5 Jumadil-Awwal 1444  |  Selasa 29 Nopember 2022

basmalah.png

Kolonialisme Gaya Baru

Kolonialisme Gaya BaruVOC zaman Belanda memaksa rakyat menyerahkan kekayaannya, sekarang cukup melalui perusahaan-perusahaan multinasional.

Salah  satu  manifestasi  globalisasi dalam bidang ekonomi,  misalnya, adalah  pengalihan kekayaan alam suatu negara ke negara  lain,  yang  setelah  diolah dengan nilai tambah yang tinggi, kemudian menjual produk-produk ke  negara  asal,  sedemikian  rupa sehingga  rakyat  harus  "membeli jam kerja" bangsa lain. Ini adalah penjajahan  dalam  bentuk  baru, neo-colonialism,  atau  dalam pengertian  sejarah  kita,  suatu "VOC  (Verenigte  Oostin-dische Companie) dengan baju baru."

Itulah cuplikan pidato mantan Presiden Indonesia BJ Habibie di hadapan Presiden Susilo Bambang  Yudhoyono,  mantan  Presiden  Megawati  Soekarnoputri, Ketua  MPR  Taufik  Kiemas  dan hadirin lainnya dalam peringatan hari lahir Pancasila 1 Juni 2011 di gedung DPR/MPR Jakarta.

Pernyataan Habibie ini menyentil  kondisi  Indonesia  yang kian  liberal  dengan  membuka kran  lebar-lebar  bagi  masuknya asing menguasai kekayaan alam Indonesia. Rakyat sebagai pemilik sejati  sumber  daya  alam  hanya menjadi  konsumen  terhadap barang  milik  mereka  sendiri  di tanah mereka sendiri.

Hasil jejak pendapat pro dan kontra  di  www.detiknews.com mengamini  pernyataan  Habibie ini.  Sebanyak  87  persen  publik setuju, hanya13 persen yang tak setuju.  Mereka  merasakan  apa yang terjadi itu.

Berdasarkan data yang ada, dominasi  asing  di  sektor-sektor strategis seperti keuangan, energi dan sumber daya mineral, telekomunikasi, dan perkebunan adalah sebuah fakta yang tak bisa ditolak.

Data  penelusuran  Kompas menyebut, per Maret 2011 pihak asing telah menguasai 50,6 persen  aset  perbankan  nasional. Dengan  demikian,  sekitar  Rp 1.551 trilyun dari total aset perbankan Rp 3.065 trilyun dikuasai asing.  Secara  perlahan  porsi kepemilikan asing terus bertambah. Per Juni 2008 kepemilikan asing  baru  mencapai  47,02 persen.

Hanya  15  bank  yang  menguasai pangsa 85 persen. Dari 15 bank itu, sebagian sudah dimiliki asing. Dari total 121 bank umum, kepemilikan  asing  ada pada  47 bank dengan porsi bervariasi.

Terkait  keuangan,  asuransi juga  didominasi  asing.  Dari  45 perusahaan  asuransi  jiwa  yang beroperasi di Indonesia, tak sampai setengahnya yang murni milik Indonesia. Kalau dikelompokkan, dari asuransi jiwa yang ekuitasnya di  atas  Rp  750  milyar  hampir semuanya usaha patungan. Dari sisi  perolehan  premi,  lima  besarnya adalah perusahaan asing.

Dominasi itu sangat tampak di pasar modal/bursa efek. Total kepemilikan investor asing 60-70 persen  dari  semua  saham  perusahaan  yang  dicatatkan  dan diperdagangkan di bursa efek. Di sana  bisa  dilihat  pula  bahwa Badan  Usaha  Milik  Negara (BUMN) yang telah diprivatisasi, kepemilikan  asing  sudah  mencapai 60 persen.

Yang lebih tragis lagi adalah di sektor sektor minyak dan gas. Porsi operator migas nasional hanya sekitar 25 persen, selebihnya 75 persen dikuasai  pihak asing. Dari  total 225 blok migas yang dikelola kontraktor kontrak kerja sama  non  Pertamina,  120  blok dioperasikan  perusahaan  asing, hanya 28 blok yang dioperasikan perusahaan nasional, serta sekitar 77 blok dioperasikan perusahaan gabungan  asing  dan  lokal.  Di perusahaan  patungan itu  porsi asing pun cukup besar.

Data  Kementerian  Energi dan Sumber Daya Mineral pada 2009, dari total produksi minyak di  Indonesia,  Pertamina  hanya memproduksi 13,8 persen. Sisanya dikuasai swasta asing seperti Chevron  (41  persen),  Total  E&P Indonesie  (10  persen),  Conoco Philips  (3,6 persen) dan CNOOC (4,6 persen).

Data  lain  mengungkap  lebih  rinci  penguasaan  ladang minyak dan gas di Indonesia oleh asing  tersebut. Tercatat  dari  60 kontraktor,  lima  di  antaranya dalam kategori super major, yakni Exxon Mobil, Shell Penzoil, Total Fina  EIf,  BP  Amoco  Arco,  dan Chevron Texaco. Lima perusahaan ini menguasai cadangan minyak 70  persen  dan  gas  80  persen. Selebihnya masuk kategori major, seperti  Conoco,  Repsol,  Unocal, Santa  Fe,  Gulf,  Premier,  Lasmo, Inpex,  Japex.  Perusahaan  ini menguasai cadangan minyak 18 persen dan gas 15 persen. Perusahaan independen hanya menguasai  cadangan  minyak  12 persen dan gas 5 persen. Diperkirakan hasil dari mengeruk kekayaan  alam  Indonesia  mencapai 1.655 milyar dolar AS atau 14,3 ribu trilyun/tahun. Ini jauh lebih besar dibandingkan total utang pemerintah  Indonesia  hingga April  2011  yang  mencapai  Rp 1.697,44 trilyun.

Tidak  hanya  di  hulu,  perusahaan  migas  asing  ini  pun mulai merambah ke sektor hilir. Beberapa  perusahaan  asing  seperti  Shell,  Total  dan  Petronas telah menancapkan kukunya dengan membangun SPBU di lokasi-lokasi  strategis.  Setidaknya  ada 105 perusahaan migas asing yang memperoleh  izin  mendirikan SPBU. Bahkan pemerintah memberikan kesempatan kepada masing-masing  perusahaan  untuk membuka sekitar 20 ribu SPBU di seluruh Indonesia.

Di  sektor  telekomunikasi, perusahaan  asing  mendominasi perusahaan telekomunikasi. Bahkan  perusahaan  negara  yang sangat vital dalam lalulintas data yakni  Indosat,  70,14  persen  sahamnya dimiliki asing. Porsi asing di  perusahaan  telekomunikasi lainnya  cukup  besar.  SmartFren Telecom 23,91 persen, Telkomsel 35 persen, Hutchinson 60 persen,  Xl Axiata 80 persen, dan Natrindo 95 persen.

Asing  kini  pun  mulai  merambah sektor perkebunan, khususnya kelapa sawit. Guthrie Bhd (Malaysia)  167.908  Ha.  Wilmar International  Group  (Singapura) 85.000 ha, Hindoli - Cargill (AS) 63.455 ha, Kuala Lumpur Kepong Bhd (Malaysia) 45.714 ha, SIPEF Group (Belgia) 30.952 ha, Golden Hope Group (Malaysia) 12.810 ha (Kompas, 23/5).

Di  luar  itu,  produk-produk Cina membanjiri pasar Indonesia. Semua  produk  Cina  dari  mulai jarum, peniti, hingga pesawat terbang masuk Indonesia tanpa bisa lagi dikendalikan.

Meski  data  sedemikian gamblang, pemerintah menyatakan secara keseluruhan tidak ada dominasi asing di Indonesia. [mujiyanto]

Cengkeraman Asing dari Sabang sampai Merauke

 

mediaumat.com