8 Syawal 1441  |  Minggu 31 Mei 2020

Bahkan, perusahaan teknologi yang digadang-gadang bakal menjadi bagian penting masa depan ekonomi pun tidak lepas dari isu PHK. Yang terbaru adalah Hewlett-Packard (HP) Company yang menyatakan akan mem-PHK 9.000 karyawannya di seluruh unit bisnis.

Sebelumnya, di industri keuangan, perbankan Jerman Deutsche Bank (DB) Juli lalu memecat 18.000 karyawan di seluruh unit internasional, terutama di London dan New York, setelah mundur dari bisnis ekuitas. Selain itu, perbankan lainnya Commerzbank juga akan mengeliminasi 4.300 pekerjanya sebagai imbas dari program restrukturisasi yang sudah dilakukan sejak tiga tahun silam.

Selain kedua raksasa perbankan itu, sejumlah institusi keuangan di Eropa juga dikabarkan melakukan PHK massal dengan berbagai alasan. Mereka adalah Banco Santander, Commerzbank, HSBC, Barclays, Alfa Bank, KBC, Societe Generale, Caixabank, dan Bank Nasional Yunani. Laporan Bloomberg bahkan menyebutkan, total jumlah PHK massal di industri keuangan mencapai 60.000 pekerja. (lihat info grafis)

KBC dalam pernyataannya menyebutkan, PHK yang dilakukan dalam tiga tahun ke depan adalah langkah yang harus dilakukan karena perusahaan memiliki pilihan lain.

“Banyak faktor yang dapat menghalangi sentimen dan pertumbuhan ekonomi di Eropa dan dunia, termasuk di antaranya eskalasi perang dagang, Brexit, dan kisruh politik di sejumlah negara Eropa,” ungkap KBC dalam pernyataannya yang disampaikan kepada analis.

Apa yang disampaikan perusahaan-perusahaan global itu sejalan dengan proyeksi sejumlah lembaga internasional yang memperkirakan penurunan pertumbuhan ekonomi globa. Yang terbaru Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia dari dari sebelumnya 3,2% menjadi hanya 2,9% di 2019. Dana moneter internasional (IMF) pada Juli lalu juga menurunkan prospek pertumbuhan ekonomi dunia menjadi hanya 3,2% dari sebelumnya 3,3%.

Sementara itu, berdasarkan dokumen yang diserahkan kepada Komisi Bursa Saham dan Sekuritas Amerika Serikat (AS), HP mempekerjakan sebanyak 55.000 karyawan di seluruh dunia sampai Oktober 2018. Artinya, HP akan kehilangan jajaran karyawan sekitar 16%. Keputusan ini diambil HP secara terpaksa untuk membangun ulang bisnis.

“Kami mengambil keputusan yang berani dan tegas untuk memulai era baru,” ujar calon Chief Executive Officer (CEO) baru HP, Enrique Lores, dikutip Aljazeera kemarin.

“Kami melihat peluang yang signifikan untuk menciptakan nilai baru saham dan akan mencapainya dengan memajukan kepemimpinan dan budaya kerja di sini,” katanya.

Lores akan mengambil alih posisi CEO dari Dion Weisler pada 1 November mendatang. Weisler lengser dari jabatannya atas alasan kesehatan dan keluarga. Di bawah kepemimpinannya, HP menyiapkan dana sebesar USD5 miliar (Rp70,7 triliun) untuk membeli kembali saham yang anjlok sekitar 10% pada akhir Kamis (3/11).

HP menelan kerugian setelah bisnis printer yang menjadi sumber pendapatan utama melesu. Korporasi yang didirikan pada 1939 tersebut mengubah haluan dan akan fokus pada layanan jasa. HP juga akan menaikkan harga printer yang dapat digunakan tanpa kartrid tinta HP dan berharap meraup Rp42 triliun pada 2020.

HP bukanlah satu-satunya perusahaan besar yang melakukan restrukturisasi. Perusahaan teknologi komunikasi Verizon Wireles yang juga memecat 44.000 orang, Toys”R”Us 30.000 orang, Wells Fargo 26.500 orang, General Motors 14.700 orang, AT&T 4.000 orang, Kimberly-Clark 5.500 orang, Comcast 500 orang, Harley-Davidson 800 orang, Citi Group ratusan orang, dan British American Tobacco sebanyak 2.300 orang. [yy/sindonews]

 

head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
2007 ~ 2020  |  Copyright  Fiqhislam.com  |  Design by JoomlaShine