25 Dzulhijjah 1442  |  Rabu 04 Agustus 2021

basmalah.png

Jurus Erdogan Lawan Dominasi Ekonomi Liberal

Jurus Erdogan Lawan Dominasi Ekonomi Liberal

Fiqhislam.com - Presiden Recep Tayyip Erdogan memang beda. Untuk urusan ekonomi, Erdogan tidak terbawa arus utama untuk mengikuti resep pemulihan ekonomi ala kaum liberalis.

Erdogan memilih jalannya sendiri sebagai kaum anti-ortodoks. Ia menjuluki tiga penyakit ekonomi Turki dalam istilah segitiga setan (devil's triangle). Dan suku bunga menjadi "mbahnya setan" itu. Dua lainnya inflasi dan nilai tukar.

Tak heran, ketika urusan suku bunga mengejutkannya, Erdogan tiba-tiba memecat kepala bank sentral Turki. Tindakan ini menempatkan lira terjun bebas --bahkan yang terburuk dalam satu hari-- terhadap dolar AS dalam hampir tiga tahun ini.

Market pun menyambut khawatir tindakan pemimpin Turki ini. Analis menyebut langkah ini akan menjatuhkan kepercayaan investor.

Momen penting perbaikan ekonomi Turki bisa terhambat dan inflasi bisa makin tak terkendali. Arus modal keluar pun tak terhindarkan.

Pada Senin (22 Maret), lira --mata uang Turki-- jatuh telak hingga 15 persen mencapai 8,39 per dolar AS, mendekati level terendah sepanjang masa.

Terakhir kali mata uang lira mengalami koreksi tajam dalam satu hari saat krisis mata uang 2018 di Turki, yang menyebabkan kehilangan hampir setengah nilainya terhadap dolar AS.

Penurunan lira terjadi setelah Erdogan memecat gubernur bank sentral Turki Naci Agbal pada Sabtu. Dua hari sebelumnya mantan menteri keuangan itu menaikkan suku bunga untuk melawan kenaikan tajam inflasi.

Agbal baru menjabat kurang dari lima bulan dan menjadi gubernur bank sentral ketiga yang digulingkan oleh Erdogan sejak pertengahan 2019.

Pasar modal juga ikut kena getah pemecatan ini. Bursa Efek Istanbul untuk sementara waktu menghentikan perdagangan pada Senin setelah indeks utamanya turun hampir 9%.

Aksi ini ikut memukul bank-bank Eropa dengan eksposur aset Turki, termasuk BBVA Spanyol (BBAR) dan pemberi pinjaman Belanda ING (ING).

"Turki kehilangan salah satu jangkar terakhir pejabat kredibel," tulis Phoenix Kalen, ahli strategi pasar berkembang di Socit Gnrale, dalam sebuah catatan penelitian pada Ahad.

Agbal digantikan oleh Sahap Kavcioglu, seorang profesor perbankan dan mantan anggota parlemen dari Partai Keadilan dan Pembangunan yang berkuasa di Erdogan.

"Pemecatan mengejutkan dari kepala bank sentral Agbal selama akhir pekan dapat memberikan pukulan fatal bagi kepercayaan investor di Turki," tulis Win Thin, kepala strategi pasar global di Brown Brothers Harriman, dalam catatan penelitian.

Agbal membela reformasi ekonomi dan kemandirian bank sentral selama masa jabatan singkatnya. Ini dilakukan untuk meningkatkan kepercayaan investor lokal dan asing terhadap aset Turki.

Dua hari sebelum dia dipecat, Agbal menaikkan suku bunga sebesar 200 basis poin menjadi 19%, lebih tinggi dari yang diharapkan, setelah inflasi mencapai hampir 15% pada Februari.

Kenaikan suku bunga besar ketiga sejak penunjukannya pada November tampaknya diterima dengan sangat baik oleh pasar. Hal ini meningkatkan daya tarik lira dan menunjukkan komitmen Agbal untuk menjaga inflasi tetap pada jalurnya agar turun pada paruh kedua tahun ini.

Win mengatakan bahwa kejatuhan bahkan bisa mendorong lira menjadi 8,58 per dolar AS, tertinggi sepanjang masa, dan mungkin bahkan melampauinya.

Agbal ingin mengembalikan independensi bank sentral Turki. Independensi bank sentral dinilai penting untuk mengambil kebijakan-kebijakan moneter yang tepat dan terarah.

Selama ini kekuasaan Erdogan sangat besar sehingga bisa memecat gubernur bank sentral, sesuatu yang tidak terjadi di negara-negara dengan sistem ekonomi modern.

Erdogan marah besar karena sejak awal dia menyatakan pro rezim suku bunga rendah. Bagi Erdogan, suku bunga tinggi hanya menaikkan inflasi, menyulitkan pemulihan ekonomi, dan menghancurkan daya beli rakyat Turki.

Pergerakan suku bunga dan inflasi berbanding terbalik. Jika inflasi tinggi maka suku bunga harus rendah. Erdogan percaya pada pendekatan yang tidak ortodoks terhadap kebijakan moneter berdasarkan menjaga suku bunga rendah untuk menghindari inflasi.

Dalam rumus moneter yang umum dipakai saat ini, bank sentral akan mengerem peredaran uang akibat inflasi tinggi dengan menaikkan suku bunga. Asumsinya, dengan suku bunga tinggi maka publik pemilik uang akan memasukkan uang ke bank dan lembaga keuangan lainnya.

Namun ini tidak berlaku bagi Erdogan. Ia juga menolak menjadikan bank sentral independen sehingga bisa melakukan operasi pasar sekehendak hati para pejabat bank sentral.

Erdogan di sini menunjukkan kelasnya sebagai pemimpin yang menolak pendekatan ortodoksi ekonomi dan moneter yang berbasis ideologo neoklasik. Bagi Erdogan, ekonomi dan moneter bukan cuma soal pilihan rasional, keseimbangan, dan mekanisme pasar.

Tapi lebih dari itu. Erdogan memang tidak menunjukkan pilihan ideologi ekonominya secara jelas. Namun dia, dalam kasus kebijakan bank sentral, memperlihatkan dirinya sebagai presiden pro rakyat dan tidak bersedia menjalankan konsep moneter dengan resep salah.

Sahap Kavcioglu, kepala bank sentral yang baru diangkat, mempertahankan pendekatan serupa. Dia adalah anggota parlemen di AKP dari 2015 hingga 2018, dan menulis kolom untuk koran pro-pemerintah Yeni Safak.

Sahap sudah menegaskan rencana penurunan inflasi dan suku bunga. Turki ingin inflasi berada di angka 10 persen tahun ini dan 5 persen pada 2023.

Dalam kolom surat kabar bulan lalu, ia mengatakan bertentangan dengan ortodoksi moneter, bahwa suku bunga yang tinggi secara tidak langsung menyebabkan peningkatan inflasi.

Apakah jalan baru Erdogan ini lebih ampuh melawan penyakit ekonomi yang disebutnya sebagai segitiga setan dibanding jalan kaum moneter ortodoks? Kita lihat saja. [yy/republika]

Elba Damhuri