15 Dzulqa'dah 1441  |  Senin 06 Juli 2020

Berinvestasi Saham SyariahFiqhislam.com - Banyak pemodal muslim awalnya ragu berinvestasi saham di pasar modal yang disebabkan oleh kekhawatiran mengenai produk investasi di pasar modal apakah memenuhi prinsip syariah. Saat ini, dengan berkembangnya saham syariah di pasar modal Indonesia, kekhawatiran itu seharusnya tidak ada lagi.

Volume transaksi saham syariah di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kini mendominasi perdagangan. Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Friderica Widyasari Dewi yang menyatakan bahwa dalam sehari rata-rata transaksi saham syariah mencapai Rp3,1 triliun.

"Ini setara dengan 70 persen volume transaksi saham di BEI yang mencapai Rp5,1 triliun," ungkap Friderica di awal tahun dalam sebuah peluncuran produk syariah.

Ia memaparkan bahwa saat ini sebanyak 302 saham berbasis syariah terdaftar di Indeks Saham Syariah Indonesia. Menurut Friderica, perkembangan sektor ini tumbuh sangat cepat. Oleh sebab itu, BEI mendorong para pelaku pasar untuk terus mengoptimalkan potensi pasar syariah yang dinilai cukup besar.

Pertumbuhan harga saham syariah juga melebihi rata-rata harga saham konvensional. Pada tahun 2012, Indeks syariah yakni Jakarta Islamic Indeks tumbuh sebesar 17 persen, sedangkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tumbuh sebesar 13 persen.

Saham-saham yang dikategorikan sebagai saham syariah adalah saham-saham yang masuk dalam Daftar Efek  Syariah (DES) yang ditetapkan  oleh Bapepam-LK (sekarang dikenal sebagai Otoritas Jasa Keuangan atau OJK) atau Pihak yang disetujui OJK. DES merupakan panduan investasi bagi individu yang menginginkan investasi di saham syariah, dan reksadana berbasis syariah dalam menempatkan dana kelolaannya.

DES yang diterbitkan oleh OJK dapat dikategorikan menjadi dua jenis yaitu DES Periodik dan DES Insidentil. DES Periodik pertama kali diterbitkan OJK pada tahun 2007 dan diterbitkan secara berkala yaitu pada akhir Mei dan November setiap tahunnya.
Sedangkan DES Insidentil merupakan DES yang diterbitkan tidak secara berkala. DES Insidentil diterbitkan antara lain bila penetapan saham yang memenuhi kriteria efek syariah bersamaan dengan efektifnya pernyataan pendaftaran Emiten yang melakukan penawaran umum perdana atau pernyataan pendaftaran Perusahaan Publik.

Berikutnya bisa masuk dalam DES Insidentil jika penetapan saham Emiten dan atau Perusahaan Publik yang memenuhi kriteria efek syariah berdasarkan laporan keuangan berkala yang disampaikan kepada OJK setelah Surat Keputusan DES secara periodik ditetapkan.

Efek yang dapat dimuat dalam Daftar Efek Syariah yang ditetapkan oleh OJK meliputi surat berharga syariah yang diterbitkan oleh negara Republik Indonesia dan efek yang diterbitkan oleh Emiten atau Perusahaan Publik yang menyatakan bahwa kegiatan usaha serta cara pengelolaan usahanya dilakukan berdasarkan prinsip syariah sebagaimana tertuang dalam anggaran dasar.

Sukuk yang diterbitkan oleh Emiten termasuk Obligasi Syariah yang telah diterbitkan oleh Emiten sebelum ditetapkannya Peraturan ini. Produk lainnya adalah Reksa Dana Syariah, Unit Penyertaan Kontrak Investasi Kolektif Reksa Dana Syariah, Efek Beragun Aset Syariah, dan Efek berupa saham, termasuk Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) syariah dan Waran Syariah, yang diterbitkan oleh Emiten atau Perusahaan Publik yang menyatakan bahwa kegiatan usaha serta cara pengelolaan usahanya dilakukan berdasarkan prinsip syariah.

Prinsip syariah yang dimaksud meliputi, total utang yang berbasis bunga dibandingkan dengan total aset tidak  lebih dari 45 persen, serta total pendapatan bunga dan pendapatan tidak halal lainnya dibandingkan dengan total pendapatan usaha (revenue) dan pendapatan lain-lain tidak lebih dari 10 persen. [yy/tim bei/
okezone.com]

head_user52.jpg
head_user54.jpg
head_user51.jpg
head_user55.jpg
head_user53.jpg
head_user62.jpg
head_user61.jpg
head_user64.jpg
head_user65.jpg
head_user63.jpg
2007 ~ 2020  |  Copyright  Fiqhislam.com  |  Design by JoomlaShine