fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


29 Ramadhan 1442  |  Selasa 11 Mei 2021

Saat IMF Dua Kali Turunkan Proyeksi Ekonomi Indonesia

Saat IMF Dua Kali Turunkan Proyeksi Ekonomi Indonesia

Fiqhislam.com - Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,3 persen pada tahun ini. Angka proyeksi kembali turun dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 4,8 persen.

Sebelumnya, pada Januari 2021, IMF telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,8 persen. Semula, melalui laporan World Economic Outlook (WEO) pada Oktober, IMF masih memperhitungkan ekonomi Indonesia dapat tumbuh di level 6,1 persen.

Revisi ke bawah itu dikarenakan ketidakpastian seputar prospek pertumbuhan ekonomi yang lebih besar dibandingkan biasanya, terutama terkait vaksinasi. Apabila vaksinasi dilakukan lebih awal secara meluas akan membantu mendorong ekonomi.

IMF mencatat jika vaksinasi ada penundaan dapat menyebabkan pandemi lebih berlarut sehingga menjadi risiko yang memperlambat ekonomi.

Kepala Ekonom dan Direktur Departemen Riset IMF, Gita Gopinath, mengatakan memang mobilitas masyarakat yang sempat tertahan berangsur mulai meningkat. Namun, peningkatan ini masih dibarengi adanya kebijakan pengetatan di banyak wilayah.

Proyeksi ekonomi Indonesia pada tahun ini juga lebih rendah jika dibandingkan pertumbuhan ekonomi di kawasan ASEAN-5, yakni Indonesia, Thailand, Vietnam, Filipina, dan Malaysia. Adapun lembaga moneter global tersebut memprediksi kawasan ini bisa tumbuh 4,9 persen.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan ini terjadi di Filipina, yang diprediksi bisa tumbuh 6,9 persen pada 2021. Peringkat kedua, Vietnam dan Malaysia yang sama-sama diprediksi bisa tumbuh 6,5 persen. Proyeksi pertumbuhan ekonomi terendah terjadi pada Thailand yang hanya tumbuh 2,6 persen.

Revisi pertumbuhan ekonomi Indonesia juga justru berbanding terbalik dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi global, yang diperkirakan tumbuh enam persen, naik dari proyeksi Januari 2021 sebesar 5,5 persen.

IMF menegaskan peningkatan proyeksi pertumbuhan global pada tahun ini dan tahun depan digerakkan oleh negara maju, terutama Amerika Serikat yang diproyeksi tumbuh 6,4 persen tahun ini, sejalan dengan tambahan stimulus fiskal yang digelontorkan.

Selain AS, negara diproyeksi tumbuh kencang adalah China, yang diperkirakan tumbuh 8,4 persen pada tahun ini. Ekonomi China juga dinilai akan pulih lebih cepat seperti sebelum terjadinya pandemi.

"Di tengah ketidakpastian akibat pandemi, jalan keluar dari krisis ekonomi dan kesehatan ini semakin terlihat. Berkat para ilmuwan, ratusan juta orang sedang divaksinasi dan ini akan memberikan energi bagi pemulihan ekonomi di banyak negara tahun ini," ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (8/4).

IMF pun merevisi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,8 persen pada 2022. Padahal, sebelumnya perekonomian domestik diproyeksi dapat melesat hingga enam persen pada tahun depan.

Respons Menkeu Sri Mulyani

Menyikapi prediksi ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan proyeksi yang ditetapkan IMF merupakan bagian dari proyeksi-proyeksi yang mengacu pada ketidakmenentuan, sehingga asumsi yang digunakan kompleks.

"IMF merevisi ke bawah, buat kita semua prediksi sekarang selalu subject to uncertainty, pasti asumsinya macam-macam, vaksinasi kemudian third wave dan lain-lain," kata Sri saat acara Sarasehan Akselerasi Pemulihan Ekonomi Nasional, Jumat (9/4).

Namun, dia menekankan pemerintah masih memiliki optimisme pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kisaran batas bawah 4,5 persen dan batas atas hingga 5,3 persen atau lebih tinggi dari perkiraan IMF.

Sri Mulyani mengklaim pemerintah memiliki sisi kebijakan yang bisa mengontrol pola penanganan wabah pandemi Covid-19 terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia secara keseluruhan.

Hal ini terbukti saat pemerintah mampu menahan laju kontraksi ekonomi Indonesia dari kuartal dua 2020 minus 5,3 persen, sehingga akhirnya bangkit pada kuartal empat 2020 menjadi minus 2,19 persen.

"Makanya kita melakukan adjustment menahan kontraksi tidak terlalu dalam, kalau negara lain minus delapan persen sampai sembilan persen, kita minus dua persen dengan defisit fiskal yang lebih kecil," ungkapnya.

Hal senada disampaikan Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Iskandar Simorangkir. Iskandar mengatakan beberapa indikator ekonomi mencerminkan optimisme proyeksi pertumbuhan Indonesia.

Ia memberi contoh Purchasing Managers Index (PMI) Indonesia naik 53,2 pada Maret 2021 dibandingkan Februari yang 50,9. Indikator lain, neraca perdagangan Februari kembali surplus dengan ekspor membaik.

Iskandar mencatat jumlah uang beredar di masyarakat meningkat. Menurut dia, ini menandakan konsumsi masyarakat semakin membaik, khususnya pada kalangan kelas menengah.

“Kelompok yang menyumbang 82 persen dari konsumsi rumah tangga itu tumbuh seiring realisasi vaksinasi Covid-19 yang terus digenjot,” Iskandar menjelaskan.

Pemerintah yakin investasi pun akan meningkat. Adapun faktor pemicunya adalah Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja dan terbentuknya Indonesia Investment Authority (INA).

Untuk menjaga pertumbuhan angka 4,5 persen hingga 5,3 persen, belanja sosial tetap dijaga. Bantuan untuk kelompok masyarakat di bawah 40 persen juga rutin diberikan.

Ke depan, Iskandar mengaku optimistis ekonomi akan tumbuh seiring diberlakukannya kebijakan-kebijakan untuk mengerek konsumsi. Hal ini terbukti stimulus pembebasan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) kendaraan dan pajak pertambahan nilai (PPN) properti ternyata efektif meningkatkan permintaan dan berdampak pada membaiknya industri manufaktur.

Insentif UMKM untuk produksi dan khususnya menjelang Ramadhan dan Lebaran akan meningkatkan belanja pada triwulan dua 2021. Insentif hotel, restoran, dan kafe akan meningkatkan industri hotel, restoran, dan kafe pada semester II 2021.

Sinyal Perbaikan dari BKF

Pemerintah menyebut beberapa sektor menunjukkan sinyal perbaikan dari sisi konsumsi dan investasi. Hal ini membawa optimisme pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kisaran 4,5 persen sampai 5,3 persen pada tahun ini.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu mengatakan ada hal yang perlu diperhatikan dari rilis IMF mengenai waktu kajiannya. “Yang dilakukan ini adalah analisis awal tahun dan dirilis kemarin. Jadi, kita selalu menggunakan data yang paling update,” kata Febrio.

Dari sisi lain, menurut dia, saat ini muncul varian Covid-19 baru contoh beberapa negara di dunia pun tengah mengalami gelombang ketiga pandemi sehingga harus disiplin dalam penanganannya. Indonesia cukup disiplin dan tidak ada kenaikan kasus yang melonjak.

Pemerintah yakin pemulihan ekonomi diperkirakan berlanjut karena program vaksinasi terus dipercepat dengan jumlah pasokan yang memadai. Pemerintah juga yakin APBN bekerja ekspansif dan konsolidatif yang difokuskan untuk melanjutkan penanganan pandemi dan memperkuat pemulihan ekonomi.

Paket kebijakan terpadu Komite Stabilitas Sistem Keuangan untuk meningkatkan pembiayaan dunia usaha juga dilakukan. Terakhir, implementasi reformasi struktural melalui aturan turunan Undang-Undang No 11/2020 tentang Cipta Kerja, Indonesia Investment Authority, dan kelanjutan pembangunan prioritas.

Kepala Pusat Kebijakan Makro Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Hidayat Amir memproyeksikan ekonomi Indonesia akan tumbuh sekitar tujuh persen sampai delapan persen pada kuartal dua tahun ini karena adanya akselerasi pemulihan.

Adapun proyeksi pertumbuhan level tersebut masih realistis mengingat Indonesia memiliki dasar yang rendah pada kuartal dua tahun lalu, yakni minus 5,3 persen.

Tak hanya itu, berbagai indikator pertumbuhan ekonomi juga terlihat mulai mengalami peningkatan setelah tertekan dampak pandemi yang luar biasa pada tahun lalu, seperti penjualan semen dan kendaraan bermotor.

Kepala Ekonom BCA David Sumual menilai beberapa lembaga internasional termasuk IMF biasanya merilis kinerja ekonomi sedikitnya dua kali dalam setahun. Menurut dia, kemungkinan bisa saja ada lagi review ke atas karena konsen utama ada pada program vaksinasi.

David menjelaskan berdasarkan data terakhir Indonesia jauh lebih baik dalam hal vaksinasi. Saat ini, Indonesia sudah tembus 12 juta dosis.

Dari sisi nonprodusen vaksin, Indonesia termasuk keempat terbesar di dunia setelah Brasil, Turki, dan Jerman, untuk vaksin. Oleh karena itu, David cukup optimistis pelaksanaan vaksinasi selesai sesuai target sehingga dapat meningkatkan keyakinan masyarakat untuk beraktivitas dan mendorong ekonomi menuju normal.

“Sedangkan dari sisi produsen, Indonesia juga tidak hanya dari satu produsen. Kita hampir semua produsen sudah ada kepastian pasokan dan kita harap tidak ada masalah dari sisi pasokan,” kata David. [yy/republika]

Oleh Novita Intan