13 Syawal 1441  |  Jumat 05 Juni 2020

Menyimak Harga Saham yang JatuhFiqhislam.com - Sudah bukan rahasia lagi bahwa investasi saham adalah jenis investasi yang fluktuatif, baik return maupun risiko yang dihasilkan.

Terkadang harga saham bisa terbang tinggi,namun kadang bisa pula saham tersebut mengalami koreksi yang dalam. Namun, perlu diingat bahwa setiap perubahan harga saham di bursa, apalagi yang signifikan, hampir pasti ada faktor pemicunya.

Harga saham yang naik tajam, hampir pasti disebabkan adanya kejadian penting di emiten tersebut yang bisa meningkatkan fundamentalnya pada jangka panjang. Misalnya, emiten yang diambil alih (take over) atau diakuisisi oleh perusahaan kakap.

Bisa juga, misalnya emiten tersebut sedang menjalin kerja sama strategis dengan sebuah perusahaan papan atas. Apalagi, jika emiten itu sendiri juga merupakan perusahaan besar atau papan atas di sektornya. Kecil kemungkinan sebuah perusahaan besar dengan kapitalisasi pasar besar dan distribusi saham yang cukup luas mengalami kenaikan harga karena digerakkan oleh kekuatan tertentu.

Begitupun dengan kejadian harga saham yang menukik tajam. Hampir pasti penurunan harga semacam itu dilatarbelakangi peristiwa penting yang bisa melunturkan fundamental perusahaan tersebut.

Dalam kondisi pasar yang normal, jatuhnya harga saham, apalagi pada emiten besar yang selama ini menjadi favorit investor, biasanya hal ini bukan karena digerakkan oleh kelompok investor tertentu. Jatuhnya harga saham semacam itu pasti didasari alasan logis yang berkaitan dengan kian redupnya prospek emiten. Peristiwa penting macam apa yang mampu menurunkan harga saham di pasar secara begitu signifikan?

Peristiwa penting itu bisa bermacam-macam, misalnya jatuhnya harga jual produk emiten, gagalnya kontrak atas proyek tertentu, perubahan kurs yang menyebabkan turunnya pendapatan dan meningkatkan beban utang, adanya mismanagement atau masalah internal sehingga manajemen tidak berjalan efektif, terjadinya konflik di antara pemegang saham pengendali, terjadinya agency problem atau konflik antara pemegang saham pengendali dengan manajemen sehingga operasional perusahaan tidak sejalan dengan kemauan pemegang saham pengendali, dan banyak faktor lainnya.

Berbagai kemungkinan kejadian penting di atas semuanya bermuara pada masalah fundamental emiten. Konflik antara pemegang saham pengendali misalnya, bisa memengaruhi kinerja emiten. Jika emiten diibaratkan sebuah mobil di mana pemiliknya terdiri dari beberapa pihak, maka sang sopir tentu akan bingung menentukan arah kemudinya jika masing-masing pemilik mobil menentukan arah jalan yang berbeda-beda. Sang sopir pasti tidak dapat menentukan pemilik mana yang akan diikuti kemauannya.

Analogi sederhana ini menunjukkan bahwa konflik yang terjadi pada pemegang saham pengendali bisa berakibat fatal bagi jalannya perusahaan. Jika kondisinya seperti ini, sangat wajar jika banyak pemegang saham kemudian melepas sahamnya ke pasar. Jika yang menjadi penyebab ambruknya kinerja perusahaan adalah konflik di antara pemegang saham pengendali, pemecahannya lebih rumit dibandingkan misalnya turunnya fundamental emiten karena penjualan yang merosot.

Persoalan turunnya fundamental akibat merosotnya penjualan bisa diatasi dengan mencari strategi baru untuk menggenjot kembali kinerja perusahaan. Tapi, jika runtuhnya fundamental itu disebabkan oleh konflik antara pemegang saham pengendali, maka untuk menanganinya harus dikembalikan kepada pemegang saham pengendali itu sendiri, atau tergantung pada bagaimana manajemen menyikapi konflik tersebut. Jika manajemen tidak peduli dengan konflik yang terjadi antara pemegang saham pengendali, ada kemungkinan kinerja perusahaan bisa diselamatkan.

Tapi, jika sikap manajemen terombang-ambing oleh konflik yang terjadi, maka jangan harap kinerja perusahaan bisa pulih dalam tempo yang singkat. Kembali ke topik bahasan tadi, lalu bagaimana cara kita menyikapi harga saham yang jatuh begitu tajam?

Pertama, hal yang tidak boleh terjadi sama sekali adalah jangan sampai investor panik, lebih-lebih sampai kehilangan akal sehat dan tidak bisa berpikir jernih. Hilangnya logika akal sehat hanya akan menyebabkan investor mudah terjerumus untuk mengambil tindakan yang berisiko merugikan dirinya sendiri, misalnya asal jual di harga berapa pun. Sikap seperti ini jelas tidak bisa dibenarkan.

Kedua, investor harusnya mengembalikan semua kejadian luar biasa yang terjadi tersebut kepada masalah fundamental perusahaan. Apapun penyebab turunnya harga saham, tetaplah mengacu pada aspek fundamental. Sedrastis-drastisnya harga saham itu jatuh, tentu ada perhitungan berapa harga yang layak untuk buy back. Jika investor menggunakan indikator Price Earning Ratio (PER) misalnya, maka dengan harga yang sudah turun drastis itu, investor bisa menentukan pada harga berapa investor bisa melakukan pembelian kembali.

Sebab, sejatuh-jatuhnya harga saham, pasti ia akan sampai pada batas harga terendahnya. Nah, titik terendah inilah yang perlu dicari. Ketiga, investor tetap harus mempertimbangkan faktor risiko. Jika setelah harga saham jatuh tidak ada kepastian tentang kemungkinan recovery, maka sebaiknya investor tidak ambil risiko dengan tetap mempertahankannya sebagai portofolio. Jika ada portofolio lain yang dinilai lebih prospektif, tidak perlu ragu untuk "berpindah ke lain hati". (Tim BEI/yy/okezone)

head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
2007 ~ 2020  |  Copyright  Fiqhislam.com  |  Design by JoomlaShine