fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


3 Ramadhan 1442  |  Kamis 15 April 2021

Belajar Ekonomi dari Kisah Nabi Syuaib

Belajar Ekonomi dari Kisah Nabi SyuaibFiqhislam.com - Pelajaran ekonomi di dalam Alquran tak hanya datang saat masa Rasulullah. Ekonomi syariah sudah diceritakan Alquran lewat nabi-nabi sebelum Muhammad SAW. Setelah "menuangkan" kisah Nuh dan kaumnya; Hud dan kaum 'Ad; Shaleh dan kaum Tsamud; Luth dan kaumnya; Alquran kemudian mengungkap kisah Syu'aib dan kaum Madyan. Kisah ini termaktub dalam QS Al A'raf: 85-93, QS Hud: 84-89. Untuk lebih singkatnya ayat-ayat tersebut hanya dikutip sebagian saja.

"Kepada bangsa Madyan," kata Allah dalam ayat itu, "Kami mengutus Nabi Syu'aib yang juga berasal dari kalangan mereka. Lalu ia berkata kepada mereka: Wahai kaumku, jadikanlah Allah sebagai satu-satunya tempat mengabdi, orientasi hidupmu. Telah datang kepadamu keterangan yang jelas dari Tuhanmu. 

Karena itu -- dalam berekonomi -- berlakulah adil dan jujur ketika menakar dan menimbang, janganlah sekali-kali mengurangi hak orang, walaupun sedikit, dan jangan pula berbuat kerusakan di bumi setelah ada perbaikan, yang demikian lebih baik bagi kalian jika kalian benar-benar beriman."

Dikutip dari Harian Republika, Aunur Rofiq dalam artikelnya berjudul 'Doktrin Ekonomi Nabi Syuaib' menulis, Ada beberapa catatan penting yang dapat diangkat di sini dari dialog antara keduanya. Pertama, aspek transendental. Nabi Syu'aib melihat bahwa semua aktivitas termasuk ekonomi, baik yang berkaitan dengan individu atau kelompok, harus ditata berdasarkan moralitas agama atau prinsip tauhid, bahwa Allahlah pemilik hakiki harta tersebut. 

Manusia hanyalah pemilik nisbi, sesuai dengan keberadaannya yang nisbi pula, tidak mutlak. Jika demikian mengapakah manusia begitu rakus dan sewenang-wenang dalam mendapatkan dan menggunakan kekayaannya. Padahal secara fakta, ia pasti akan kembali (mati) dan tidak ada yang dapat dibawanya kecuali amal konstruktifnya -- melalui kekayaannya.

Manusia perlu menyadari, dia bukan sayyid al-kaun (raja, tuan dan pemilik alam semesta), tapi hanya sebagai khalifah -- "perpanjangan tangan" -- dari pemilik alam ini (Tuhan). Karena itu, tidak boleh tidak, ia harus taat dan mengikuti aturan main yang mengangkat dan memberinya amanat. 

Penyimpangan dan kecurangan akan berakibat fatal bukan hanya pada dirinya, tapi juga akan menimpa orang lain dan lingkungannya. Bagaimanapun keberadaan dirinya, orang lain dan realitas alam di pihak lain memiliki kaitan yang sangat erat dan terpusat pada satu zat yaitu Allah SWT.

Kedua, solidaritas kemanusiaan (human solidarity). Dalam aspek ini Nabi Syu'aib menawarkan agar interaksi antarsesama dibangun di atas prinsip-prinsip keadilan, keseimbangan, kejujuran, humanitas (memanusiakan manusia), dan orentasi mashlahah.

Dapat dikembangkan di sini bahwa proses produksi, pertukaran, konsumsi, distribusi, dan aktivitas-aktivitas ekonomi lainnya hendaknya dibingkai dalam frem prinsip-prinsip di atas. Dengan demikian, kekayaan tidak hanya berputar pada segelintir orang an sich, atau tidak dijalankan dengan sewenang-wenang untuk kesuksesan atau meningkatkan pengaruh orang tertentu, dan menindas anggota masyarakat yang lemah.

Ketiga, takamuliyah (integration; totalit). Nabi Syu'aib mengajak untuk tidak memisahkan antara aspek agama dan ekonomi. Keduanya bagi dia memiliki keterkaitan satu sama lain.

Lain halnya dengan kaumnya (bangsa Madyan). Mereka menggunakan paradigma sekularisme dan individualisme. Menurut mereka, tauhid (agama) dan ekonomi tidak ada kaitannya. Keduanya harus dipisahkan. Ekonomi tidak usah dikontrol dengan agama, dan membiarkannya bebas sesuai dengan kehendak manusia. Kata mereka, "Wahai Syu'aib, apakah shalatmu -- agama -- memerintahkanmu agar kami meninggalkan tradisi pendahulu kami (tidak bertauhid, bebas dari ikatan agama), atau agar kami meninggalkan kebebasan kami dalam memperlakukan hak milik (harta) kami...?" (QS 11:87).

Berangkat dari pandangan sekularistis dan individualistis di atas, mereka memandang diri mereka sebagai sayyid al-kaun. Karena itu mereka bebas menggunakan hak milik mereka tanpa terikat dengan etika dan nilai-nilai agama. Yang penting bagaimana cara mengeruk keuntungan yang sebanyak-banyaknya. Mereka tidak mempedulikan agama, orang lain, dan lingkungan.

Kalau boleh dikaitkan, pandangan ini relevan dengan filsafat "Homo homini lupus" Thomas Hobbes, yang sampai saat ini masih dominan dalam dunia kapitalisme. Dalam paradigma ini, mereka yang lemah dan kekurangan modal akan tergilas dan menjadi mangsa pihak yang kuat. Atau pandangan Karl Marx yang menjadikan agama hanya sebagai bangunan atas (super struktur) yang pembentukannya dipengaruhi oleh bangunan pokok, yaitu struktur ekonomi. Karena kedudukannya begitu lemah, agama sama sekali tidak berhak campur tangan apalagi mengontrol aktivitas ekonomi manusia. [yy/republika]