI ini dilaksanakan dari 8-11 Februari 2015. Kongres ini telah dihadiri oleh berbagai kalangan seperti ulama, cendekiawan muslim, dan ormas-ormas Islam, baik pusat maupun daerah. [yy/republika]