8 Syawal 1441  |  Minggu 31 Mei 2020

Ia mencontohkan, di luar negeri biaya proses sertifikasi produk halal dihitung per satuan. Misalnya, daging 10 ton dihitung per satu kilogramnya. Sedangkan Indonesia biayanya dihitung sekaligus.

"Enggak bisa dibandingkan, antara langit dan bumi. Rata-rata biaya sertifikasi halal di kita itu Rp2.500.000," ujar Osmena.

Ia menambahkan, biaya sertifikasi di Indonesia bisa murah karena orientasinya bukan bisnis. Kata Osmena, sertifikat halal dikeluarkan semata-mata menjaga muslim dari produk haram.

"Karena begini, kan sertifikasi halal itu intinya bagaimana kita menentramkan umat. Kita tidak berlaku bisnis, kalau di luar negeri kan pada umumnya mereka pengusaha yang melaksanakan sertifikasi halal. Jadi mereka berpikirnya bisnis," tuturnya.

Sementara itu pada mulanya proses sertifikasi halal dilakukan oleh MUI tanpa dukungan pemerintah. Namun mulai Oktober ini MUI dan Kemenang melalui Badang Penyelenggara Produk Jaminan Halal (BPJH) berbagi peran.

Berdasarkan UU JPH, prosedur penerbiatan sertifikat halal dimulai dengan pengajuan produk ke BPJH Kemenag. Kemudian permohonan tersebut akan diberikan kepada Lembaga Pemeriksa Halal (LPH).

LPH sendiri diisi oleh LPPOK MUI. Setelah di proses di LPPOK MUI, kemudian diajukan kembali ke BPJPH untuk diverifikasi dan dibawa lagi ke MUI untuk sidang halal. Selanjutnya, proses kembali ke ke BPJPH untuk penerbitan sertifikat halal. [yy/republika]

 

head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
2007 ~ 2020  |  Copyright  Fiqhislam.com  |  Design by JoomlaShine