15 Syawal 1441  |  Minggu 07 Juni 2020

Sebab, keputusan tersebut akan membuat pasar berkembang seperti Indonesia lebih menarik untuk dijadikan sebagai tempat berinvestasi.

Sri menjelaskan, pemangkasan suku bunga acuan The Fed seharusnya mampu mendorong para investor untuk menempatkan dana ke Indonesia.

"Tentu dengan tekanan suku bunga menurun dari luar, maka investor lebih mampu melihat secara lebih realistis opportunity yang ada di negara seperti kita karena Indonesia relatif dalam situasi yang lebih positif," ucapnya ketika ditemui di Gedung Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Jakarta, Rabu (4/3).



Diketahui, The Fed memangkas suku bunga ke 1-1,25 persen pada Selasa (3/3) waktu setempat. Keputusan ini diambil di tengah kekhawatiran Bank Sentral bahwa penyebaran virus corona bisa merusak ekonomi AS.

Dilansir di Reuters, Selasa, kebijakan ini menjadi pemotongan bunga level darurat pertama yang tidak terjadwal sejak tahun 2008 sekaligus penurunan bunga satu kali terbesar sejak 2008.

Sri menyambut baik kebijakan The Fed. Menurutnya, kebijakan moneter akomodatif memang dibutuhkan di tengah tekanan perekonomian global akibat virus corona saat ini. Upaya serupa juga dilakukan Bank Indonesia (BI) yang sudah memangkas suku bunga acuan sebesar 25 bps ke level 4,75 persen pada bulan lalu.

"Secara global, arah ini baik, bank sentral seluruh dunia melakukan kebijakan penurunan suku bunga. BI juga sudah relaksasi," ujar mantan direktur pelaksana Bank Dunia tersebut.

Sementara itu, Presiden Federal Reserve Bank Chicago Charles Evans mengatakan, pengurangan suku bunga The Fed diharapkan mampu mempertahankan kepercayaan bisnis dan rumah tangga. Di sisi lain, kebijakan tersebut seharusnya bisa menjaga dampak ekonomi virus corona yang kini sudah menyebar begitu cepat.

Keputusan The Fed diambil dalam pertemuan darurat yang diadakan dua pekan sebelum waktu pertemuan seharusnya. Evan menyebutkan, sebagian besar alasan kebijakan ini adalah untuk meyakinkan publik bahwa Bank Sentral siap membuat kebijakan akomodatif. "(Kami juga siap bergerak) sebagai bagian dari sebuah tim," katanya, dilansir di Reuters.

Meski penyebaran virus corona sulit diprediksi dan berpotensi menjadi ancaman ekonomi lebih serius, Evans berharap, dampaknya dapat hilang dalam waktu enam bulan. Terpenting, menurutnya, tidak ada dampak permanen dari virus ini terhadap kepercayaan maupun perilaku konsumen. [yy/republika]

 

head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
2007 ~ 2020  |  Copyright  Fiqhislam.com  |  Design by JoomlaShine