fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


4 Syawal 1442  |  Minggu 16 Mei 2021

Cetak Uang Baru dan Teori Moneter Modern

Cetak Uang Baru dan Teori Moneter Modern

Fiqhislam.com - Entah ide Teori Moneter Modern (MMT) ini lebih pas disebut brilian, gila, atau keblinger. Yang pasti, Teori Moneter Modern tentang ide cetak uang sebanyak-banyaknya untuk mengatasi krisis ekonomi di tengah pandemi menimbulkan perdebatan panas.

MMT bicara banyak hal tentang ekonomi baru, ekonomi yang menurut panganutnya bukan ekonomi biasa alias ekonomi konvensional. MMT adalah sebuah penyimpangan besar dari teori ekonomi konvensional yang diakui dan berjalan saat ini.

Ide besarnya adalah pemerintah tidak perlu takut dengan defisit anggaran yang tinggi, ancaman inflasi, stabilitas nilai tukar, hingga pengeluaran besar-besaran untuk memulihkan perekonomian. Pemerintah bisa memainkan perannya dalam mengontrol masalah-masalah ekonomi klasik seperti inflasi.

Dengan sistem uang fiat saat ini, MMT berasumsi pemerintah bisa mencetak uang sebanyak yang mereka butuhkan untuk mendorong ekonomi tumbuh, sektor UMKM berkembang, beban utang terdistorsi, dan penyediaan pekerjaan terpenuhi. Sistem uang fiat memungkinkan pemerintah mengontrol mata uang mereka sendiri.

Menurut Kelton, pemerintah bisa menghabiskan uang yang dicetaknya dengan bebas. Pasalnya, pemerintah selalu dapat mencetak lebih banyak uang untuk melunasi utang dalam mata uang mereka sendiri.

Cetak uang baru yang digunakan untuk pengeluaran pemerintah ini, menurut MMT, dapat menumbuhkan ekonomi hingga kapasitas penuh. Pengeluaran pemerintah dari mencetak uang ini akan memperkaya sektor swasta, menghilangkan pengangguran, membiayai program-program besar seperti perawatan kesehatan universal, biaya sekolah hingga kuliah gratis, dan energi hijau.

MMT menegaskan negara-negara dapat menciptakan dan membelanjakan uang mereka sendiri dan itu bukanlah hal yang buruk. MMT menilai hanya kaum ekonomi konvensional dan moneterist yang selalu bikin asumsi-asumsi menakutkan dengan ide mencetak uang baru ini.

Dalam ekonomi konvensional saat ini, gagasan mencetak uang untuk memecahkan masalah ekonomi suatu negara hampir secara universal dianggap sebagai ide yang buruk.

Namun MMT mengusulkan bahwa penciptaan uang harus menjadi alat ekonomi yang berguna. Dan mencerak uang ini tidak secara otomatis mendevaluasi mata uang, menyebabkan inflasi, atau kekacauan ekonomi.

Ekonomi konvensional saat ini, dalam pandangan MTT, telah gagal dalam memberikan resep untuk mengobat pemulihan. Catatan ekonomi global dalam dua dekade ini penuh dengan gejola, utang melambung, investasi terseok-seok, ekonomi buruk, pengangguran tinggi, dan hilangnya peluang-peluang masyarakat untuk mandiri.

Ini terjadi, kata MMT, karena negara-negara masih terpaku dengan konsep stabilitas sistem keuangan, pengendalian defisit, khawatir inflasi tinggi atau hiperinflasi, hingga nilai tukar yang rapuh.

"Adanya pengangguran merupakan bukti de facto bahwa pengeluaran pemerintah bersih terlalu kecil untuk menggerakkan perekonomian untuk sampai ke pekerjaan penuh," tulis Phil Armstrong dari York College pada 2015. "[Pemerintah] harus menggunakan posisinya sebagai penerbit monopoli mata uang untuk memastikan tercapainya tingkat pekerjaan yang penuh."

MMT Bicara Inflasi

MMT berkeyakinan peningkatan pengeluaran pemerintah tidak akan menyebabkan inflasi tinggi selama ada kapasitas ekonomi yang tidak digunakan atau tenaga kerja yang menganggur.

Para pendukung MMT berpendapat pemerintah dapat mengendalikan inflasi dengan mengurangi pengeluaran atau menarik uang dari ekonomi melalui pajak.

Para ekonom konvensional memahami penciptaan uang sebagai hal yang buruk. "Jangan pernah mencoba menghasilkan uang berlebihan!" Tapi itu menimbulkan pertanyaan kaum pembela MMT.

Jika menciptakan uang baru betul menciptakan inflasi, pendukung MMT bertanya mengapa tidak ada inflasi ketika Ben Bernanke saat menjabat kepala the Fed Amerika serikat (AS) menciptakan aset 1 triliun dolar AS untuk menyelamatkan bank selama krisis keuangan?

Di Eropa, Swedia, Denmark, Swiss, dan 19 negara di kawasan mata uang euro, memberlakukan suku bunga negatif untuk mengeluarkan uang dari rekening bank, dengan harapan menghasilkan inflasi.

Pada saat yang sama, Bank Sentral Eropa menyemprot benua itu dengan 2,5 triliun euro (2,5 triliun dolar AS) dalam "pelonggaran kuantitatif" --pelonggaran kuantitatif menurut MMT sama dengan mencetak uang baru tetapi dengan nama yang wah. Tetapi, inflasi tidak pernah terjadi.

Jadi ahli teori MMT berpendapat bahwa penciptaan uang semata-mata tidak dapat menjadi penyebab inflasi. Pasti ada sesuatu yang lain. Hal ini yang menjadi pertanyaan besar MMT.

MMT Bicara Defisit Anggaran

Jika pengeluaran negara menghasilkan defisit pemerintah, ini juga bukan masalah. Defisit pemerintah, menurut definisi MMT, adalah surplus sektor swasta. Sebaliknya, surplus pemerintah adalah defisit negara.

Bukankah terlalu banyak mencetak uang akan menyebabkan semakin tingginya defisit belanja negara? Dan ini berbahaya bagi ekonomi suatu negara.

Pendukung MMT menegaskan bahwa pemerintah jangan takut defisit. Pemerintah jelas tidak seperti ekonomi rumah tangga yang harus menghitung pendapatan dan pengeluaran.

Pemerintah bukan sebuah rumah tangga karena pemerintah dapat membuat uang sendiri dan menetapkan harga di mana uang itu tersedia di pasar. Rumah tangga sama sekali tidak bisa.

Setiap uutang dalam mata uangnya sendiri dapat dibayar dengan mata uangnya sendiri atau dapat diselesaikan dengan penciptaan uang baru dalam mata uang itu.

Karena bukan sebuah rumah tangga, MMT menyatakan pemerintah tidak perlu menyeimbangkan pembukuannya seperti cara rumah tangga. Pemerintah menciptakan dan membelanjakan uang tetapi mereka tidak mengenakan pajak kembali 100 persen dari uang tunai itu.

Itu sebabnya, pada waktu tertentu, pemerintah akan mengalami defisit. Defisit hanyalah perbedaan antara semua uang tunai yang telah dikeluarkan pemerintah dan semua pajak yang telah dikumpulkannya.

Dari perspektif ini, defisit bukanlah masalah. Dengan mengatur pajak, defisit bisa diselesaikan dengan baik kapan saja.

Makanya, kaum MMT mengkritik negara-negara yang menerapkan bias defisit atau batas atas defisit anggaran terhadap produk domestik bruto (PDB). "Bias terhadap defisit tidak masuk akal," kata pendukung MMT.

Dalam kasus di Eropa di mana Pakta Stabilitas dan Pertumbuhan Uni Eropa mensyaratkan bias defisit 3% PDB atau utang maksimal 60% dari PDB mendapat kritik MMT. Pendukung MMT berpendapat pembatasan ini mencegah Italia, Irlandia, Yunani, dan Spanyol mengeluarkan uang yang cukup untuk mengurangi penurunan ekonomi.

Para ahli MMT mengklaim kasus ini menunjukkan risiko kebijakan ekonomi konvensional dan penolakannya terhadap defisit. Ekonomi hanya menjadi lambat, ketidaksetaraan meningkat, utang jangka panjang dengan bunga yang melumpuhkan terus naik, dan risiko kehancuran ekonomi akan terjadi terus-menerus.

MMT: Tak Ada Orang Menganggur

Ketika sektor swasta gagal menyediakan lapangan kerja penuh, pendukung MMT mendukung gagasan jaminan pekerjaan yang menyediakan pekerjaan yang didanai pemerintah kepada siapa saja yang menginginkan atau membutuhkannya. Pengeluaran untuk program ini akan ditutup ketika ekonomi mencapai lapangan kerja penuh.

Menurut pendukung MMT, bentuk-bentuk jaminan pekerjaan federal sudah ada di masa lalu. Pada 2002, Argentina memperkenalkan Program Jefes, yang menawarkan pekerjaan kepada kepala setiap rumah tangga dan membayar upah pokok.

Peserta Jefes bekerja pada proyek komunitas lokal seperti membangun dan memelihara sekolah, rumah sakit dan pusat komunitas; memanggang, menjahit pakaian, dan daur ulang; dan memperbaiki selokan dan trotoar.

Pada 1933, Presiden Franklin Roosevelt mulai meluncurkan "New Deal," yang memberikan upah kepada orang-orang yang menganggur untuk membangun sekolah, rumah sakit, bandara, jalan, jembatan dan infrastruktur lainnya.

MMT Bicara Tentang Pajak

MMT-ers mengusulkan kebijakan pajak harus menjadi alat moneter anti-inflasi. Jika ada terlalu banyak uang dalam perekonomian, pemerintah harus mengenakan pajak sebagian sehingga mengeluarkannya dari peredaran.

Gagasan menaikkan pajak sebagai ukuran deflasi mungkin merupakan salah satu aspek yang paling kontroversial dari MMT. Para pengkritik sangat skeptis daripada pemerintah mana pun yang berani menaikkan pajak selama periode inflasi.

Dan kebijakan pajak sulit untuk dilaksanakan dengan cepat, sedangkan inflasi dapat bergerak cepat.

Dari sisi konvensional, pemerintah menetapkan pajak untuk meningkatkan pendapatan. Pendapatan pajak kemudian digunakan untuk membayar hal-hal yang perlu dilakukan pemerintah: polisi, pemadam kebakaran, jalan dan sebagainya.

MMT menegaskan konsepsi ini menyamakan pemerintah dengan anggaran rumah tangga: Ia tidak dapat menghabiskan uang sampai ia menerima uang. Setiap uang tambahan yang dihabiskan harus dibiayai dengan meminjam.

MMT-ers berpendapat bahwa metafora "rumah tangga" tidak pas dalam mengelola negara. MMT menyatakan pemerintah harus menciptakan uang terlebih dahulu untuk membelanjakannya --dan setelah beredar dapat dikenai pajak kembali. [yy/republika]

Elba Damhuri

  • Kepala Republika.co.id, lumni University of Newcastle upon Tyne Inggris