4 Syawal 1441  |  Rabu 27 Mei 2020

Dilansir di Reuters, Senin (16/9), penjualan ritel dan pertumbuhan investasi juga memburuk. Ini memperkuat kemungkinan Cina akan memangkas suku bunga utama pada pekan ini guna mencegah penurunan lebih tajam pada kegiatan industri.

Apabila benar terjadi, kebijakan tersebut akan dilakukan Cina untuk pertama kalinya sejak lebih dari tiga tahun terakhir. Ekonomi Cina belum menunjukkan kondisi stabil meskipun sudah ada beberapa upaya peningkatan pertumbuhan sejak tahun lalu.

Para analis mengatakan, upaya itu belum efetif. Beijing perlu mengeluarkan lebih banyak stimulus untuk menangkal perlambatan yang lebih tajam.

Pertumbuhan output industri secara tidak terduga melemah menjadi 4,4 persen pada Agustus 2019 dibanding dengan periode yang sama pada tahun lalu. Laju ini menjadi paling lambat sejak Februari 2002 dan menurun dibanding dengan pertumbuhan Juli, 4,8 persen.

Tren tersebut lebih rendah dibanding dengan proyeksi para analis yang disurvei Reuters. Mereka memperkirakan akan terjadi pertumbuhan sampai 5,2 persen.

Lebih detail, nilai ekspor di industri juga turun 4,3 persen dibanding dengan tahun lalu. Berdasarkan catatan Reuters, ini menjadi penurunan bulanan pertama sejak setidaknya dua tahun lalu. Tren tersebut mencerminkan dampak yang lebih dalam akibat perang dagang antara Cina dengan AS terhadap produsen Cina.

Perang dagang yang berkepanjangan sedang mengalami tensi meningkat secara dramatis pada bulan lalu. Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif baru untuk barang-barang Cina mulai 1 September. Beberapa hari kemudian, Cina membiarkan mata uang yuan melemah tajam.

Kedua belah pihak berencana melakukan negosiasi tatap muka pada awal Oktober. Tapi, sebagian besar analis memprediksi, pertemuan tersebut tidak akan menghasilkan kesepakatan perdagangan bersifat jangka panjang. Atau, dalam waktu dekat, diproyeksikan tidak akan ada penurunan tensi antar kedua negara.

Untuk mengantisipasi dampak yang semakin dalam, dunia usaha mengharapkan bank sentral dapat menurunkan suku bunga fasilitas pinjaman jangka menengah (medium term loan facility rate/MLF) secepatnya. Ini akan membuka jalan bagi pengurangan tingkat suku bunga acuan (loan prime benchmark rate/LPR).

Beberapa analis mengatakan, dalam beberapa pekan terakhir, pertumbuhan ekonomi Cina sudah menyentuh batas bawah, 6-6,5 persen. Pada kuartal kedua kemarin, pertumbuhan hanya mencapai 6,2 persen, terlemah dalam kurun waktu tiga dekade.

Kepala ekonom Cina di Nomura, Ting Lu, memperkirakan pertumbuhan industri masih akan melambat pada September. Faktor utamanya, kampanye anti polusi pada sebelum dan selama peringatan berdirinya Republik Rakyat China pada 1 Oktober mendatang. [yy/republika]

Dilansir di Reuters, Senin (16/9), penjualan ritel dan pertumbuhan investasi juga memburuk. Ini memperkuat kemungkinan Cina akan memangkas suku bunga utama pada pekan ini guna mencegah penurunan lebih tajam pada kegiatan industri.

Apabila benar terjadi, kebijakan tersebut akan dilakukan Cina untuk pertama kalinya sejak lebih dari tiga tahun terakhir. Ekonomi Cina belum menunjukkan kondisi stabil meskipun sudah ada beberapa upaya peningkatan pertumbuhan sejak tahun lalu.

Para analis mengatakan, upaya itu belum efetif. Beijing perlu mengeluarkan lebih banyak stimulus untuk menangkal perlambatan yang lebih tajam.

Pertumbuhan output industri secara tidak terduga melemah menjadi 4,4 persen pada Agustus 2019 dibanding dengan periode yang sama pada tahun lalu. Laju ini menjadi paling lambat sejak Februari 2002 dan menurun dibanding dengan pertumbuhan Juli, 4,8 persen.

Tren tersebut lebih rendah dibanding dengan proyeksi para analis yang disurvei Reuters. Mereka memperkirakan akan terjadi pertumbuhan sampai 5,2 persen.

Lebih detail, nilai ekspor di industri juga turun 4,3 persen dibanding dengan tahun lalu. Berdasarkan catatan Reuters, ini menjadi penurunan bulanan pertama sejak setidaknya dua tahun lalu. Tren tersebut mencerminkan dampak yang lebih dalam akibat perang dagang antara Cina dengan AS terhadap produsen Cina.

Perang dagang yang berkepanjangan sedang mengalami tensi meningkat secara dramatis pada bulan lalu. Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif baru untuk barang-barang Cina mulai 1 September. Beberapa hari kemudian, Cina membiarkan mata uang yuan melemah tajam.

Kedua belah pihak berencana melakukan negosiasi tatap muka pada awal Oktober. Tapi, sebagian besar analis memprediksi, pertemuan tersebut tidak akan menghasilkan kesepakatan perdagangan bersifat jangka panjang. Atau, dalam waktu dekat, diproyeksikan tidak akan ada penurunan tensi antar kedua negara.

Untuk mengantisipasi dampak yang semakin dalam, dunia usaha mengharapkan bank sentral dapat menurunkan suku bunga fasilitas pinjaman jangka menengah (medium term loan facility rate/MLF) secepatnya. Ini akan membuka jalan bagi pengurangan tingkat suku bunga acuan (loan prime benchmark rate/LPR).

Beberapa analis mengatakan, dalam beberapa pekan terakhir, pertumbuhan ekonomi Cina sudah menyentuh batas bawah, 6-6,5 persen. Pada kuartal kedua kemarin, pertumbuhan hanya mencapai 6,2 persen, terlemah dalam kurun waktu tiga dekade.

Kepala ekonom Cina di Nomura, Ting Lu, memperkirakan pertumbuhan industri masih akan melambat pada September. Faktor utamanya, kampanye anti polusi pada sebelum dan selama peringatan berdirinya Republik Rakyat China pada 1 Oktober mendatang. [yy/republika]

IMF: Perang Tarif China-AS Berpotensi Pangkas GDP Global

IMF: Perang Tarif China-AS Berpotensi Pangkas GDP Global


Fiqhislam.com - Perang tarif yang terus terjadi antara Amerika Serikat (AS) dengan China berpotensi mengurangi 0,8 persen dari output ekonomi global atau Growth Domestic Product (GDP) pada tahun depan dan memicu kerugian tambahan di tahun-tahun mendatang. Proyeksi ini disampaikan International Monetary Fund (IMF), Kamis (12/9) lalu.

Perkiraan tersebut lebih 'suram' dibanding dengan proyeksi IMF awal tahun. Saat itu, lembaga pinjaman internasional itu memperhitungkan, perang tarif yang sudah diberlakukan maupun akan dilakukan kedua negara dapat memotong 0,5 persen dari output ekonomi global pada 2020.

Juru bicara IMF Gerry Rice mengatakan, ketegangan perdagangan mulai mempengaruhi ekonomi dunia yang sebelumnya sudah menghadapi berbagai tantangan. Di antaranya, pelemahan aktivitas manufaktur yang tidak mengalami perbaikan sejak krisis keuangan global pada 2007-2008.

Dalam konferensi pers, Rice mengatakan, IMF akan segera merilis prospek ekonomi baru yang direvisi pada bulan depan. Tapi, dilansir di Reuters, Kamis, Rice masih belum menyebutkan rincian revisi yang dimaksud.

Hanya saja, Rice menyebutkan, laju aktivitas ekonomi dunia tetap terlihat tenang. Kondisi ini terjadi di tengah peningkatan ketegangan geopolitik dan perdagangan yang menyebabkan ketidakpastian dan mengikis kepercayaan bisnis maupun investasi.

Sebelumnya, IMF sempat meramalkan bahwa perang dagang AS-Cina dan perselisihan dagang lainnya mengancam pertumbuhan global di masa depan. Tapi, nyatanya, dampak tersebut kini sudah mulai terasa. "Ketegangan perdagangan bukan hanya ancaman, tapi mulai membebani dinamika ekonomi global," kata Rice.

Sampai saat ini, Rice menekankan, IMF juga tidak pernah meramalkan akan terjadinya kondisi resesi global. Pernyataan ini disampaikan Rice meski IMF sempat menggunakan kata-kata seperti 'sangat berbahaya' dan 'sangat rapuh' untuk menggambarkan prospek ekonomi.

Rice berharap agar para pihak tidak membuat keputusan sendiri terlebih dahulu. "Mari kita tunggu dan lihat," tuturnya. [yy/republika]

 

head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
2007 ~ 2020  |  Copyright  Fiqhislam.com  |  Design by JoomlaShine