22 Dzulhijjah 1442  |  Minggu 01 Agustus 2021

basmalah.png

Kekuatan Indonesia di Industri Keuangan Syariah Global

Kekuatan Indonesia di Industri Keuangan Syariah Global

Fiqhislam.com - Indonesia kini tumbuh menjadi kekuatan baru industri keuangan syariah global seiring meningkatnya kecenderungan masyarakat pada produk dan jasa keuangan syariah.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Pengembangan Pengusaha Nasional Arsjad Rasjid mengatakan, industri keuangan syariah Indonesia berkembang pesat dan saat ini berada di peringkat kedua setelah Malaysia.

“Tahun 2019, kita berada di urutan keempat. Sekarang kita di urutan kedua setelah Malaysia. Saya yakin keuangan syariah memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi kita,” kata Arsjad di Jakarta, Sabtu (5/6/2021).

Arsjad yang mencalonkan diri sebagai Ketua Umum Kadin Indonesia periode 2021-2026 mengatakan, hingga Februari 2021, total aset keuangan syariah Indonesia mencapai Rp1.836 triliun.

Angka tersebut meningkat dari posisi Desember 2020, yang sebesar Rp1.803 triliun. Selain itu, berdasarkan laporan Islamic Finance Development Indicators (IFDI) 2020 dari Islamic Corporation for the Development of the Private Sector (ICD) dan Revinitiv dari 135 negara, Indonesia termasuk top 5 countries berdasarkan nilai aset, tepatnya peringkat ke-5 dengan USD3 miliar, di bawah Arab Saudi (USD17 miliar), Iran (USD14 miliar), Malaysia (USD10 miliar) dan hampir imbang dengan UAE (USD3 miliar).

“Kemajuan ini mencerminkan besarnya peluang Indonesia untuk menjadi kekuatan industri keuangan syariah dunia. Apalagi, market share keuangan syariah kita masih di angka 9,96%. Kita terus dorong agar penetrasi industri jasa keuangan syariah terus meningkat,” katanya.

Arsjad yang juga menjabat Ketua Dewan Penyantun Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) mengungkapkan, meningkatnya posisi Indonesia di peringkat global tidak terlepas dari dukungan pemerintah, yang gencar melakukan riset, sosialisasi, dan edukasi menyangkut keuangan syariah. Di sisi lain, lanjutnya, kesadaran masyarakat atas pentingnya industri syariah juga terus meningkat.

“Pemerintah sangat serius menggarap ekonomi dan keuangan syariah. Presiden Joko Widodo juga telah membentuk Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS). Jadi, pemerintah fokus untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia. Dan ini, sejalan dengan peta jalan ekonomi syariah,” jelas dia.

Arsjad mengatakan, sektor ekonomi syariah yang berpotensi untuk dikembangkan di Indonesia, di antaranya industri perbankan syariah, lembaga keuangan nonbank, pasar modal, rumah sakit Islam, perhotelan, pariwisata, kuliner halal, dan fesyen.

Arsjad juga bersyukur, di tengah merebaknya pandemi Covid-19, sektor jasa keuangan syariah tumbuh pesat, di mana pertumbuhan aset perbankan syariah pada tahun 2020 meningkat 10,9%, dibandingkan bank konvensional yang hanya tumbuh 7,7%.

“Peluang ekonomi dan keuangan syariah terbuka lebar. Pangsa pasar perbankan syariah di Indonesia masih sangat besar karena yang digarap masih berkisar 6,1%. Saya yakin pangsanya akan terus meningkat,” ujarnya.

Disebutkan, per November 2020, dari 180 juta penduduk muslim di Indonesia sekitar 30,27 juta jiwa yang tercatat sebagai nasabah bank syariah. Belum maksimalnya jumlah nasabah bank syariah juga mengindikasikan potensi luasnya pasar perbankan syariah di negeri ini yang belum tergarap. Di sisi lain, lanjutnya, Indonesia juga memiliki potensi dari sisi industri halal sebesar Rp6.546 triliun dan aset bank syariah di Indonesia hanya sekitar Rp591 triliun.

“Masih banyak calon nasabah yang belum digarap. Jumlahnya mencapai 149 juta orang. Demikian halnya potensi bisnis industri halal sebesar yang mencapai Rp5.645 triliun," katanya. [yy/okezone]