pustaka.png.orig
basmalah.png


10 Dzulqa'dah 1442  |  Minggu 20 Juni 2021

Mengimplementasikan Strategi Kehumasan Secara Syariah

Mengimplementasikan strategi kehumasan secara syariah Bicara soal syariah pasti identik dengan Islam. Namun, belum banyak umat Islam yang tertarik menerapkan tuntutan agama itu. Akibatnya, produk berbasis syariah masih sulit berkembang, padahal Indonesia merupakan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Kondisi inilah yang menjadi keprihatinan sekaligus motivasi bagi Eka Shanty untuk berkecimpung di dunia syariah.

Padahal, Chief Executive Officer Azura Group ini bukanlah seorang pakar syariah ataupun pernah menuntut ilmu di bidang tersebut. Bekalnya hanyalah mencintai agama itu sendiri karena di dalamnya sudah sarat akan tuntutan syariah. Tidak heran, ketika berbicara soal syariah, Eka tampak begitu antusias.

Perempuan kelahiran Banjarmasin, 15 Maret 1973, ini terkesan mendalami seluk beluk dan implementasi syariah serta potensi besar di dalamnya. “Sebenarnya tidak perlu menjadi pakar syariah untuk mencintai produk Islam. Tidak perlu sekolah Islam untuk menjadi pencinta syariah, yang diperlukan adalah mencintai agama itu sendiri dan kita akan menjadi ahli syariah,” kata Eka, belum lama ini.

Sejak pendidikan dasar, dia mengenyam sekolah umum. Saat kuliah pun, dia memilih jurusan ekonomi dilanjutkan program pascasarjana di bidang manajemen. Namun, pengetahuan di bidang ekonomi itu menjadi bekal bagi Eka mengimplementasikan syariah di dunia bisnis. Bekal penting lain yang membentuk kepribadian Eka adalah kemampuannya berkomunikasi.

Maklum, dia pernah menjadi penyiar di TVRI dan konsultan hubungan kemasyarakatan. Eka memulai karir pribadinya dengan mendirikan perusahaan konsultan humas dan agen iklan di bawah bendera Kafala Communication pada 2007.

Uniknya, perusahaan itu menerapkan prinsip syariah, yang kurang diminati oleh perusahaan sejenis. Meski perkembangan bisnis syariah tidak secepat bisnis konvensional, Eka mengaku sangat menikmati pekerjaannya.

“Menjalankan bisnis syariah itu seperti sedang beribadah,” ujarnya. Kecintaan Eka terhadap syariah justru berawal ketika citra Islam terpuruk di mata dunia pascaserangan teroris terhadap gedung WTC pada 11 September 2000.

Begitu buruknya citra Islam, sampai-sampai muncul ketakutan terhadap sesuatu yang berbau Islam atau islamophobia. Kiprah Eka makin dalam di dunia syariah sejak 2006, setelah dia mendengarkan sebuah pidato dalam pertemuan Organisasi Konferensi Islam.

Seorang pemimpin negara Islam dalam pertemuan itu menyerukan pengusaha muslim di seluruh dunia untuk mendirikan perusahaan komunikasi pemasaran demi syiar Islam. “Citra Islam sedang terpuruk, Islam memerlukan Anda,” kata pemimpin itu seperti dikutip Eka.

Seruan itu menampar keras batin Eka, apalagi dia sudah berkecimpung di dunia komunikasi pemasaran. Sebagai seorang muslim, dia merasa bertanggung jawab membangun kembali citra Islam melalui ilmu yang dikuasainya.

“Mendengar seruan itu, saya langsung bersujud dan sejak itu saya wakafkan diri saya menjadi PR Islam,” ujarnya. Peluang bisnis Untuk mengangkat kembali citra Islam tentu saja bukan perkara mudah. Namun, bagi Eka, kondisi ini justru memotivasinya untuk berinovasi dan menciptakan peluang bisnis baru, yang tentu saja berbasis syariah.

Cara jitu dan relatif mudah untuk mengangkat kembali kejayaan Islam, menurut dia, adalah melalui pencitraan. “Bukankah kita hidup dalam pencitraan. Selama ini produk Islam tidak mampu bersaing dengan produk nonmuslim karena masalah pencitraan. Produk Islam bahkan tidak diterima di kalangan Islam sendiri, padahal konsumen Islam 6,5 miliar di seluruh dunia,” ujarnya.

Untuk memperkuat keyakinannya, Eka melakukan riset untuk mengetahui kenapa produk Islam mati di tengah jalan dan tidak dicintai oleh orang Islam. Contohnya, bank syariah sampai dengan 13 tahun keberadaannya hanya punya pelanggan 1,5 juta dari 200 juta muslim di Indonesia. Melalui riset itu, Eka jembatani advertising yang bicara soal pencitraan, pengemasan, strategi komunikasi, penetrasi pasar, dan sebagainya.

Beda dengan advertising konvensional, Eka menjalankan strategi itu sesuai dengan tuntunan syariah. “Citra sebuah merek sesuai dengan citra yang dibangunnya. Kalau mau menjual Islam tetapi penjualnya terorisme dan radikalisme, hal yang baik-baik tidak akan muncul. Ini kesenjangan dalam pencitraan Islam ketika pencitraan berada di tangan agen komunikasi dan iklan, madu bisa jadi racun, racun bisa jadi madu.

“Karena itu, untuk membangun citra yang baik diperlukan komunikator yang baik pula. Bagi seorang muslim, kata Eka, role model atau contohnya sudah jelas, yakni Nabi Muhammad. “Rasulullah adalah the greatest marketer. Lihat bagaimana beliau berdagang dan berdakwah, serta bagaimana Islam berkembang selama ribuan tahun. Dari situ kita bisa memahami bahwa beliau merupakan komunikator andal.”

Menurut Eka, visi orang Islam tidak perlu panjang-panjang, cukup sidiq atau benar. Adapun misinya adalah amanah atau menepati janji, dan strateginya fatonah, yakni cerdas dan bijaksana. Kemudian, dia bisa melakukan tabligh atau pemasaran. “Sifat-sifat Rasulullah inilah yang ingin saya implementasikan di bidang marketing,” kata Eka.

Oleh Hery Lazuardi
bisnis.com