9 Syawal 1441  |  Senin 01 Juni 2020

Mungkinkah Tidak Membagi Dividen ? Fiqhislam.com - Bagi investor, publikasi laporan keuangan adalah hal yang ditunggu, sebab kinerja yang ditampilkan akan menjadi barometer kesejahteraan (wealth) para investor.
 
Nantinya, tingkat kesejahteraan tersebut akan terlihat dari harga sahamnya. Bila kinerja emiten baik, publikasi laporan keuangan biasanya menjadi sentimen positif bagi pergerakan harga saham. Sebaliknya, bila kinerja emiten turun, publikasi laporan keuangan akan menjadi sentimen negatif.
 
Pada 2011, secara umum emiten di BEI memiliki kinerja yang baik. Emiten perbankan, misalnya, selama tahun lalu menunjukkan kinerja yang fantastis. Kinerja emiten bank BUMN yang dimotori Bank BRI, tetap menjadi primadona bagi para investor karena kinerjanya yang luar biasa.
 
Dari kinerja yang baik itu, para investor biasanya berharap rapat umum pemegang saham (RUPS) akan memutuskan pembagian dividen. Pertanyaannya, apakah dividen masih diperlukan oleh para investor saat ini? Lalu, bagaimana prospek pembagian dividen pada 2012 ini?
 
Sumber keuntungan (return) yang diperoleh investor dari kepemilikan sahamnya pada perusahaan yang listed di BEI, sejatinya tidak hanya dividen. Ada juga capital gain atau keuntungan yang diperoleh dari selisih harga yang lebih tinggi ketika melakukan transaksi jual beli di BEI. Indikasi, apakah investor selama 2011 telah “lebih makmur“ atau tidak, sejatinya dapat dilihat dari kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG).
 
Bila IHSG naik selama 2011, itu menunjukkan adanya capital gain yang diperoleh investor. Sebaliknya, bila jatuh, biasanya hal tersebut menunjukkan keuntungan rata-rata investor turun.
 
Faktanya selama 2011, IHSG mengalami booming. Bahkan, pada Agustus 2011, IHSG sempat tembus di atas level 4.100-an dan pada akhir 2011 ditutup pada tingkat 3.900-an.
 
Pada akhir 2010 yang berada di posisi 3.600-an. Itu artinya, selama 2011, investor telah meraup capital gain yang cukup besar. Tentu saja, hal yang wajar bila ada pendapat yang mengusulkan agar pada 2012 ini, sebaiknya investor tidak menuntut dividen. Pada umumnya, pendapat ini menyarankan agar laba bersih selama 2011 dipergunakan bagi kegiatan investasi untuk meningkatkan nilai perusahaan.
 
Sayangnya, karakteristik investor kita tampaknya sulit bila diminta sedikit “take a risk“. Misalnya, merelakan bagian labanya dipupuk untuk memperkuat laba ditahan (retained earning).
 
Para investor kita cenderung penghindar risiko (risk aversion). Apalagi “investor“ pemerintah, yang pastinya tidak mau rugi, karena dividen merupakan satusatunya sumber keuntungan atas kepemilikan sahamnya di BUMN.
 
Pada umumnya, para investor yang risk aversion ini memiliki pandangan bahwa dividen yang diterima saat ini mempunyai nilai lebih tinggi dibandingkan dengan capital gain yang diterima pada masa mendatang. Investor yang tidak “take a risk“ ini lebih menyukai dividen dibandingkan dengan capital gain.
 
Satu hal lagi yang menjadi argumentasi agar emiten tetap membagikan dividen adalah status Indonesia yang kini di level investment grade. Seiring membaiknya sovereign rating Indonesia, corporate rating biasanya akan ikut meningkat.
 
Terbukti, sejumlah emiten (termasuk perbankan), juga telah memperoleh perbaikan rating. Membaiknya rating ini menjadi alasan bagi investor agar emiten tetap membagikan dividen.
 
Argumentasinya adalah, karena cost of capital yang lebih murah, terdengar aneh bila emiten merasa kesulitan sumber pendanaan dari eksternal (external financing) untuk membiayai kegiatan investasi dan bergantung pada dana internal (internal equity).
 
Uniknya, di Indonesia juga tidak banyak emiten yang berani “take a risk“ dengan mengoptimalkan berbagai sumber pendanaan dari eksternal. Saya kira, hanya beberapa emiten saja di Indonesia ini yang berani “take a risk“ dengan memainkan instrumen utang secara maksimal dalam membiayai ekspansi usaha.
 
Emiten di Indonesia umumnya cenderung lebih memilih sumber pendanaan internal equity melalui pemupukan laba ditahan.
 
Apabila internal equity dianggap belum cukup, baru menggunakan external financing. Bila penggunaan external financing melalui utang belum cukup, baru emiten menggunakan external equity baik melalui IPO maupun rights issue. Dipilihnya external equity sebagai sumber pembiayaan “terakhir“, karena penerbitan ekuitas baru dianggap memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan utang dan internal equity.
 
Terlebih lagi, bagi BUMN. Itulah kenapa proses IPO maupun rights issue BUMN cenderung sulit, karena pertimbangan risiko (terutama potensi kehilangan kontrol dan berkurangnya dividen) dalam jangka panjang.
 
Sulit dipaksa
 
Kesimpulan saya, tampaknya sulit bila emiten harus “memaksa“ investor untuk “puasa“ di viden pada 2012 ini.
 
Persoalannya, tidak terletak pada ketidakmampuan secara keuangan pada diri emiten untuk membayar dividen, tetapi lebih disebabkan oleh kultur kita (investor dan emiten) yang belum banyak mengalami perubahan.
 
Bagi emiten, akan merasa aneh bila dalam kinerja yang semakin baik, justru tidak membagikan dividen. Melalui pembagian dividen, manajemen juga ingin menunjukkan sikap “baik hati“ kepada investor, sekaligus memperlihatkan stabilitas dan prospek pertumbuhan perusahaan.
 
Bagi investor, dividen diperlukan lebih disebabkan oleh tidak ingin menjadi “take a risk“ terkait dengan prospek perusahaan. Cash in this time better than potential return in the next years. Begitulah filosofi investor kita.
 
Terlebih lagi, situasi perekonomian tahun ini masih unpredictable. Bahkan, diperkirakan bisa lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu. Secara pragmatis, mengambil dividen saat ini memang merupakan tindakan yang “bijak“ dan still the best way.
 
Pertanyaannya, apakah tidak ada solusi untuk mengubah kultur seperti ini? Saya kira ada.
Kuncinya adalah persoalan ini harus dipandang sebagai kebutuhan secara nasional. Nah, karena memiliki urgensi tinggi untuk kepentingan investasi nasional, perlu diciptakan insentif. Salah satu instrumennya adalah pajak.
 
Misalnya, dengan menerapkan pajak yang lebih tinggi untuk dividen dan lebih rendah bagi capital gain. Melalui pemberlakuan pajak yang berbeda ini, tentunya investor akan berpikir ulang bila ngotot meminta dividen tinggi.
 
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
2007 ~ 2020  |  Copyright  Fiqhislam.com  |  Design by JoomlaShine