4 Syawal 1441  |  Rabu 27 Mei 2020

Managing Director Google Indonesia Randy Jusuf menjelaskan tren pertumbuhan ekonomi digital di Asia Tenggara pesat, termasuk Indonesia. "Tahun ini kami prediksi 'internet economy' Indonesia mencapai 40 miliar dolar, dan kami prediksi pada 2025 akan mencapai lebih dari 133 miliar dolar," kata Randy pada konferensi pers di Kantor Google Indonesia di Jakarta, Senin (7/10).

Randy menjelaskan riset terbaru ini melaporkan bahwa tingkat pertumbuhan Indonesia mencapai 49 persen, paling pesat di Asia Tenggara dengan potensi hingga 133 miliar dolar AS pada 2025. Menurut laporan regional 2019, pertumbuhan ekonomi digital tersebut mencakup lima sektor, yakni e-commerce, media online, transportasi online, wisata dan perjalanan, serta jasa keuangan digital.

Dalam empat tahun ke depan, laporan memprediksi pertumbuhan 12 kaIi lipat untuk sektor e-commerce lndonesia dan pertumbuhan 6 kali lipat untuk transportasi online. Pembiayaan di Indonesia juga berpotensi untuk melebihi rekor yang tercatat pada 2018.

Jabodetabek tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan di Indonesia. Pengguna yang tinggal di area tersebut tercatat membelanjakan uang senilai 555 dolar AS per kapita (dalam GMV) dibandingkan di luar kota besar, yakni 103 dolar AS per kapita.

Namun demikian, daerah luar kota besar (non-metro) diperkirakan akan bertumbuh dua kali lebih pesat dalam enam tahun ke depan. Laporan juga mengungkapkan temuan bahwa semua sektor ekonomi internet di setiap daerah diuntungkan dengan meningkatnya penggunaan pembayaran digital.

Dalam kesempatan yang sama, Partner dan Leader of Asia Pacific Digital Practice dari Bain & Company, Florian Hoppe, menyebutkan bahwa terdapat 47 juta penduduk belum mendapatkan cukup layanan keuangan. Selain itu, ada 92 juta penduduk sama sekali tidak memiliki akses, teknologi dan data. Oleh karena itu, terdapat potensi yang dapat dimanfaatkan untuk mengubah rakyat Indonesia melakukan pembayaran, transfer dana, pinjaman, investasi, dan asuransi secara online

"Terdapat kekurangan akses untuk layanan keuangan di Asia Tenggara dan ini jelas merupakan peluang bagi lndonesia. yang hanya 42 juta penduduknya memiliki rekening bank," kata Partner dan Leader of Asia Pacific Digital Practice dari Bain & Company, Florian Hoppe. [yy/republika]

Managing Director Google Indonesia Randy Jusuf menjelaskan tren pertumbuhan ekonomi digital di Asia Tenggara pesat, termasuk Indonesia. "Tahun ini kami prediksi 'internet economy' Indonesia mencapai 40 miliar dolar, dan kami prediksi pada 2025 akan mencapai lebih dari 133 miliar dolar," kata Randy pada konferensi pers di Kantor Google Indonesia di Jakarta, Senin (7/10).

Randy menjelaskan riset terbaru ini melaporkan bahwa tingkat pertumbuhan Indonesia mencapai 49 persen, paling pesat di Asia Tenggara dengan potensi hingga 133 miliar dolar AS pada 2025. Menurut laporan regional 2019, pertumbuhan ekonomi digital tersebut mencakup lima sektor, yakni e-commerce, media online, transportasi online, wisata dan perjalanan, serta jasa keuangan digital.

Dalam empat tahun ke depan, laporan memprediksi pertumbuhan 12 kaIi lipat untuk sektor e-commerce lndonesia dan pertumbuhan 6 kali lipat untuk transportasi online. Pembiayaan di Indonesia juga berpotensi untuk melebihi rekor yang tercatat pada 2018.

Jabodetabek tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan di Indonesia. Pengguna yang tinggal di area tersebut tercatat membelanjakan uang senilai 555 dolar AS per kapita (dalam GMV) dibandingkan di luar kota besar, yakni 103 dolar AS per kapita.

Namun demikian, daerah luar kota besar (non-metro) diperkirakan akan bertumbuh dua kali lebih pesat dalam enam tahun ke depan. Laporan juga mengungkapkan temuan bahwa semua sektor ekonomi internet di setiap daerah diuntungkan dengan meningkatnya penggunaan pembayaran digital.

Dalam kesempatan yang sama, Partner dan Leader of Asia Pacific Digital Practice dari Bain & Company, Florian Hoppe, menyebutkan bahwa terdapat 47 juta penduduk belum mendapatkan cukup layanan keuangan. Selain itu, ada 92 juta penduduk sama sekali tidak memiliki akses, teknologi dan data. Oleh karena itu, terdapat potensi yang dapat dimanfaatkan untuk mengubah rakyat Indonesia melakukan pembayaran, transfer dana, pinjaman, investasi, dan asuransi secara online

"Terdapat kekurangan akses untuk layanan keuangan di Asia Tenggara dan ini jelas merupakan peluang bagi lndonesia. yang hanya 42 juta penduduknya memiliki rekening bank," kata Partner dan Leader of Asia Pacific Digital Practice dari Bain & Company, Florian Hoppe. [yy/republika]

Ekonomi Digital Jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru

Ekonomi Digital Jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru


Fiqhislam.com - Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Sugeng optimistis Indonesia bisa memanfaatkan sumber-sumber baru untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan ekonomi digital.

"Kami lihat Indonesia dapat memanfaatkan ekonomi digital sebagai new source of economic growth. Pertama karena jumlah penduduk kita yang semakin banyak kaum milenialnya," ujar Sugeng dalam seminar bertajuk "Menuju Indonesia Unggul Melalui Ekonomi Digital di Jakarta, Senin (7/10).

Selain itu, akses terhadap teknologi relatif belum merata meski animo masyarakat menggunakan layanan teknologi cukup tinggi. Pengguna telepon seluler (ponsel) di Tanah Air saat ini mencapai 371,4 juta pengguna atau 142 persen dari total populasi sebanyak 262 juta jiwa.

Namun, penetrasi internet di Indonesia masih relatif rendah. Berdasarkan data internet world stats , penetrasi internet di Indonesia mencapai 143,26 juta jiwa atau sekitar 53 persen dari total populasi yang diperkirakan mencapai 269,54 juta jiwa.

Kemudian,tingkat inklusi keuangan di Indonesia juga masih sebesar 49 persen berdasarkan data survei akhir 2017 lalu.

Oleh karena itu, BI mendorong perkembangan ekonomi digital agar dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru yaitu melalui tiga strategi utama sistem pembayaran di era ekonomi digital.

Pertama yaitu menetapkan Visi Sistem Pembayaran Indonesia 2025. Kedua, mendorong peningkatan elektronifikasi transaksi pembayaran. Ketiga, mendorong program persiapan pemasaran online UMKM (on boarding UMKM) ke ekonomi digital.

"Hal tersebut dapat dicapai melalui sinergi yang baik antara Bank Indonesia dengan otoritas terkait dan dengan pelaku industri sehingga dapat mendukung kemajuan dan keunggulan Indonesia," kata Sugeng.

Lebih lanjut, Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Erwin Haryono, menyampaikan bahwa pengambil kebijakan di Indonesia harus tepat dalam memberikan respons yang memadai dalam menghadapi disrupsi berupa perkembangan digitalisasi agar tetap berkembang dan mendukung perekonomian secara keseluruhan.

"Inisiatif-inisiatif yang sedang dilakukan Bank Indonesia disusun untuk mendukung perkembangan ekonomi digital tersebut," kata Erwin.

Sementara itu, hal senada juga disampaikan Deputi Komisioner OJK Institute dan Keuangan Digital OJK Sukarela Batunanggar, yang menyampaikan bahwa pelaku industri, teknologi finansial (fintech), dan perbankan harus adaptif dalam merespons tantangan ekonomi digital.

"Perlu dilakukan inovasi terkait ekonomi digital karena terdapat peluang berupa ruang pertumbuhan yang sangat besar," ujar Sukarela. [yy/republika]

 

head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
2007 ~ 2020  |  Copyright  Fiqhislam.com  |  Design by JoomlaShine