<
pustaka.png
basmalah.png

Apakah Bankir Musuh Perekonomian?

Apakah Bankir Musuh Perekonomian? Fiqhislam.com - Apa benar bankir adalah musuh bagi perekonomian suatu negara? Bukankah kebutuhan akan lembaga perbankan merupakan kebutuhan mutlak dalam sebuah perekonomian, baik untuk kebutuhan modal, penyimpanan, investasi, maupun transaksi?
Memang benar lembaga bank mutlak adanya dalam perekonomian tanda petik. Yakni perekonomian Kapitalisme ataupun perekonomian yang mengadopsi Kapitalisme. Tanpa bank Kapitalisme tidak bisa hidup, tetapi dengan bank Kapitalisme juga semakin larut dalam pusaran kehancuran.
Tulisan ini tidak membahas urgensi bank bagi perekonomian Kapitalisme. Tulisan ini mencoba dalam sudut pandang perilaku pengelola bank, yakni bankir.
Keluhan Klasik terhadap Bank
Alasan klasik para bankir tersebut adalah mereka harus menyeimbangkan kepentingan debitor dan kreditor sehingga sulit mempercepat penurunan bunga.
Direktur BNI menyatakan perbankan selalu berdiri di atas dua kepentingan. Perbankan berdiri untuk kepentingan debitor, yakni nasabah peminjam yang selalu mengharapkan suku bunga rendah. Perbankan juga berdiri untuk memenuhi keinginan kreditor, yakni nasabah penyimpan dana yang selalu mengharapkan imbalan bunga yang tinggi.
Karena itu, menurut pergerakan suku bunga kredit sangat bergantung kepada pergerakan suku bunga deposito. Inilah biaya dana (cost of fund) yang ditanggung bank yang cukup mempengaruhi besaran bunga kredit.
Bankir hanya Memupuk Laba
Berbeda dengan pandangan para bankir, Kepala Ekonom Denareksa Research Institute, Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan; bank justru menangguk untung di balik lambatnya penurunan suku bunga kredit. Bank tidak mementingkan bergeraknya perekonomian. Jadi orientasi bank hanya memupuk laba.
Musuh Perekonomian
Bankir senantiasa berupaya agar bank-nya selalu untung dalam kondisi apapun. Beberapa tahun lalu misalnya, wapres Jusuf Kalla marah terhadap perbankan Indonesia yang menerapkan suku bunga tinggi, khususnya suku bunga terhadap usaha kecil dan menengah.
Di saat dunia usaha membutuhkan banyak modal, para bankir justru mengalirkan dana masyarakat di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) sehingga dari sini bank mendapat untung trilyunan rupiah dalam sekejap.
Kita tentu tidak lupa saat badai krisis moneter menimpa Indonesia sepuluh tahun yang lalu. Pada saat itu BI mengucurkan dana BLBI ratusan trilyun rupiah kepada para bankir sebagai dana talangan. Mereka justru menggunakan dana talangan tersebut untuk menghantam rupiah, memperkaya diri, dan melarikannya keluar negeri. Belum lagi biaya obligasi rekap yang nilai nominal awalnya mencapai Rp 400 trilyun sebagai hadiah cuma-cuma dari pemerintah untuk kalangan bankir.
Ini merupakan pengalaman buruk dari perilaku bankir dalam sebuah sistem keuangan Kapitalisme. Pengalaman buruk yang terjadi berulang-ulang. Begitu nampak permusahannya terhadap perekonomian (sektor riil). Namun begitu pula kita terus menerima kelaliman dunia perbankan terhadap diri kita sendiri. Aneh memang.
Seperti di awal tulisan ini, pasti banyak yang menyangkal dan menyatakan bank mutlak adanya dalam perekonomian. Pandangan seperti itu wajar, kecuali jika melihat kelembagaan perbankan dan realitasnya di luar “pakem “Kapitalisme. Dengan itu mungkin baru bisa melihat bahwa bank dan para bankir adalah musuh perekonomian.
 
Oleh: Hidayatullah Muttaqin
SmartMuslim.info | jurnal-ekonomi.org
top