20 Safar 1443  |  Selasa 28 September 2021

basmalah.png

Literasi Ekonomi dan Keuangan Syariah Baru 8,93 Persen

Literasi Ekonomi dan Keuangan Syariah Baru 8,93 Persen

Fiqhislam.com - Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin mendorong literasi masyarakat terhadap ekonomi dan keuangan syariah terus dilakukan. Ini karena tingkat literasi keuangan syariah nasional baru mencapai 8,93 persen.

Sedangkan, berdasarkan Indeks Inklusi Keuangan Syariah Nasional mencapai 9,1 persen. Wapres mengungkapkan, survei Bank Indonesia (BI) pada 2020 juga menunjukkan, indeks literasi ekonomi dan keuangan sosial syariah nasional sebesar 16,2 persen.

"Kondisi ini mencerminkan bahwa masih diperlukan kerja keras agar pemahaman masyarakat tentang ekonomi dan keuangan syariah lebih meningkat," ujar Kiai Ma’ruf dalam acara Temu Ilmiah Nasional (Temilnas) ke-20 tahun 2021 yang diselenggarakan oleh Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam (Fossei), Senin (26/7).

Wapres menekankan, keberhasilan pengembangan ekonomi syariah, salah satunya dengan dipengaruhi tingkat literasi masyarakat terhadap ekonomi dan keuangan syariah. Wapres mengatakan, semakin tinggi literasi ekonomi dan keuangan syariah pada masyarakat maka akan semakin tinggi pula penggunaan barang dan jasa halal dan sesuai syariah oleh masyarakat.

"Upaya peningkatan literasi masyarakat ini terus diupayakan baik melalui jalur edukasi formal secara akademik, vokasi dan profesi, maupun melalui edukasi nonformal dalam bentuk sosialiasi," ujar Ma’ruf.

Kinerja ekonomi syariah di Tanah Air secara umum tetap tumbuh dengan baik meskipun di tengah kondisi pandemi Covid-19. Berdasarkan Laporan Ekonomi dan Keuangan Syariah Indonesia 2020 yang diterbitkan Bank Indonesia, kontraksi ekonomi syariah Indonesia pada 2020 mencapai 1,72 persen (year on year). Ia mengatakan, kontraksi ini tidak sedalam yang dialami ekonomi nasional yang mencapai 2,07 persen. Selain itu, Laporan Islamic Finance Country Index (IFCI) 2020 juga menyebutkan Indonesia menempati posisi kedua dengan skor 82,01 setelah Malaysia dari 42 negara yang disurvei terkait keuangan syariah.

"Hal ini merupakan peluang yang harus dioptimalkan oleh seluruh pihak yang terlibat dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah," katanya.

Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) mendukung peningkatan literasi ekonomi syariah dengan lebih inovatif. Direktur Jasa Keuangan Syariah KNEKS, Taufik Hidayat, mengatakan, literasi akan menaikkan permintaan secara organik dan berkelanjutan.

"Yang masih kurang digarap adalah literasi yang lebih kekinian dengan melibatkan influencer atau membuat konten yang viral di sosial media," katanya kepada Republika, Senin (26/7).

Pemberdayaan masjid dan pesantren sebagai titik-titik literasi keuangan syariah juga perlu didorong untuk memberikan dampak yang lebih besar. Literasi akan terus menjadi tugas bersama seluruh stakeholder ekonomi syariah, bukan hanya tugas industri.

Peningkatan literasi dapat dilakukan oleh perguruan tinggi melalui seminar, penelitian, pengabdian masyarakat, upaya regulator, pemerintah, tokoh masyarakat, dan juga komunitas. Literasi berkelanjutan sangat penting untuk meningkatkan sisi permintaan.

"Peningkatan demand erat kaitannya dengan literasi, dapat juga ditopang dengan kebijakan dengan keberpihakan," katanya.

Selain literasi, kebijakan atau regulasi dapat mengembangkan industri syariah secara anorganik. Kebijakan anorganik seperti qanun lembaga keuangan syariah di Aceh ataupun pembentukan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH),

Taufik menyebut, setidaknya ada tiga hal utama yang harus dilakukan secara paralel untuk pengembangan perbankan syariah. Tiga hal tersebut, yakni peningkatan permintaan, peningkatan pasokan, dan pengembangan infrastruktur.

Peningkatan pasokan artinya penguatan kapabilitas dan permodalan dari sisi bank syariah. Ini akan memengaruhi pricing atau margin bank syariah yang sangat tergantung pada struktur cost of fund atau biaya dana.

Untuk mendapatkan biaya dana yang rendah, bank harus mempunyai CASA rasio atau dana murah yang tinggi. CASA tinggi ditopang oleh kapabilitas TI dan layanan untuk menggarap segmen ritel dan kuat dalam transactional banking.

"Hal ini tentu memerlukan investasi TI dan SDM, di mana saat ini on average bank syariah masih tertinggal dari bank konvensional," katanya. [yy/republika]