9 Syawal 1441  |  Senin 01 Juni 2020

"Resesi itu membayangi ekonomi global, jadi memang pasti. Jadi di Indonesia itu pasti. Pengaruhnya biasanya tiga  sampai empat bulan. Ini terjadi  akibat  trade war (perang dagang) yang sebenarnya lanjutan daripada currency war (perang mata uang) yang diawali dengan oil war (perang minyak)," ulasnya saat memaparkan materi "Tadabbur dan Prediksi Ekonomi Keuangan dan Industri Pasca Terbentuknya Kabinet Indonesia Maju" di Forum Majelis Reboan DPP Hidayatullah, Jakarta, Rabu  (13/11).

Majelis Reboan adalah forum sharing dan diskusi perihal ekonomi yang dibidani oleh Ketua Bidang Ekonomi DPP Hidayatullah, Asih Subagyo.



Ia menambahkan, Indonesia kian serius menghadapi masalah ekonomi saat melihat transformasi struktur ekonomi Indonesia yang bisa dikatakan cenderung melemah.

Ia menjelaskan, sejak Indonesia merdeka sampai tahun 1985,  sektor pertanian masih memberikan kontribusi yang tertinggi terhadap PDB dibandingkan dengan sektor lainnya. Dan, pemberi kontribusi yang kedua adalah sektor pertambangan. Namun sejak 1995 kontribusi yang tinggi dari sektor pertanian dan sektor pertambangan mulai digantikan oleh sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan,  hotel dan restoran. 

“Sampai 2010 kontribusi sektor industri dan pengolahan terus meningkat sejak tahun 1985. Namun,  setelah itu, terlihat bahwa kontribusi sektori industri dan pengolahan cenderung menurun terus dan penurunan kontribusinya diisi oleh kontribusi sektor keuangan dan sektor jasa," urainya dalam rilis yang diterima Republika.co.id.

Kebijakan pemerintah yang cenderung menomorsatukan infrastruktur juga perlahan namun pasti akan mengubah matapencaharian rakyat.

"Jadi kita antisipasi dengan adanya jalan tol maka ini akan terjadi banyak migrasi. Para petani pindah jadi buruh, buruh kemudian menjadi pekerja lepas, dan kemudian pindah ke kota. Jadi Indonesia lemah," tegasnya. 

Kondisi kian memburuk jika memerhatikan sektor tambang. "Kenapa tambang ini? Tambang  kita kelola dalam bentuk barang mentah. Tambang itu  dikeruk dan  dijual. Lama-lama habis. Kalau habis,  bagaimana kira-kira? Itu pertanyaan kita terhadap masa depan anak cucu kita," tegasnya.

Menurutnya,  China  tertarik ke Indonesia juga  karena sektor tambang. "Ya, untuk ngeruk tambang ini. Karena tidak ada investor yang mau masuk ke sektor pertanian," urainya. [yy/republika]

"Resesi itu membayangi ekonomi global, jadi memang pasti. Jadi di Indonesia itu pasti. Pengaruhnya biasanya tiga  sampai empat bulan. Ini terjadi  akibat  trade war (perang dagang) yang sebenarnya lanjutan daripada currency war (perang mata uang) yang diawali dengan oil war (perang minyak)," ulasnya saat memaparkan materi "Tadabbur dan Prediksi Ekonomi Keuangan dan Industri Pasca Terbentuknya Kabinet Indonesia Maju" di Forum Majelis Reboan DPP Hidayatullah, Jakarta, Rabu  (13/11).

Majelis Reboan adalah forum sharing dan diskusi perihal ekonomi yang dibidani oleh Ketua Bidang Ekonomi DPP Hidayatullah, Asih Subagyo.



Ia menambahkan, Indonesia kian serius menghadapi masalah ekonomi saat melihat transformasi struktur ekonomi Indonesia yang bisa dikatakan cenderung melemah.

Ia menjelaskan, sejak Indonesia merdeka sampai tahun 1985,  sektor pertanian masih memberikan kontribusi yang tertinggi terhadap PDB dibandingkan dengan sektor lainnya. Dan, pemberi kontribusi yang kedua adalah sektor pertambangan. Namun sejak 1995 kontribusi yang tinggi dari sektor pertanian dan sektor pertambangan mulai digantikan oleh sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan,  hotel dan restoran. 

“Sampai 2010 kontribusi sektor industri dan pengolahan terus meningkat sejak tahun 1985. Namun,  setelah itu, terlihat bahwa kontribusi sektori industri dan pengolahan cenderung menurun terus dan penurunan kontribusinya diisi oleh kontribusi sektor keuangan dan sektor jasa," urainya dalam rilis yang diterima Republika.co.id.

Kebijakan pemerintah yang cenderung menomorsatukan infrastruktur juga perlahan namun pasti akan mengubah matapencaharian rakyat.

"Jadi kita antisipasi dengan adanya jalan tol maka ini akan terjadi banyak migrasi. Para petani pindah jadi buruh, buruh kemudian menjadi pekerja lepas, dan kemudian pindah ke kota. Jadi Indonesia lemah," tegasnya. 

Kondisi kian memburuk jika memerhatikan sektor tambang. "Kenapa tambang ini? Tambang  kita kelola dalam bentuk barang mentah. Tambang itu  dikeruk dan  dijual. Lama-lama habis. Kalau habis,  bagaimana kira-kira? Itu pertanyaan kita terhadap masa depan anak cucu kita," tegasnya.

Menurutnya,  China  tertarik ke Indonesia juga  karena sektor tambang. "Ya, untuk ngeruk tambang ini. Karena tidak ada investor yang mau masuk ke sektor pertanian," urainya. [yy/republika]

Pengamat: Potensi Indonesia Alami Resesi Kecil

Pengamat: Potensi Indonesia Alami Resesi Kecil


Fiqhislam.com - Pengamat ekonomi Josua Pardede menilai potensi Indonesia mengalami resesi ekonomi tergolong kecil. Pasalnya, sebagian besar pertumbuhan ditopang sektor konsumsi rumah tangga yang masih kuat.

"Saya meyakini ekonomi kita masih tumbuh solid, meski IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia, tapi masih tetap solid di kisaran lima persen," katanya dalam Forum Merdeka Barat di Jakarta, kemarin.

Menurut ekonom Bank Permata itu, konsumsi rumah tangga yang menyumbang 56 persen terhadap pertumbuhan ekonomi, diyakini membuat Indonesia bertahan dari ancaman resesi.

Selain itu, lanjut dia, pemerintah juga sedang menggenjot investasi dengan menyediakan insentif, reformasi birokrasi, dan perizinan yang diharapkan semester kedua 2020, investasi RI semakin menarik.

Selain ditopang konsumsi domestik yang besar, alumnus Universitas Amsterdam, Belanda itu menambahkan, komponen ekspor Indonesia yang tergolong kecil juga menjadi penyebab RI tidak kena resesi ekonomi.

Ia mencatat ekspor Indonesia mencapai 16 persen, lebih rendah dibandingkan Singapura dan Malaysia terhadap produk domestik bruto (PDB).

"Makanya, transmisi perlambatan global karena perang dagang AS-China ini masih kecil bagiIndonesia karena masih ditopang konsumsi domestik," imbuhnya.

Meski komponen ekspor RI masih kecil, namun ia mengingatkan agar pemerintah melakukan antisipasi karena pasar utama ekspor Indonesia adalah China.

Sedangkan pertumbuhan ekonomi China dipredikai turun di bawah enam persen tahun 2020 berdasarkan proyeksi IMF. Untuk itu, ia mendorong pemerintah melakukan diversifikasi pasar tujuan ekspor selain China.

Ia menyebut beberapa negara kini mengalami resesi ekonomi di antaranya Argentina dan Turki.

Beberapa negara lain juga mengalami tekanan dan perlambatan ekonomi yang besar di antaranya Jerman dan Singapura. [yy/republika]

head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
2007 ~ 2020  |  Copyright  Fiqhislam.com  |  Design by JoomlaShine