pustaka.png.orig
basmalah.png.orig


12 Dzulqa'dah 1442  |  Selasa 22 Juni 2021

Jadi Negara Maju, Indonesia Butuh Investasi Setara 92% dari Utang

Jadi Negara Maju, Indonesia Butuh Investasi Setara 92% dari Utang

Fiqhislam.com - Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) menargetkan pada 2022 pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai 5,4% hingga 6%. Target itu tertuang di dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2022.

Kepala Bappenas Suharso Monoarfa menyebut untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi tersebut, maka Indonesia membutuhkan nilai investasi sebesar Rp5.891,5 triliun-Rp5.931,8 triliun.Jumlah itu setara 91,4% hingga 92,03% dari jumlah utang yang mencapai Rp6.445,07 triliun.

"Untuk dapat mencapai pertumbuhan ekonomi setinggi itu dibutuhkan investasi sebesar Rp5.891,5 triliun," ujar dia dalam Rapat Koordinasi Pembangunan Pusat secara virtual, Kamis (29/4/2021).

Dia mengatakan, investasi tersebut dapat berasal dari investasi pemerintah dan non-pemerintah, namun dengan porsi terbesar tetap dari swasta yang mencapai 83%.

Dari paparannya, target investasi pemerintah sebesar Rp497 triliun, badan usaha milik negara (BUMN) senilai Rp 577 triliun, dan swasta Rp4.857,7 triliun.

"Diperlukan investasi non-pemerintah termasuk BUMN dan swasta, terutama swasta untuk memicu investasi dan menggerakan sektor-sektor yang sedang idle," katanya.

Harapannya, nilai investasi itu dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi dan memicu perbaikan total factor productivity Indonesia melalui peningkatan kualitas tenaga kerja dan pengelolaan investasi. Dengan begitu, akan memicu terjadinya penurunan ICOR Indonesia menjadi 6,24 di 2022, setelah di 2021 diperkirakan ICOR tumbuh 8,16.

Bahkan, jika laju perekonomian nasional dapat dipertahankan di kisaran 6% setiap tahunnya, kata dia, tidak menutup kemungkinan Indonesia dapat lepas dari middle income trap pada 2036 dan menjadi negara maju di 2045.

"Kalau kita ingin kembali target (menjadi negara maju 2045), setidaknya Indonesia harus bisa tumbuh 6% agar graduasi dari middle income trap sebelum 2045," tutur dia. [yy/sindonews]