2 Syawal 1441  |  Senin 25 Mei 2020

Meski begitu, dia mengatakan, melorotnya peringkat Indonesia berkaitan dengan teknologi informasi.

"Catatan saya bahwa yang dapat penurunan adalah berkaitan dengan teknologi informasi. Jadi kemampuan menggarap teknologi ini berkaitan dengan daya inovasi kita," kata Suhasil usai menjadi pembicara dalam sarasehan Asosiasi Perusahaan Migas Nasional (Apermigas) di Kantor SKK Migas, City Plaza, Jakarta Selatan, Kamis 10 Oktober 2019.

Pernyataan Suahasil menanggapi laporan World Economic Forum (WEF) berjudul Global Competitiveness Report 2019. Laporan itu mencatat bahwa peringkat daya saing Indonesia melorot 5 peringkat. Tahun lalu, Indonesia berada pada ranking ke-45 tapi kini peringkatnya turun ke posisi 50. Indonesia mengumpulkan skor 64,6 atau lebih rendah 0,3 poin dibandingkan pada tahun lalu.

Suahasil mengatakan, penurunan daya saing Indonesia ini menjadi pekerjaan rumah bersama pemerintah untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia yang ada. Khususnya, untuk bisa berinovasi dengan menggunakan teknologi informasi.

"Kalau dari sisi infrastruktur malah naik nilainya, tapi yang terkait sama informasi komunikasi dan daya inovasi ini yang menjadi pekerjaan rumah dan kami akan melihat dengan detail," kata Suahasil.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan merosotnya peringkat daya saing Indonesia disebabkan karena faktor regulasi. "Itu kan larinya ke regulasi yang dianggap masih menghambat," kata Bambang di kantornya, Jakarta, Kamis, 10 Oktober 2019.

Menanggapi hal ini, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengakui Indonesia harus terus berbenah untuk memperbaiki daya saing global. Ia menyebut banyak bidang dalam pemerintahan yang harus diperbaiki mulai dari regulasi hingga kemudahan untuk berinvestasi.

"Itu selalu kita bicarakan bahwa tingkat kompetitif kita di bawah Thailand, Vietnam. Mereka lebih baik dari kita (dalam daya saing dan kemudahan berinvestasi). Kita menyadari itu sehingga harus diperbaiki," kata JK di Kantor Wakil Presiden, di Jakarta, Rabu 9 Oktober 2019. [yy/tempo]

Meski begitu, dia mengatakan, melorotnya peringkat Indonesia berkaitan dengan teknologi informasi.

"Catatan saya bahwa yang dapat penurunan adalah berkaitan dengan teknologi informasi. Jadi kemampuan menggarap teknologi ini berkaitan dengan daya inovasi kita," kata Suhasil usai menjadi pembicara dalam sarasehan Asosiasi Perusahaan Migas Nasional (Apermigas) di Kantor SKK Migas, City Plaza, Jakarta Selatan, Kamis 10 Oktober 2019.

Pernyataan Suahasil menanggapi laporan World Economic Forum (WEF) berjudul Global Competitiveness Report 2019. Laporan itu mencatat bahwa peringkat daya saing Indonesia melorot 5 peringkat. Tahun lalu, Indonesia berada pada ranking ke-45 tapi kini peringkatnya turun ke posisi 50. Indonesia mengumpulkan skor 64,6 atau lebih rendah 0,3 poin dibandingkan pada tahun lalu.

Suahasil mengatakan, penurunan daya saing Indonesia ini menjadi pekerjaan rumah bersama pemerintah untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia yang ada. Khususnya, untuk bisa berinovasi dengan menggunakan teknologi informasi.

"Kalau dari sisi infrastruktur malah naik nilainya, tapi yang terkait sama informasi komunikasi dan daya inovasi ini yang menjadi pekerjaan rumah dan kami akan melihat dengan detail," kata Suahasil.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan merosotnya peringkat daya saing Indonesia disebabkan karena faktor regulasi. "Itu kan larinya ke regulasi yang dianggap masih menghambat," kata Bambang di kantornya, Jakarta, Kamis, 10 Oktober 2019.

Menanggapi hal ini, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengakui Indonesia harus terus berbenah untuk memperbaiki daya saing global. Ia menyebut banyak bidang dalam pemerintahan yang harus diperbaiki mulai dari regulasi hingga kemudahan untuk berinvestasi.

"Itu selalu kita bicarakan bahwa tingkat kompetitif kita di bawah Thailand, Vietnam. Mereka lebih baik dari kita (dalam daya saing dan kemudahan berinvestasi). Kita menyadari itu sehingga harus diperbaiki," kata JK di Kantor Wakil Presiden, di Jakarta, Rabu 9 Oktober 2019. [yy/tempo]

Daya Saing Indonesia Merosot, Ini Analisis Faisal Basri

Daya Saing Indonesia Merosot, Ini Analisis Faisal Basri


Fiqhislam.com - Publikasi tahunan World Economic Forum (WEF) tentang indeks daya saing global menunjukkan bahwa Indonesia turun 5 peringkat, dari ranking 45 ke 50. Menyikapi hal ini, ekonom senior Indef Faisal Basri memaparkan analisisnya dalam faisalbasri.com Kamis 10 Oktober 2019.

Dalam ulasannya, Faisal Basri mengutip publikasi tahunan WEF yang berjudul “The Global Competitiveness Report 2019” , yang berisi senarai indeks daya saing global (Global Competitiveness Index/GCI) 141 negara.

Peringkat pertama daya saing diraih oleh Singapura yang menggantikan posisi Amerika Serikat. Negeri Paman Sam turun ke peringkat kedua akibat terlibar perang dagang AS dengan Cina, yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Dari kemungkinan skor tertinggi 100, Singapura memperoleh skor 84,8 pada 2019, naik dari 83,5 pada tahun 2018. Sebaliknya, skor Amerika Serikat turun dari 85,6 menjadi 83,7.

Faisal menulis, kabar kurang menggembirakan bagi Indonesia mengalami penurunan peringkat cukup tajam. Tak hanya turun peringkat, skor daya saing juga melorot dari 64,9 menjadi 64,6. Artinya, kata Faisal,  penurunan peringkat Indonesia bukan hanya karena negara-negara lain mengalami kenaikan skor melainkan juga karena skor daya saing Indonesia sendiri yang memburuk.

Faisal membeberkan, di antara enam negara ASEAN, hanya Indonesia dan Filipina yang mengalami penurunan skor. Sementara itu India adalah satu-satunya negara BRICS yang mengalami penurunan skor, mengakibatkan posisi India merosot 10 peringkat.

Malaysia dan Thailand sama-sama mengalami penurunan daya saing dua peringkat, namun skor kedua negara mengalami kenaikan. Berarti, imbuh Faisal, ada negara yang sebelumnya di bawah mereka menikmati perbaikan skor daya saing yang lebih cepat.

Dengan kata lain, tulis Faisal, peningkatan skor daya saing tidak otomatis meningkatkan peringkat. Laju kecepatan perbaikan juga turut menentukan kenaikan peringkat.

GCI merupakan indikator komposit dari 103 indikator yang dikelompokkan dalam 12 pilar. Skor terburuk Indonesia dialami oleh pilar ke-12 (innovation capability) yang hanya 37,7 dari skor tertinggi 100. Terburuk kedua adalah pilar ke-3 (ICT adoption), lalu pilar ke-8 (labor market), pilar pertama (institutions), dan pilar ke-7 (product market).

Karena itu, Faisal Basri menyarankan, perbaikan daya saing di Indonesia perlu diakselerasikan. Ini penting, agar Indonesia tidak disusul oleh Vietnam yang belakangan ini menunjukkan perbaikan pesat di berbagai bidang. [yy/tempo]

 

head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
2007 ~ 2020  |  Copyright  Fiqhislam.com  |  Design by JoomlaShine