fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


2 Ramadhan 1442  |  Rabu 14 April 2021

Sukuk Lebih Tahan Gejolak Ekonomi

Sukuk Lebih Tahan Gejolak Ekonomi

Fiqhislam.com - Obligasi syariah atau sukuk Indonesia dinilai lebih tahan terhadap gejolak ekonomi dibandingkan surat berharga negara konvensional. Hal ini karena kepemilikan asing di sukuk masih relatif kecil.

Direktur Pembiayaan Syariah Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Suminto menilai pasar sukuk Indonesia tidak akan mengalami gejolak seperti di Malaysia. Sebab, porsi kepemilikan asing di sukuk Indonesia sangat kecil.

Hingga 28 Agustus 2015, porsi kepemilikan asing di sukuk hanya 5,19 persen. Ini berbeda jauh dengan surat berharga negara konvensional yang porsi kepemilikan asingnya mencapai 38 persen.

"Pasar sukuk kita aman dan stabil. Karena porsi kepemilikan asingnya memang kecil," ujar Suminto kepada Republika, Senin (31/8).

Pasar sukuk Malaysia dilaporkan anjlok setelah aksi jual yang dilakukan investor asing. Sentimen jual berasal dari tekanan ekonomi dalam negeri, yakni peningkatan inflasi dan pelemahan nilai tukar ringgit. Selain itu, anjloknya harga minyak dunia dan gejolak politik Malaysia membuat investor asing cenderung melepas sukuk yang bertenor jangka panjang.

Kondisi tersebut dinilai berbeda dengan sukuk RI. Prospek surat berharga syariah negara (SBSN) dinilai cukup menggembirakan. Dari tahun ke tahun, sukuk pun semakin bisa diandalkan sebagai instrumen pembiayaan.

Suminto mengatakan, baiknya prospek sukuk tercermin dari jumlah penerbitan yang terus meningkat. Pada 2014, pemerintah hanya menerbitkan sukuk sebesar Rp 75,5 triliun. Sedangkan, pada tahun ini penerbitan sukuk lebih dari Rp 100 triliun.

"Dalam setiap penerbitan juga selalu terjadi oversubscribed (kelebihan permintaan). Hingga akhir Agustus ini sudah diterbitkan Rp 96,8 triliun," kata Suminto.

Menurut Suminto, tidak menutup kemungkinan jumlah penerbitan sukuk akan meningkat pada tahun depan. Namun, hal itu baru akan diketahui setelah RAPBN 2016 disahkan oleh DPR.

Sementara itu, anjloknya pasar sukuk jangka panjang Malaysia dinilai bisa membawa dampak kenaikan minat pada sukuk Indonesia. Pengamat pasar modal dari Fakultas Ekonomi Universitas Pancasila, Agus Irfani, menyatakan sejauh ini pasar sukuk Malaysia masih yang terbesar di dunia. "Kalau mereka tidak ingin jauh-jauh, masuk akal jika peluang pengalihan pasar ke Indonesia itu ada," ungkapnya.

Sayangnya, meski peluang pasar besar, pertumbuhan keuangan syariah di Indonesia masih relatif rendah. Keuangan syariah hanya 5-8 persen dari total aset industri keuangan.

Selain itu, menurut Agus, ada keterbatasan lain yang bisa menjadi penghalang berkembangnya pasar sukuk di Indonesia. Ia menyebut peraturan jatuh tempo masih belum begitu menguntungkan.

"Peraturan Bank Indonesia membatasi kalau belum jatuh tempo dijual bisa kena capital lost, padahal jika investor bisa mencairkan sukuknya sebelum jatuh tempo maka ini akan lebih menyemarakkan pasar sukuk," jelas dia.

Meski demikian, ia menyakini merosotnya pasar sukuk di Malaysia bisa dimanfaatkan untuk menangkap potensi investor. Pemanfaatan itu bisa dilakukan dengan memperbesar penerbitan sukuk Indonesia.

"Masih menjanjikan, bahkan kecilnya pasar keuangan syariah, dalam hal ini sukuk justru artinya ini masih bisa dikembangkan lebih jauh lagi. Ini kelemahan sekaligus keuntungan," kata Agus memaparkan.

Sejauh ini Indonesia telah mencatatkan sukuk di pasar modal Dubai dan Singapura. Ia pun melihat, khususnya di Dubai, peluang sukuk Indonesia memiliki prospek yang baik.

"Pemakai produk syariah di sana besar, peminat pun banyak, bahkan di Inggris pun saya lihat juga ada prospek bagus, di Korea dan di Jepang juga," ungkapnya. [yy/republika]