4 Syawal 1441  |  Rabu 27 Mei 2020

"Ada pertumbuhan yang uneven. Ada perbedaan pertumbuhan satu negara versus the rest of the world," kata Dody di Nusa Dua, Bali pada Selasa (9/10). 

Untuk diketahui, Dana Moneter Internasional (IMF) mengoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia dari 3,9 persen menjadi 3,7 persen pada tahun ini. Saat ini, kata Dody, kondisi perekonomian global menghadapi tekanan ke bawah. Hal itu terasa tidak hanya di negara dengan kondisi fundamental lemah tapi juga termasuk negara-negara maju di Eropa dan Asia. 

Kecenderungan tersebut mempengaruhi perdagangan dunia lantaran sisi permintaan akan menurun. Hal itu juga akan mempengaruhi harga komoditas dan berdampak pada perekonomian negara berkembang termasuk Indonesia. 

IMF pun memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mencapai 5,1 persen pada tahun ini. "Tapi 5,1 persen dalam perhitungan mereka itu cukup baik karena masih dalam kisaran di atas lima persen," kata Dody.

Faktor risiko tersebut, kata Dody juga sudah diproyeksi oleh BI. Oleh karena itu, BI memproyeksi pertumbuhan ekonomi pada tahun ini akan mencapai 5,2 persen. Hal itu sejalan pula dengan proyeksi pemerintah. 

Meski begitu, proyeksi baik dari pemerintah dan BI berada di bawah target pertumbuhan ekonomi dalam APBN 2018 yang sebesar 5,4 persen. "Ketika Gubernur (Gubernur BI Perry Warjiyo) mengeluarkan satu angka itu sebenarnya sudah menghitung risiko ke depan. Kita lihat faktor globalnya sama," kata Dody. [yy/republika]

"Ada pertumbuhan yang uneven. Ada perbedaan pertumbuhan satu negara versus the rest of the world," kata Dody di Nusa Dua, Bali pada Selasa (9/10). 

Untuk diketahui, Dana Moneter Internasional (IMF) mengoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia dari 3,9 persen menjadi 3,7 persen pada tahun ini. Saat ini, kata Dody, kondisi perekonomian global menghadapi tekanan ke bawah. Hal itu terasa tidak hanya di negara dengan kondisi fundamental lemah tapi juga termasuk negara-negara maju di Eropa dan Asia. 

Kecenderungan tersebut mempengaruhi perdagangan dunia lantaran sisi permintaan akan menurun. Hal itu juga akan mempengaruhi harga komoditas dan berdampak pada perekonomian negara berkembang termasuk Indonesia. 

IMF pun memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mencapai 5,1 persen pada tahun ini. "Tapi 5,1 persen dalam perhitungan mereka itu cukup baik karena masih dalam kisaran di atas lima persen," kata Dody.

Faktor risiko tersebut, kata Dody juga sudah diproyeksi oleh BI. Oleh karena itu, BI memproyeksi pertumbuhan ekonomi pada tahun ini akan mencapai 5,2 persen. Hal itu sejalan pula dengan proyeksi pemerintah. 

Meski begitu, proyeksi baik dari pemerintah dan BI berada di bawah target pertumbuhan ekonomi dalam APBN 2018 yang sebesar 5,4 persen. "Ketika Gubernur (Gubernur BI Perry Warjiyo) mengeluarkan satu angka itu sebenarnya sudah menghitung risiko ke depan. Kita lihat faktor globalnya sama," kata Dody. [yy/republika]

IMF: Pertumbuhan Ekonomi Global Stagnan

IMF: Pertumbuhan Ekonomi Global Stagnan


IMF: Pertumbuhan Ekonomi Global Stagnan


Fiqhislam.com - Laporan World Economic Outlook Dana Moneter Internasional (IMF) terbaru memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global tahun ini stagnan di level 3,7 persen. Lembaga ekonomi terbesar di dunia ini juga merevisi proyeksi ekonomi global 2019 dari 3,9 persen menjadi 3,7 persen.

"Pertumbuhan 2019 cenderung melambat 0,2 persen. IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia tahun depan masih 3,7 persen," kata ekonom sekaligus Direktur Departemen Penelitian IMF, Maurice Obstfeld di Medan Room, Hotel Westin, Nusa Dua, Selasa (9/10).

Lebih lanjut Obstfeld memaparkan pertumbuhan ekonomi negara-negara maju, khususnya Amerika Serikat (AS) dan Cina ikut terkoreksi ke bawah. IMF memperkirakan ekonomi AS hanya bertumbuh 2,9 persen (2018) dan 2,5 persen (2019), sementara Cina 6,6 persen (2018) dan 6,2 persen (2019).

AS yang mendukung paket fiskal kenaikan suku bunga sempat mengalami penguatan ekonomi tahun ini. Namun, IMF dalam hal ini tetap menurunkan proyeksi ekonomi AS 2019 didorong ancaman kebijakan balasan yang akan diberlakukan Cina jika AS memberlakukan tarif impor baru.

IMF juga memperkirakan pertumbuhan Cina tahun depan melandai. Ini didorong kebijakan Cina yang cenderung mencegah penurunan pertumbuhan lebih besar dari yang diproyeksikan.

"Secara keseluruhan, dibanding enam bulan lalu, proyeksi pertumbuhan ekonomi negara-negara maju 2018-2019 0,1 persen lebih rendah, termasuk penurunan peringkat euro, Inggris Raya, dan Korea," kata Obstfeld.

Revisi negatif lebih dalam terjadi pada negara-negara berkembang, termasuk Amerika Latin (Argentina, Brasil, dan Meksiko), Eropa (Turki), Asia Selatan (India), Asia Tenggara (Indonesia dan Malaysia), Timur Tengah (Iran), dan Afrika Selatan. IMF merevisi penurunan proyeksi ekonomi negara-negara tersebut -0,2 poin tahun ini dan -0,4 poin tahun depan.

Dampak dari kebijakan dagang, seperti yang diberlakukan AS dan Cina menimbulkan ketidakpastian makroekonomi. Ketidakstabilan politik di beberapa negara memperparah risiko lebih lanjut.

Pemerintah, kata Obstfeld perlu menyiapkan amunisi fiskal dan moneter lebih banyak dibanding krisis keuangan global 10 tahun lalu. Pemerintah juga perlu membangun batasan fiskal dan meningkatkan ketahanan ekonominya dengan berbagai cara, termasuk meningkatkan regulasi keuangan, memberlakukan reformasi struktural, dan memperluas pasar, dan tenaga kerja.

"Pertumbuhan inklusif lebih penting," katanya. [yy/republika]

 

head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
head.jpg
2007 ~ 2020  |  Copyright  Fiqhislam.com  |  Design by JoomlaShine