8 Syawal 1441  |  Minggu 31 Mei 2020

"Lebih dari 60 juta masyarakat Indonesia memiliki smartphone. Dengan sumber daya ini, tidaklah heran kalau dalam waktu cepat Indonesia sudah punya empat unicorn, dan menjadi terbanyak di ASEAN. Kami optimistis sampai tahun 2024 akan lahir dua unicorn lagi di Indonesia," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Jakarta, Sabtu (5/10/2019).

Airlangga menyebutkan, melalui penerapan ekonomi digital, diproyeksi mampu mendorong peningkatan pada pertumbuhan ekonomi hingga 1%-2%, penyerapan tenaga kerja lebih dari 10 juta orang, dan kontribusi industri manufaktur sebesar 25% terhadap PDB nasional. Hal ini sesuai dengan target yang terdapat dalam peta jalan Making Indonesia 4.0.

Oleh karena itu, dipilih pula sektor-sektor andalan yang mampu memberikan dampak besar dalam implementasi industri 4.0 di Indonesia. "Telah dipilih lima sektor yang menjadi prioritas, yaitu industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, elektronik serta kimia-biokimia," sebutnya.

Menurut Airlangga, dalam peta jalan implementasi Industri 4.0 tersebut, telah dipersiapkan berbagai inisiatif strategis untuk masing masing sektor prioritas. “Kemudian, telah ditunjuk lighthouse atau pabrik percontohan bagi penerapan industri 4.0 yang sudah menggunakan artificial intelligence (AI) dan internet of things (IoT), antara lain Schneider di Batam dan Petrosea di Tangerang, Banten," ujarnya.

Airlangga mengungkapkan, berdasarkan studi McKinsey, didorongnya ekonomi digital, Indonesia akan membutuhkan 17 juta tenaga kerja yang melek digital, dengan komposisi 30% di industri manufaktur dan 70% di industri penunjang. Sehingga, nantinya mendorong tambahan ekonomi sebesar USD150 miliar kepada ekonomi Indonesia.

"Inilah yang didorong agar kesempatan sebesar USD150 dalam bentuk ekonomi digital itu dimanfaatkan oleh tenaga kerja dan masyarakat Indonesia. Bisnis ini ada di Indonesia tergantung bagaimana kita memanfaatkannya," tegasnya.

Airlangga menuturkan, dalam memaksimalkan potensi digital ekonomi di Tanah Air, Kemenperin juga mendorong startup atau perusahaan rintisan agar mereka mampu mengembangkan Industri Kecil Menengah (IKM) di Tanah Air.

Merujuk pada laporan Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia (MIKTI), dalam Mapping & Database Startup Indonesia 2018, bahwa jumlah startup di Indonesia pada 2018 mencapai 992 startup. Dari jumlah tersebut, tidak sedikit yang merupakan technology provider menghasilkan teknologi digital aplikatif dan solutif bagi Industri Kecil Menengah (IKM).

"Tentunya startup tersebut akan bisa dimanfaatkan di lini manajerial, produksi, maupun pemasaran. Karena itu, keberadaan startup menjadi hal penting dalam akselerasi transformasi digital IKM melalui penerapan teknologi digital hasil inovasi startup teknologi," ungkapnya.

Airlangga menambahkan, Kemenperin juga senantiasa mendukung IKM dalam menyiapkan diri untuk melakukan transformasi digital, serta mendorong startupteknologi untuk lebih banyak lagi hadir dalam memberikan inovasi teknologi yang tepat kepada IKM.

"Kemudian dunia industri memanggil para akademisi, peneliti, startup, science techno park, untuk bersama-sama membangun industri kecil dan menengah lebih berkelas melalui program startup 4 industry," tandasnya. [yy/republika]

"Lebih dari 60 juta masyarakat Indonesia memiliki smartphone. Dengan sumber daya ini, tidaklah heran kalau dalam waktu cepat Indonesia sudah punya empat unicorn, dan menjadi terbanyak di ASEAN. Kami optimistis sampai tahun 2024 akan lahir dua unicorn lagi di Indonesia," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Jakarta, Sabtu (5/10/2019).

Airlangga menyebutkan, melalui penerapan ekonomi digital, diproyeksi mampu mendorong peningkatan pada pertumbuhan ekonomi hingga 1%-2%, penyerapan tenaga kerja lebih dari 10 juta orang, dan kontribusi industri manufaktur sebesar 25% terhadap PDB nasional. Hal ini sesuai dengan target yang terdapat dalam peta jalan Making Indonesia 4.0.

Oleh karena itu, dipilih pula sektor-sektor andalan yang mampu memberikan dampak besar dalam implementasi industri 4.0 di Indonesia. "Telah dipilih lima sektor yang menjadi prioritas, yaitu industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, elektronik serta kimia-biokimia," sebutnya.

Menurut Airlangga, dalam peta jalan implementasi Industri 4.0 tersebut, telah dipersiapkan berbagai inisiatif strategis untuk masing masing sektor prioritas. “Kemudian, telah ditunjuk lighthouse atau pabrik percontohan bagi penerapan industri 4.0 yang sudah menggunakan artificial intelligence (AI) dan internet of things (IoT), antara lain Schneider di Batam dan Petrosea di Tangerang, Banten," ujarnya.

Airlangga mengungkapkan, berdasarkan studi McKinsey, didorongnya ekonomi digital, Indonesia akan membutuhkan 17 juta tenaga kerja yang melek digital, dengan komposisi 30% di industri manufaktur dan 70% di industri penunjang. Sehingga, nantinya mendorong tambahan ekonomi sebesar USD150 miliar kepada ekonomi Indonesia.

"Inilah yang didorong agar kesempatan sebesar USD150 dalam bentuk ekonomi digital itu dimanfaatkan oleh tenaga kerja dan masyarakat Indonesia. Bisnis ini ada di Indonesia tergantung bagaimana kita memanfaatkannya," tegasnya.

Airlangga menuturkan, dalam memaksimalkan potensi digital ekonomi di Tanah Air, Kemenperin juga mendorong startup atau perusahaan rintisan agar mereka mampu mengembangkan Industri Kecil Menengah (IKM) di Tanah Air.

Merujuk pada laporan Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia (MIKTI), dalam Mapping & Database Startup Indonesia 2018, bahwa jumlah startup di Indonesia pada 2018 mencapai 992 startup. Dari jumlah tersebut, tidak sedikit yang merupakan technology provider menghasilkan teknologi digital aplikatif dan solutif bagi Industri Kecil Menengah (IKM).

"Tentunya startup tersebut akan bisa dimanfaatkan di lini manajerial, produksi, maupun pemasaran. Karena itu, keberadaan startup menjadi hal penting dalam akselerasi transformasi digital IKM melalui penerapan teknologi digital hasil inovasi startup teknologi," ungkapnya.

Airlangga menambahkan, Kemenperin juga senantiasa mendukung IKM dalam menyiapkan diri untuk melakukan transformasi digital, serta mendorong startupteknologi untuk lebih banyak lagi hadir dalam memberikan inovasi teknologi yang tepat kepada IKM.

"Kemudian dunia industri memanggil para akademisi, peneliti, startup, science techno park, untuk bersama-sama membangun industri kecil dan menengah lebih berkelas melalui program startup 4 industry," tandasnya. [yy/republika]

Riset Google: Indonesia dan Vietnam Bersaing Ketat soal Ekonomi Digital

Riset Google: Indonesia dan Vietnam Bersaing Ketat soal Ekonomi Digital


Fiqhislam.com - Google menyebut Indonesia dan Vietnam kini bersaing ketat di Asia Tenggara untuk urusan ekonomi digital. Kedua negara ini mencatatkan pertumbuhan yang tinggi.

Dalam riset terbaru Google dan Temasek bertajuk "The e-Conomy SEA 2019", Indonesia masih memimpin di ASEAN. Pada 2019, nilai ekonomi digital di Indonesia mencapai 40 miliar dolar AS, tumbuh lebih dari empat kali lipat dibandingkan 2015.

Kencangnya pertumbuhan ekonomi digital Indonesia, menurut Google, didorong persaingan ketat di sektor e-commerce (Tokopedia, Shopee, Bukalapak, Lazada, dan lain-lain) serta dan ride-hailing (Grab dan Gojek).

"Semua sektor juga ikut kecipratan dari tumbuhnya bisnis pembayaran digital," tulis Google, Minggu (6/10/2019),

Google juga mencatat nilai investasi ekonomi digital di Indonesia juga masih cukup besar. Meskipun kuantitas pendanaannya makin sedikit, nilai untuk setiap pendanaan justru membesar. Google memprediksi nilai investasi ekonomi digital tahun ini akan menyamai rekor tahun lalu sebesar 4 miliar dolar AS.

"Seri pendanaan jumbo telah diperoleh dari unicorn asal Indonesia seperti Bukalapak, Gojek, Tokopedia, dan Traveloka. Grab (Singapura) juga telah mengumumkan komitmen investasi miliaran dolar AS dalam beberapa tahun ke depan di negara tersebut," tulis Google.

Sementara itu ekonomi digital di Vietnam juga terus melaju kencang. Meski porsinya lebih kecil daripada Indonesia, pertumbuhannya lebih cepat, bahkan yang tercepat di Asia Tenggara.

Pada tahun ini, nilai ekonomi digital Vietnam mencapai 12 miliar dolar AS dengan laju pertumbuhan rata-rata 38 persen sejak 2015. Bahkan, transaksi ekonomi digital di Vietnam menyumbang 5 persen PDB 2019.

"E-commerce menjadi kunci utama di balik angka-angka luar biasa tersebut yang mana marketplace lokal seperti Sendo dan Tiki bersaing ketat dengan pemain regional seperti Lazada dan Shopee," tulis Google.

Pertumbuhan ekonomi digital Vietnam juga ditopang oleh indeks keyakinan investor yang berada di posisi ketiga setelah Indonesia dan Singapura. Dalam empat tahun terakhir, ekonomi digital Vietnam menarik investasi hampir 1 miliar dolar AS.

Fakta ekonomi digital Indonesia dan Vietnam:

INDONESIA

1. Pengguna internet: 152 juta (2019) vs 92 juta (2015)

2. Nilai transaksi ekonomi digital: 40 miliar dolar AS (2019) vs 8 miliar dolar AS (2015

3. Pendanaan sektor ekonomi digital: 4 miliar dolar AS (2019) vs 1,2 miliar dolar AS (2015)

VIETNAM

1. Pengguna internet: 61 juta (2019) vs 44 juta (2015)

2. Nilai transaksi ekonomi digital: 12 miliar dolar AS (2019) vs 3 miliar dolar AS

4. Pendanaan sektor ekonomi digital: 1 miliar dolar (2019) vs 160 juta dolar AS (2015). [yy/iNews]

 

head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
2007 ~ 2020  |  Copyright  Fiqhislam.com  |  Design by JoomlaShine